Real Talk

Doa yang Tak Lagi Sempurna

Saat masih muda, aku pernah membaca buku “Keajaiban Rezeki” karya Ippho Santosa. Salah satu pesan yang disampaikan di buku tersebut begitu lekat dalam ingatanku sampai sekarang. 

“Rezeki seorang laki-laki itu sangat dipengaruhi oleh sepasang bidadari-nya di dunia. Bagi seorang laki-laki dewasa, bidadari dunianya adalah ibu dan istrinya. Doa kedua bidadari tersebut begitu kuat dalam membuat jalan rezeki seorang laki-laki terbuka lebar.” 

Saat itu, aku selalu mendambakan ingin menjadi salah satu bidadari untuk calon suamiku. Wah, betapa romantisnya jika rasa sayang dan cinta yang kumiliki bisa kurekatkan dengan doa. Kala itu aku membayangkan betapa nikmatnya menjadi bagian dari kesuksesan seorang laki-laki melalui doaku.

Designed with canva

Tahun berlalu, akhirnya aku bertemu dengan laki-laki yang kini menjadi pasangan hidupku. Tahun pertama menikah, aku sama sekali tidak teringat pesan dalam buku Keajaiban Rezeki yang dulu pernah kubaca. Mungkin, aku masih dimabuk asmara sebagai pengantin baru yang sedang seru-serunya mengenal satu sama lain. Hal-hal kecil seperti menonton film di rumah, makan berdua di tempat makan, belanja bulanan di supermarket, dan janjian nonton film di bioskop sepulang kerja rasanya begitu indah. Kala itu kami tidak memikirkan tanggungan apapun selain mengirimkan rezeki kepada orang tua dan menyewa tempat tinggal.

Satu tahun menikah, Allah memberi seorang anak laki-laki kepada kami. Tiga minggu berikutnya, ibu mertuaku meninggal karena sakit kanker serviks. Beliau sudah menjalani pengobatan kanker serviks selama kurang lebih 3-4 tahun. Meski hanya mengenalnya singkat, namun kenangan itu begitu mendalam. 

Aku merasa kehilangan. Setelah kepergiannya, kami mendengar begitu banyak cerita betapa beliau menantikan kehadiran anak kami. Meski dalam keadaan sakit yang menyiksa, aku percaya bahwa beliau tak pernah lepas meminta kepada Allah SWT untuk diberikan waktu hingga cucunya lahir. “Kalau cucuku sudah lahir, Insya Allah aku ikhlas dipanggil pulang oleh yang Maha Kuasa,” begitulah cerita yang kami dengar dari keluarga terdekat.

Sayangnya, beliau belum sempat bertemu langsung dengan anak kami. Menjelang berpulang, ia meminta suamiku pulang kampung dan membawa baju kotor milik anakku agar bisa mencium baunya. Ia hanya bisa melihat anak kami melalui layar ponsel dengan tubuhnya yang terbaring lemas di atas ranjang. Bahkan, akupun tidak sempat bertemu dengannya untuk terakhir kali. 

Sejak kepulangannya menghadap Yang Maha Kuasa, aku merasakan perubahan yang mulai terjadi pada jalan rezeki suamiku.

Saat ibu mertuaku masih ada, suamiku selalu meminta doa kepada ibunya setiap ada hal-hal penting dalam hidupnya. Seperti saat ia hendak mencari pekerjaan, menjalankan proyek-proyek di kantor, atau menandatangani surat perjanjian jika ada dealing investasi. Sejak itu, entah kenapa proyek-proyek yang dijalankan suamiku tak selancar sebelumnya. Rezeki yang biasanya diberikan Allah SWT melalui bonus tahunan pun tak selegit sebelumnya. Perubahan itu berlangsung hingga 2020.

Designed with canva

Selama masa Pandemi, aku sempat bermuhasabah. Tiba-tiba aku menyadari pesan dalam buku Keajaiban Rezeki yang dulu pernah kubaca. Aku yakin bahwa salah satu faktor yang membuat rezeki suamiku begitu lancar saat itu adalah karena doa ibu-nya. Sedangkan, saat ini hanya ada doaku yang mungkin masih ala kadarnya. Aku lantas berfikir, bagaimana aku bisa memberikan kekuatan doa yang sama jika doa dan amalanku saja masih sekadarnya.

Di penghujung tahun 2020, suami sedang menanti kepastian proyeknya yang tertunda karena Pandemi. Setiap kali hampir mencapai kesepakatan, selalu ada kendala yang datang. Setiap menyaksikan suamiku terbangun di sepertiga malam dan sholat tahajud, aku selalu merasa bersalah. 

Apakah selama ini aku yang menjadi penghambat rezekinya?

Hingga suatu hari, aku benar-benar memberikan waktuku untuk berdoa dan meminta maaf kepada Allah jika selama ini sudah menjadi penghambat rezeki untuk suamiku. Aku mencurahkan apa yang aku rasakan dan meminta diberikan kekuatan agar aku bisa menyempurnakan doaku karena kini hanya aku yang menjadi bidadarinya di dunia. 

Sorenya, di hari yang sama tiba-tiba ia mengirimkan pesan. “Ternyata setelah kita mengikhlaskan dan melepaskan harapan, justru Allah memberikan jawaban yang selama ini kita nantikan. Alhamdulillah, meeting hari ini berjalan lancar”.

Masha Allah, aku langsung menangis terharu. Baru pagi tadi aku berdoa dan meminta maaf kepada-Nya, Allah memberikan tanggapannya di hari yang sama. Kini aku semakin meyakini betapa pentingnya peran doa seorang ibu dan istri dalam kelancaran rezeki seorang laki-laki. 

Meski kini doa itu tak lagi sempurna, semoga aku bisa menyeimbangkan doa ibu mertuaku yang kini tak lagi ada. 

Allaahummaghfir laha warham ha wa’aafi ha wa’fu anha 

Salam,

At Tachriirotul M.

Bagikan tulisan ini yuk

2 Comments

  • Via Moira

    Terima kasih Mba udah sharing pengalamannya. Menginspirasi banget buat aku yang belum menikah. :’ )
    Turut berduka cita ya Mba buat ibu mertuanya, dan semoga dilancarkan terus rezeki sekeluarga sama Allah SWT.

    • At Tachriirotul

      Makasih mb sudah mampir dan membaca cerita di slice of stories ^x^.
      Semoga disegerakan ya mba D:

      Terimakasih banyak untuk doanya mb Via. Semoga mb Via juga dilancarkan rezekinya, Amin YRA

      Salam kenal ya mb,

      Atta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *