Motherhood,  Real Talk

Tiga tahun menjadi Ibu dan tantangan yang mendewasakan

Januari 2021, anakku tidak lagi menjadi Batita (Bawah tiga tahun). Momen ini menjadi refleksi untukku sebagai seorang ibu. Satu hal yang aku syukuri dari perjalanan ini adalah, anakku sehat.

Perjalanan menjadi ibu selama tiga tahun ini tak luput dari rangkaian rasa bersalah yang silih berganti. Kenapa harus merasa bersalah? Akupun tidak pernah terbayang sebelumnya jika setelah memiliki anak, aku menjadi lebih rentan dengan perasaan bersalah yang begitu besar. Bahkan, aku sempat merasa sedikit trauma dan tidak terbayang jika harus memiliki anak lagi. Aku seperti belum siap menanggung rasa bersalah yang lain.

Perasaan traumaku telah menghabisi rasa percaya diriku sebagai ibu dan ini berlangsung cukup lama. Sebagai seorang ibu yang beraktivitas di rumah, perasaan bersalah itu menjangkiti hati terus menerus dan menumbuhkan perasaan bahwa aku belum bisa menjadi ibu yang baik. Aku sempat terfikir, apa sebaiknya aku kembali bekerja agar anakku dirawat oleh babysitter saja. Sepertinya, mereka lebih telaten mengurus anak.

Tahun ini, salah satu fase perjalananku sebagai Ibu akan berubah. Aku ingin melepaskan beban rasa bersalah di masa lampau melalui cerita ini. Semoga tulisan ini bisa menjadi writing therapy agar aku bisa letting go dan moving on dengan perjalanan baruku sebagai ibu dua anak tahun ini (Insha Allah)

Tantangan yang menguras hati, namun mendewasakan

Saat memutuskan berhenti bekerja dan fokus dengan anakku yang baru lahir, aku selalu membayangkan betapa indahnya menghabiskan waktu setiap hari bersamanya. Aku tidak merasa ragu untuk mengajukan surat pengunduran diri ke perusahaan setelah masa cuti melahirkanku habis. Aku sudah memiliki banyak rencana untuk menikmati waktuku di rumah dengan si kecil.

Bulan pertama, aku begitu bahagia. Aku mulai menyusun jadwal stimulasi sesuai tahap perkembangan usia anak, mencari referensi baby class yang sering mengadakan short program, mencari referensi komunitas parenting, dan mulai mempersiapkan diri untuk MPASI. Pikiranku seakan terpaku untuk menerapkan pola parenting yang ideal agar si kecil tumbuh paripurna.

Tantangan pertama: MPASI

Hari-hariku di rumah bisa dibilang cukup menyenangkan. Anakku memiliki pertumbuhan yang baik sampai umur 6 bulan. Hingga akhirnya, tibalah masa pemberian MPASI yang sangat menguras tenaga, hati, dan pikiran.

Pemberian MPASI adalah tahapan paling menegangkan untukku. Meski sudah membaca buku dan informasinya di internet, ternyata praktek di lapangan sungguh tak mudah. Sebagai ibu baru yang tidak pandai mengolah rasa masakan dan hanya bermodal perlengkapan MPASI kekinian, ternyata hasil masakanku tidak bisa diterima oleh lidah si kecil. Ia beberapa kali ingin muntah saat mencoba makanannya. Padahal, ia begitu lahap mengecap masakan MPASI di rumah sakit saat rawat inap selama satu malam pasca operasi sirkumsisi atau sunat.

Sejak pemberian MPASI, pertumbuhan berat badan anakku justru mulai bermasalah dan membuatku sering stres.

Tantangan kedua: Pertumbuhan Berat Badan dan Tinggi Badan Minimalis

Jujur, Aku sempat merasa insecure saat anakku bertemu dengan teman sebayanya karena badannya yang kecil. Ada momen di mana aku selalu menghindari tempat-tempat umum seperti playground, baby class, taman bermain, dsb. Sebelumnya, aku termasuk rajin mengajak anakku bermain di luar rumah dan mengikuti short class seperti yang diselenggarakan oleh rumah Dandelion, Kindy Cloud, rumah main-main Bintaro, dsb. Aku belum siap jika tanpa sadar membandingkan anakku dengan yang lainnya.

Setelah melakukan beberapa konsultasi dengan dokter, menemukan penyebabnya, dan mulai terapi, aku mencoba mengelola hati untuk memaafkan diri sendiri. Aku mulai membuka diri dan kembali mengajak anakku bermain di luar rumah. Setiap kali berada di tempat umum, aku selalu menguatkan diri dengan membaca istighfar, bersholawat, dan berdzikir di dalam hati agar Allah menguatkan mentalku. Ternyata, hal itu cukup membantu.

Tantangan ketiga: Infeksi Saluran Kencing (ISK), Anemia Defisiensi Besi (ADB), dan Hipersensitivitas Saluran Cerna (Alergi)

Kami mencoba menggali informasi tentang apa yang terjadi dengan si kecil. Kami berkonsultasi dengan dokter anak dan dokter spesialis saluran cerna untuk mencari jawaban. Setelah dilakukan observasi pada darah dan urin, ternyata anak kami mengalami ISK, ADB, dan alergi pada saluran cernanya. Itulah kenapa pertumbuhan berat dan tinggi badannya terganggu. Cerita selengkapnya ada disini ya.

Tidak perlu dibayangkan lagi, betapa terpukulnya aku. Entah berapa kali aku menyalahkan diri sendiri yang begitu abai memperhatikan pertumbuhannya. Padahal, tujuan utamaku berhenti bekerja adalah ingin merawat anak kami dengan sebaik-baiknya. Rasa percaya diri sebagai ibu sudah rontok tak bersisa.

Tantangan keempat: Speech Delay

Saat anakku memasuki usia 18 bulan, aku mulai panik dan kawatir dengan perkembangan bicaranya. Aku pernah menuliskan cerita lengkapnya disini.

Lagi-lagi, aku mulai menyalahkan diri. Aku sering bertanya pada diri sendiri, “Apa gunanya aku berada di rumah jika anakku belum bisa berbicara? Apa saja yang aku lakukan selama ini? Apa yang aku lewatkan?” dsb. Entah berapa banyak lagi tangisan yang tumpah setiap kali memandangi wajah dan tingkah lakunya yang lucu. Aku mengalami badai insecurity.

Setelah menenangkan hati, Aku kembali menenggelamkan diri dengan menggali informasi seputar keterlambatan perkembangan bahasa pada anak dan mulai memiliki titik terang. Aku sempat melakukan stimulasi mandiri di rumah selama dua bulan. Namun, perkembangannya tidak cukup signifikan. Meski banyak yang menyampaikan bahwa anak laki-laki cenderung terlambat berbicara dan kelak pasti dapat berbicara dengan sendirinya, aku memutuskan untuk melakukan skrining tumbuh kembang anak.

Aku cukup lega dengan hasil skrining yang disampaikan oleh dokter rehabilitasi medis anak. Seperti analisaku, anakku hanya mengalami keterlambatan bahasa ekspresinya. Aku memutuskan untuk melakukan terapi wicara selama tiga bulan agar saat anakku berusia dua tahun nanti, perkembangan bahasanya sudah sesuai dengan usianya.

Sebuah hikmah

Satu per satu, tantangan itu mulai membaik. Kurva tinggi dan berat badan anakku sudah kembali normal. Meski belum ideal, aku sangat bersyukur. Semua pasti perlu waktu, yang terpenting saat ini adalah pertumbuhannya terus membaik. Ternyata, kata-kata “yang penting anak sehat” yang sering diucapkan orang tua kita ada benarnya juga agar kita selalu bersyukur. Sehat adalah rezeki yang tidak akan sanggup ditukar oleh apapun.

Setelah menyelesaikan terapi wicara, perkembangan bahasa ekspresi anakku begitu pesat. Ia sudah bisa berkomunikasi dua arah, bercerita, menyampaikan ide dan emosinya, serta menanggapi perkataan kita.

Pelan-pelan, aku berusaha memaafkan diri sendiri dan fokus pada hal lain yang lebih penting. Aku bersyukur karena suamiku tidak pernah menyalahkan. Ia selalu mendukung apapun jalan ikhtiar yang ingin aku upayakan.  

Semakin lama, aku mulai meyakini bahwa setiap tantangan yang datang adalah cara Allah agar aku datang dan mendekat kepada-Nya. Sebagai ibu yang telah memilih beraktivitas di rumah, Allah memberiku tantangan dan jalan pahala melalui anak.

Setiap ibu memiliki tantangan masing-masing dalam merawat buah hatinya. Kita tidak bisa membandingkan atau menyamaratakan setiap perjuangan yang kita alami. Satu hal yang pasti, apapun pilihan yang kita ambil pasti demi kebaikan anak-anak kita, karena semua ibu tidak akan berniat merugikan anaknya.

Aku juga menyadari bahwa kita tidak akan pernah bisa menerapkan pola asuh yang ideal. Karena, menjadi ibu adalah soal rasa. Naluri keibuan kita adalah penunjuk arah paling ampuh dalam menerapkan pola asuh yang terbaik bagi anak-anak kita. Menurutku, berusaha menjadi ibu yang ideal dan sempurna itu melelahkan. Kini, aku memilih menjadi Ibu yang bertumbuh.

At Tachriirotul M.

Bagikan tulisan ini yuk

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *