Article,  Motherhood

Yuk Kenali tentang Sharenting

Tanyakan 3 hal ini sebelum membagikan konten anak di media sosial

Hai sahabat slice of stories,

Saat membuka media sosial, kira-kira berapa banyak ya foto atau konten anak-anak yang kita lihat? 

Ada banyak sekali konten anak-anak yang kita nikmati setiap hari. Tak jarang, kita sering merasa terhibur melihat ekspresi mereka yang menggemaskan. Ternyata, ada sebuah riset yang menyatakan bahwa sebanyak 80% anak hadir di dunia maya sebelum berusia dua tahun. Bahkan, rata-rata orang tua akan membagikan sebanyak 1500 foto sebelum anaknya berusia lima tahun

Para orang tua sepertinya ingin mengabadikan momen pertumbuhan anaknya di media sosial seperti saat bayi mereka pertama kali mencicipi Makanan Pendamping ASI (MPASI), saat gigi pertamanya tumbuh, saat mereka belajar merangkak dan berjalan, saat bisa berbicara dan bernyanyi dengan intonasi yang lucu, saat belajar naik sepeda, dsb. Saat ini media sosial memang menjadi pilihan untuk mengabadikan momen-momen berharga karena mudah diakses kapan saja dan kita tidak perlu menyimpannya di file pribadi.

Inilah salah satu dinamika parenting masa kini. Maraknya konten anak-anak yang kita lihat di media sosial dikenal dengan istilah Sharenting. Sharenting merupakan gabungan dari dua istilah, yaitu Sharing dan Parenting. Sharenting dikenal sebagai sebuah fenomena saat orang tua membagikan konten anak-anak baik itu berupa foto atau video di media sosial.

Ada banyak sekali jenis informasi yang sering dibagikan para orang tua di media sosial, antara lain:

  • Momen kebersamaan seperti saat merayakan ulang tahun anak-anak, berlibur dan berkumpul bersama keluarga, dsb.
  • Milestone perkembangan anak, seperti saat mereka mulai bisa berjalan, mulai berbicara, mulai menghafal surat Al-Quran, dsb.
  • Kegiatan sehari-hari sang anak seperti saat mereka makan, bermain di rumah, berinteraksi dengan anggota keluarga, dsb.
  • Cerita tentang proses pengasuhan, seperti cerita tentang toilet training, saat menghadapi anak tantrum, saat menyapih, pertimbangan memilih sekolah, stimulasi yang diterapkan di rumah, dsb.

Sebagai orang tua milenial, kita pasti sudah menjadi bagian dari fenomena Sharenting ini (mencari teman, hehe). Saat ini, media sosial menjadi sumber utama untuk mencari segala informasi seputar parenting, mulai dari informasi produk anak, review buku dan produk kesehatan anak, konten yang disajikan oleh para pakar seperti dokter anak dan psikolog anak, ide permainan, profil sekolah, klinik tumbuh kembang, cerita pengalaman para orang tua tentang proses pengasuhan, dsb. Tak jarang, kita mengadopsi gaya parenting yang diterapkan oleh public figure yang dikagumi. Kita pun sering merasa tidak sendiri saat orang tua lain memiliki tantangan pengasuhan yang sama. Seperti saat saya membagikan cerita tentang pengalaman terapi wicara anak saya yang terlambat bicara. Saya mendapat pesan dari beberapa orang tua yang mengalami hal serupa, sehingga kita bisa saling membantu dan berbagi informasi.

Salah satu hal yang dikhawatirkan dari fenomena Sharenting ini adalah ketika kita melakukannya dengan berlebihan atau oversharing. Setelah kita membagikan konten anak-anak secara online, kita tidak bisa mengontrol apa yang akan terjadi setelahnya. Jika kita tidak hati-hati, membagikan konten anak-anak di media sosial bisa memberikan dampak merugikan di kemudian hari lho.

Menurut healthychildren.org, sebagai orang tua kita perlu mulai memperhatikan hak privasi anak-anak di dunia maya. Kelak, mereka yang akan menghadapi dampaknya. Kita pasti pernah mendengar kasus digital kidnapping, dimana ada pihak lain yang mencuri foto anak-anak di media sosial kemudian membagikan ulang di laman media sosialnya dan mengklaim sebagai anaknya. Sharenting juga bisa menjadi sumber konflik antara anak dan orang tua. Sebagai contoh, saat orang tua membagikan konten yang dianggap menggemaskan, ternyata konten tersebut menjadi bahan ejekan teman-temannya dan berujung pada cyber bullying. Kebayang kan bagaimana perasaan anak kita saat menjadi bahan ejekan orang lain.

Untuk itu, yuk kita mulai berhati-hati dalam mengontrol kebiasaan Sharenting ini. Mulai sekarang, mari kita membiasakan diri untuk bertanya tentang tiga hal berikut sebelum mengklik tombol upload di media sosial.

Apakah kita perlu membagikan konten ini?

designed with Canva

Apa kira-kira tujuan kita meng-upload foto atau video anak-anak? 

Apakah kita ingin berbagi pengalaman kepada sesama orang tua, membagikan konten yang informatif, mendapatkan impresi dari orang lain, atau hanya sekedar untuk mengabadikan momen si kecil? 

Setelah mengetahui tujuannya, kita bisa mempertimbangkan lagi apakah perlu untuk membagikannya atau tidak. Jika anak-anak sudah berusia remaja, kita sebaiknya meminta izin terlebih dahulu sebelum membagikan wajah mereka di media sosial.

Apakah konten ini mengandung informasi personal anak?

Designed with Canva

Sebelum memencet tombol upload, Yuk kita pastikan lagi apakah konten tersebut mengandung informasi personal anak-anak? Pastikan kita tidak membagikan informasi tentang:

  1. Tempat dan tanggal lahir anak
  2. Terkadang kita lupa menyembunyikan tanggal lahir si kecil, termasuk saat membagikan momen ulang tahunnya di media sosial.
  • Tempat tinggal dan nama sekolah anak
  • Membagikan informasi tempat tinggal, nama sekolah anak, tempat kursus, plat nomor mobil, dsb harus kita hindari ya karena sangat membahayakan si kecil.
  • Aktivitas anak-anak secara realtime 
  • Tanpa disadari kita sering membagikan aktivitas anak-anak secara realtime di media sosial lewat fitur stories. Kita tahan yuk agar keberadaan si kecil tidak mudah terlacak oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
  • Personal preference anak-anak
  • Setiap anak pasti memiliki personal preference seperti hobi, makanan kesukaan, kebiasaan dan karakter, tempat makan favorit, sahabat dekat, dsb. Nah, sebaiknya kita tidak membagikan informasi tersebut di media sosial.
  • Estetika
  • Saat membagikan konten anak-anak di media sosial, sebaiknya kita memperhatikan estetika ya mom. Jangan sampai kita membagikan foto atau video saat mereka sedang mandi, saat pakaian mereka terlalu minim, saat mereka tidur dengan posisi dan ekspresi yang memalukan, dsb. Bagi kita mungkin ekspresi tersebut lucu, tapi kita tidak bisa memastikan kemana foto-foto tersebut akan tersebar atau menjadi bahan gosip orang lain (who knows D:)

Alangkah baiknya jika kita lebih berhati-hati, jangan sampai informasi yang kita bagikan dengan sukarela disalahgunakan oleh pihak lain yang tidak bertanggung jawab dan merugikan anak-anak kita.

Apakah konten ini akan meninggalkan jejak digital yang baik untuk anak-anak?

Designed with Canva

Setiap anak pasti memiliki keinginan dan cita-cita masing-masing. Setiap konten yang kita bagikan di media sosial akan meninggalkan jejak digital yang tidak bisa kita kendalikan, meskipun kita hanya membagikannya secara private atau telah menghapusnya. 

Sebaiknya kita memberi ruang kepada anak-anak untuk membangun jejak digitalnya sendiri saat mereka sudah cukup umur. Jangan sampai kita terlalu banyak meninggalkan jejak digital anak-anak dengan mengukir cerita dari sudut pandang kita sebagai orang tua, yang ada kita hanya memenuhinya dengan ekspektasi-ekspektasi yang kita miliki. 

Kita mungkin ingin membangun citra anak-anak agar terlihat pintar dan sholeh di media sosial. Namun, apakah mereka juga ingin terlihat demikian? Atau citra tersebut akan membebani mereka di kemudian hari?

***

Ternyata pembahasan tentang Sharenting ini cukup panjang ya mom. Di era digital seperti sekarang, kita memang perlu membekali diri dengan digital literasi yang baik agar kita bisa memproteksi anak-anak dari berbagai tantangan digital parenting yang begitu banyak. Aktivitas Sharenting itu tidak sepenuhnya buruk asalkan kita tidak melakukannya dengan berlebihan dan tetap menjaga hak-hak privasi anak-anak. Sebagai orang tua, bukankah kita yang sebaiknya menjaga hak privasi mereka?

Salam,

At Tachriirotul M (Atta)

Sumber:

Instagram, Facebook, and the Perils of “Sharenting”. / Hsu, Hua

In: The New Yorker, 11.09.2019

Kenali Baik Buruk Sharenting, Fenomena Baru Dunia Parenting. / Amelia, Fiona.

In: Klikdokter, 27.07.2018

More Than 80% of Children Have an Online Presence by the Age of Two. / The Conversation

In: Futurism. 20.09.2019

Sharenting: 5 Questions to Ask Before You Post./ McCarthy, Claire.

In: Healthy Children, 20.11.2019

Sharenting, is it a good or a bad thing?. / Verswijvel, Karen, et al.

In: Science Direct, 27.06.2019

Too much information? More than 80% of children have an online presence by the age of two. / Bessant, Claire.

In: The Conversation, 20.09.2017 

Bagikan tulisan ini yuk

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *