productivity

Mengatur Waktu Online dengan Tiga Perubahan Kecil

Adzan subuh membangunkanku. Mataku terbuka perlahan, tanganku mulai sibuk meraba samping tempat tidur, mencari benda berbentuk persegi panjang berukuran sekitar 16 x 7 cm. Setelah menemukannya, aku menyalakan benda itu dan melihat jam di layar yang menunjukkan pukul 04.30 WIB, waktu dimana aku harus segera beranjak dari tempat tidur dan mulai beraktivitas. Mataku tiba-tiba tergoda pada icon whatsapp dan facebook, membuat tanganku turut berkompromi untuk memencetnya. 

“Maksimal 10 menit deh sampai 04.40,” ujarku dalam hati.

Aku pun terhanyut membalas chat whatsapp yang sudah mengantri sejak semalam dan menyimak beberapa kabar di beranda facebook. Tanpa disadari waktu sudah beranjak dari batas kesepakatan yang kubuat. Aku terpaku pada layar ponsel tanpa mengenal waktu hingga pukul 05.10 WIB, membuatku menyesal karena terlambat melaksanakan sholat subuh. 

***

Tubuhku seolah bisa mencermati ritme kebiasaanku di pagi hari. Saat pagiku penuh distraksi oleh hingar bingar kabar di layar ponsel, mood-ku bisa jelek seharian dan gak bisa fokus mengerjakan hal-hal yang sudah direncanakan.

Aku menyadari bahwa beradaptasi dengan ponsel pintar memang perlu proses. Pada akhirnya, masing-masing orang akan menemukan ritme yang paling pas untuk diterapkan pada diri sendiri. Kalau kita tidak menetapkan limit waktu berselancar dengan layar ponsel, entah berapa waktu yang kita habiskan untuk membuka kanal berita, scrolling media sosial untuk melihat tren yang lagi ngehit, window shopping di e-commerce, dsb. Padahal, ada banyak kewajiban yang harus kita kerjakan. Ujung-ujungnya kita melakukan prokrastinasi dan menjadi begitu sibuk menjelang deadline.

Selama masa Pandemi ini, aku memutuskan untuk mencari formula yang paling pas dalam mengatur waktu. Aku sudah mencobanya selama beberapa bulan terakhir dan sangat membantu memperbaiki rentang fokus yang selama ini cukup pendek. Ternyata, salah satu sumber distraksi terbesarku adalah waktu online yang berantakan. 

Inilah tiga perubahan kebiasaan yang sangat sederhana dan membuatku cukup nyaman:

1. Membuat target di pagi hari

design with canva

Meski sulit dan sangat menantang, aku berusaha tidak menyentuh ponsel pintar di pagi hari. Sejak membuka mata, aku sengaja meninggalkan ponsel pintar di dalam kamar agar bisa fokus mengerjakan rutinitas pagi. Tak jarang, aku mengalokasikan waktu menulis di pagi hari hingga pukul 06.00 WIB tanpa distraksi layar ponsel. Di rentang waktu itu, aku merasa pikiranku lebih jernih dan ide bisa berdatangan karena suasana rumah masih sepi. 

Setelah itu, aku mulai melakukan kewajiban mengerjakan urusan rumah, menyiapkan kebutuhan anak dan suami, dan menyelesaikan kebutuhan diri sendiri seperti mandi, makan, dan sholat dhuha. Nah, biasanya aku mulai menyentuh ponsel sekitar pukul 09.00 WIB atau setelah semua urusan dan tanggung jawabku selesai.

2. Sesekali melakukan gadget free 

design with canva

Aku sering menerapkan waktu offline di hari minggu. Hal ini cukup manjur untuk mengembalikan mood dan membangkitkan kesadaran diri terhadap hal-hal nyata yang ada di sekitar kita. Aku berupaya mengalihkan waktu online di akhir pekan dengan aktivitas lain seperti membuat kue, membaca koran, berkebun, dan menonton film saat waktu screen time keluarga. 

Selain menerapkan waktu offline, aku sangat sering melakukan detox media sosial terutama instagram. 

3. Menerapkan jam malam

design with canva

Aku mulai menerapkan batas jam online malam dan memperbaiki waktu tidur sekitar enam bulan terakhir. Awalnya aku sering menghabiskan waktu screen time di malam hari setelah anak dan suamiku tidur dengan dalih untuk me time. Padahal saat screen time di malam hari, aku sering lupa waktu dan berujung pada waktu tidur yang terlalu larut. Saat bangun, aku sering merasa kurang fit dan berpengaruh pada mood yang kurang baik.

Sekarang, aku mulai mengikuti jam tidur anak. Pukul 20.00 WIB, saat kami sudah berada di dalam kamar untuk bercerita, membacakan buku, dan persiapan tidur, aku sudah tidak memegang ponsel lagi. 

Knowing your limit, knowing when to stop

-Anonim-

Saat ini, aku mencoba memegang pada prinsip tersebut. Di tengah hingar bingar dunia digital yang penuh distraksi ini, hal yang paling penting untuk kita lakukan adalah mengenal kebutuhan diri sendiri, yaitu dengan mengenali batas diri dalam mengatur screen time kita dan fokus pada hal-hal lain yang lebih nyata.

Sejak menerapkan perubahan kecil dan sederhana tersebut, aku merasakan banyak sekali manfaatnya. Aku merasa memiliki aktivitas yang lebih produktif, mood terjaga, dan badan terasa lebih enak karena tidak lagi begadang hanya untuk menikmati screen time yang semu. 

Salam,

At Tachriirotul M.

Bagikan tulisan ini yuk

2 Comments

  • sekar anindya

    Hai kak, salam kenal. Perihal susah fokus ini sepertinya menimpa hampir semua orang saat ini. Yaa terutama karena sosial media dengan segala daya tariknya. Aku sendiri sekarang lagi berusaha mengurangi penggunaan sosial media. Kalau aku paling gampang tergoda Youtube. Kalau gak direm, wuih dalam sehari aku bisa 4 jam nontonin Youtube. Makanya sekarang aku uninstall Yuoutube, dan kalau mau buka Youtube di website aja. Sejauh ini lumayan works di aku.

    • At Tachriirotul

      Hai kak, salam kenal juga.
      Saya baru aja mampir ke blognya dan udah membaca ulasan tentang detoks Youtube. Dan, ternyata emang bener sih, ini juga yang lagi aku alami, haha. Detoks sosial media, tapi sama aja ya larinya ke youtube. Hahaha.

      Tulisan kakak jadi pengingat saya juga nih kalau tanpa sadar ternyata saya juga mulai ketagihan dengan youtube. Kadang suka capek juga sih nonton acara podcast yang panjang lebar dan akhirnya bikin lupa waktu dan mengesampingkan hal-hal lain yang seharusnya kita lakukan. Aku akan coba mempraktekkan detoks youtube ini deh. Thanks for sharing kak ^x^. Saya mau komen di tulisan kakak tapi tidak menemukan kolom komentarnya.

      Salam,
      Atta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *