Article,  Motherhood

Tantangan Mama Masa Kini

Hi mom, tidak seperti zaman kita dulu, anak-anak kita terlahir sebagai generasi digital native. Sejak baru lahir dan masih berusia 0 tahun, mereka sudah berinteraksi dengan teknologi digital meski hanya sekedar berinteraksi jarak jauh dengan keluarga melalui layar ponsel atau saat anggota keluarga merekam ekspresi lucunya dengan gadget.

Kelak saat usianya semakin bertambah, anak-anak akan lebih sering berinteraksi dengan teknologi digital karena tuntutan perkembangan zaman. Sebagai orang tua kita pasti was-was. Namun, kita tidak bisa sepenuhnya menjauhkan anak-anak dari perkembangan teknologi.

Sebagai orang tua, kita harus berupaya untuk membekali diri dengan literasi digital yang terus berkembang, salah satunya dengan mengenali dan memahami beberapa resiko yang dapat menghampiri anak-anak kita di masa yang akan datang.

Kira-kira apa saja ya resiko yang dapat muncul saat kelak anak-anak kita mulai berinteraksi dengan teknologi dan media sosial?

1. Cyberbullying

Design by canva

Cyberbullying adalah sebuah bentuk perundungan yang terjadi di dunia maya, baik itu melalui media sosial, beberapa platform chatting dan platform game online, dsb.

Cyberbullying sangat rentan dihadapi oleh anak-anak usia remaja (usia sekolah) yang mulai memiliki akses terhadap teknologi digital.

Ada banyak sekali bentuk cyberbullying, antara lain:

  • Menyebarkan foto seseorang yang memalukan di media sosial dan menjadikannya bahan ejekan
  • Mengucilkan atau mengecualikan anak tertentu dari game online, serta aktivitas atau percakapan di grup pertemanan
  • Mengirim pesan atau ancaman yang menyakitkan melalui platform chatting atau kolom komentar media sosial

2. Obsesi terhadap Game Online

Design by canva

Bermain game online sebenarnya dapat membantu menstimulasi kecerdasan otak anak-anak. Namun, jika anak-anak sudah terobsesi dan kecanduan dengan game online, maka kita patut memberikan perhatian lebih kepada mereka. Kita patut waspada jika anak-anak sudah mengalami gejala berikut:

  • Memiliki keinginan bermain game setiap waktu
  • Merasa murung, stres, atau marah ketika tidak bisa bermain game
  • Menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermain game tanpa menjalani aktivitas lain, seperti makan, mandi, belajar, dan bermain, dsb

3. Online Grooming

Design by canva

Online grooming dapat membuka akses terhadap pelecehan seksual pada anak-anak. Para pelaku biasanya memanfaatkan teknologi untuk menjalin pertemanan di dunia maya dengan anak-anak (biasanya menggunakan akun palsu) dan membangun kepercayaan dengan tujuan yang merugikan seperti penculikan, perampasan, maupun pelecehan seksual. Biasanya para pelaku memanfaatkan anak-anak usia remaja yang tampak rapuh dan kesepian yang bisa terlihat dari status mereka di media sosial.

Sebagai orang tua, kita perlu membekali anak-anak dengan literasi digital yang baik agar mereka memahami dampak baik dan buru dari penggunaan teknologi digital. Salah satunya dengan mengedukasi agar anak-anak lebih hati-hati dalam menyebarkan informasi pribadinya di media sosial.

4. Obsesi terhadap Pornografi

Design by canva

Ini adalah salah satu online issues yang perlu kita waspadai ya mak. Perkembangan teknologi membuka akses kepada semua orang untuk melihat beragam konten yang disajikan.

Anak-anak yang sudah terpapar pornografi biasanya memiliki beberapa gejala, seperti:

  • Anak cenderung tertutup dan menyukai tempat yang sepi saat mengakses gadget
  • Anak cenderung menghindari percakapan dan interaksi dengan orang lain
  • Anak cenderung memiliki masalah di sekolah seperti sulit mengikuti pelajaran, tertutup dengan guru, dsb

***

Saat mengikuti webinar tentang digital parenting, aku mendapat pandangan baru bahwa sebagai orang tua kita perlu mempersiapkan anak-anak untuk mengenali medan perang yang akan mereka hadapi kelak. Kadang, kita menganggap hal-hal negatif tersebut sebagai sebuah isu yang tabu sehingga memilih untuk menjauhkan anak-anak dari lingkungan buruk dan membuatnya menjadi anak yang steril dari lingkungan tersebut.

Padahal, saat ini kita perlu mempersiapkan anak-anak agar tumbuh dengan imunitas karakter yang kuat di tengah lingkungan yang buruk. Salah satu hal yang dapat kita lakukan adalah memperkuat karakter anak-anak, berdialog secara transparan, dan membangun kepercayaan agar anak-anak merasa nyaman bercerita dengan orang tuanya.

Jika kita terlalu mengekang dan memberi banyak sekali larangan, bisa jadi anak-anak kita hanya menjadi anak yang baik di depan orang tuanya saja. Sedangkan di luar menjadi sebaliknya.

Yuk kita saling mengingatkan untuk menjadi orang tua milenial yang memiliki pikiran terbuka dan terus belajar.

Salam,

At Tachriirotul M

Referensi:

Bagikan tulisan ini yuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *