Uncategorized

Menikmati Peran dengan Bahagia

“Apa yang membuat kamu yakin saat memilih menjadi ibu rumah tangga?”

Pertanyaan tersebut seringkali datang kepadaku dari teman-teman terdekat. Mereka skeptis dengan pilihanku untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga.

Saat masih muda, aku dikenal sebagai pribadi yang aktif. Semasa berkuliah, aku mengikuti beberapa kegiatan di kampus seperti bergabung di Pers Mahasiswa dan Badan Eksekutif Mahasiswa, menjadi asisten praktikum, bekerja paruh waktu sebagai guru les siswa Sekolah Dasar, dan menjadi relawan pengajar paket C untuk anak-anak yang putus sekolah. Saat bekerja, aku memiliki beberapa kegiatan di luar pekerjaan. Aku menjadi relawan di komunitas Indonesia Menyala dan Special Olympics Indonesia (SOINA), serta bergabung di komunitas public speaking Toastmasters International. 

Melihat banyaknya kegiatan yang aku ikuti, tak heran jika teman-teman sering mempertanyakan keputusanku tersebut. 

Keinginanku menjadi ibu rumah tangga muncul sebelum aku menikah. Alasanku sangat personal. Suatu hari aku hadir di sebuah kajian ilmu di Masjid Agung Al-Azhar dengan pemateri Ustadz Nuzul Dzikri. Ada salah satu kalimat beliau yang sangat berkesan.

“Seandainya seorang anak belajar mengenal agama pertama kali dari ibunya, maka sang ibu akan terus mendapatkan aliran pahala sepanjang anak-anak mengamalkannya.”

-Ustadz Nuzul Dzikri-

Saat mendengar kalimat tersebut, aku membayangkan betapa nikmatnya jika kelak aku dapat mendidik dan membesarkan anak-anak dengan tanganku sendiri. Sejak saat itu, aku selalu terbayang bahwa suatu saat nanti aku akan menjadi ibu rumah tangga.

Dilema

design by atta

Tahun 2018 anak pertama kami lahir. Aku dan suami bersepakat untuk tidak merepotkan kedua orang tua kami dalam proses pengasuhan anak. Akhirnya aku memutuskan berhenti bekerja dan fokus mengasuh buah hati kami.

Setiap perempuan yang memutuskan berhenti bekerja dan memilih menjadi ibu rumah tangga pasti mengalami masa transisi yang tak mudah. Begitupun denganku. Aku mengalami masa transisi yang cukup panjang, mulai dari perubahan rutinitas, emosi yang tak stabil, hingga rendahnya penerimaan diri yang perlahan mengikis rasa percaya diriku.  

Awalnya aku berpikir betapa menyenangkannya menikmati waktu bersama sang buah hati sepanjang hari. Semakin lama aku mulai merasa bosan, jenuh, dan mati gaya menemani anak seharian. Sebagai sesama ibu, teman-teman mungkin bisa membayangkan bagaimana rasanya berinteraksi dengan anak selama 7/24 jam. Aku seperti sedang naik roller coaster karena emosiku naik turun, mulai dari excited, bahagia, kecewa, marah, lalu menyesal.  

Saat emosi tidak stabil, aku sering berkecil hati dan meratapi pilihanku sebagai ibu rumah tangga. Tak jarang aku merasa dilema ingin kembali bekerja di ranah publik. Namun, hati kecilku selalu menolaknya.

Seiring berjalannya waktu, aku percaya bahwa saat kita tidak nyaman terhadap situasi tertentu, seluruh tubuh kita akan bekerjasama untuk menemukan jalan keluarnya. 

Aku memiliki kesempatan untuk berkenalan lagi dengan diri sendiri

design by atta

Setahun kemudian aku bertemu dengan Komunitas Ibu Profesional (IP). Aku mulai memiliki pandangan baru tentang peran ibu rumah tangga. Alangkah baiknya jika seorang ibu rumah tangga memiliki visi-misi dalam hidupnya, terus belajar dan berkembang, tetap berkarya dan berdaya. 

Di komunitas ini, aku belajar untuk lebih mengenal diri sendiri. Aku mulai menggali apa yang aku suka, apa yang membuatku bahagia, apa yang ingin aku lakukan, apa yang membuatku tidak nyaman, apa yang membuat rasa percaya diriku berkurang, dsb. 

Selama proses mengenal diri, aku mencoba beberapa hal baru seperti belajar membuat kue, membuat konten di media sosial, menulis jurnal, dsb. Perlahan aku menemukan hal yang aku sukai. Aku juga mulai menyadari hal apa yang membuatku tidak nyaman, yaitu saat aku tidak memiliki kesempatan untuk bersosialisasi dan berkarya.

Saat itu aku membuat self mapping untuk memetakan peranku sebagai ibu rumah tangga, yaitu dengan menjabarkan beberapa aspek berikut:

self mapping
  • Reason – alasan memutuskan menjadi ibu rumah tangga
  • Privilege – apa keistimewaan yang aku miliki sebagai ibu rumah tangga
  • Self discovery – proses menemukan harta karun dalam diri, seperti mengenali kekuatan dan kelemahan diri, belajar manajemen diri, dsb
  • Level up – memetakan skill atau keahlian apa yang ingin aku upgrade
  • Obstacle – mencari tahu kendala atau tantangan yang sering dihadapi saat menjalankan peran 
  • Outcome – memetakan goals yang ingin aku capai

Setelah membuat self mapping, aku memiliki gambaran yang lebih jelas tentang peranku sebagai ibu rumah tangga. Aku melangkah pelan-pelan dan memungut kembali serpihan rasa percaya diriku yang berserakan. Aku belajar berdamai dengan diri sendiri dan menerima peranku sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik. 

Menemukan Ruang Aktualisasi Diri

design by atta

Berdamai dengan diri sendiri membuat langkahku kian terasa ringan. Meski hanya beraktivitas di rumah, aku ingin memiliki ruang aktualisasi diri agar bisa berkarya dan bermanfaat bagi orang lain. 

Aku kembali menekuni hobi lama, menulis blog. Aku membeli nama domain dan membuat blog baru. Selain itu, aku mengikuti beberapa webinar yang membahas seputar dunia blogging seperti optimalisasi Search Engine Optimization (SEO), adsense, dsb.

Menulis blog membuatku merasa lebih berdaya karena memiliki ruang untuk berimajinasi dan berkreasi melalui tulisan. Aku selalu bermimpi ingin menjadi penulis yang dapat menghadirkan karya dari rumah untuk dunia, salah satunya dengan menulis artikel Bahasa Inggris di open platform seperti medium.com. 

Menemukan rumus bahagia

design by atta

Meski telah menemukan kembali rasa percaya diriku dan menemukan ruang aktualisasi dengan menulis blog, aku masih belajar menaklukkan tantangan terbesarku sebagai ibu rumah tangga, yaitu mengelola emosi. Tak bisa dipungkiri, berhadapan dengan anak sepanjang hari membuat emosiku naik turun. Saat jiwa dan ragaku sedang lelah, aku tidak bisa mengontrol emosi dan tanpa sadar mengeluarkan suara bernada tinggi. 

Aku pernah mendengar bahwa ibu yang tidak bekerja cenderung memiliki kondisi emosi yang tidak stabil. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor psikologis yang dialami seorang ibu rumah tangga, seperti perasaan terisolasi, kehilangan tujuan dan identitas, serta kurangnya interaksi sosial. Jika seorang ibu rumah tangga tidak menyadari kondisinya, hal tersebut dapat memicu munculnya stress atau depresi. Tanpa disadari, anak-anak seringkali menjadi tempat pelampiasan emosi negatif kita.

Aku mulai memahami bahwa seorang ibu tidak boleh mengesampingkan kebutuhan emosi dirinya. Kita memiliki beberapa hak waktu yang harus terpenuhi, yaitu:

  • Me time waktu dengan diri sendiri
  • Couple time – waktu bersama pasangan 
  • Social time waktu bersosialisasi 
  • Pray time – waktu dengan Allah SWT 

Aku menyampaikan kepada suamiku tentang hak waktu yang aku butuhkan. Akhirnya kami membuat beberapa penyesuaian, seperti memutuskan untuk menggunakan jasa asisten rumah tangga pulang pergi agar aku memiliki kesempatan untuk melakukan beberapa hal. 

Sebelum Pandemi, suami mengizinkan aku untuk keluar rumah sendiri di hari Jumat. Aku sering menggunakan waktu tersebut untuk pergi ke coffee shop dan menulis, makan siang bersama sahabat, atau sekedar menonton film di bioskop sendirian. 

Dengan terpenuhinya hak waktu tersebut, aku merasa dihargai sebagai seorang individu. Emosiku cenderung lebih mudah terkontrol, sehingga aku dapat memberikan cinta dan kasih sayang kepada keluarga tanpa beban emosi yang belum terselesaikan.

Menikmati Peran dengan Bahagia

design by atta

Tahun ini adalah tahun ketiga aku menjadi ibu yang bekerja di ranah domestik. Bergabung di Komunitas Ibu Profesional membuat pikiranku semakin terbuka bahwa menjadi ibu rumah tangga bukan berarti harus mencurahkan seluruh tenaga dan pikiran kita untuk keluarga. Kita harus mencintai diri sendiri dan memberi ruang bagi diri kita untuk berkembang. Karena seorang ibu yang telah selesai dengan dirinya akan lebih mudah memberikan cinta dan kasih sayang kepada keluarganya.

Semoga di Konferensi Ibu Pembaharu nanti, aku memperoleh suntikan semangat yang dapat memberikan motivasi untuk terus berkarya. Aku seorang ibu rumah tangga, dan aku bangga dengan peranku.

Salam,

At Tachriirotul M.

Bagikan tulisan ini yuk

Leave a Reply

Your email address will not be published.