Real Talk

Embrace yourself: Cerita Kehamilan Kedua

Dua garis biru,

Tahun ini akhirnya aku bisa melihat dua garis biru di test pack yang aku pakai pada 17 Agustus 2020. Ya, sudah tiga tahun lebih sejak aku melihat tanda dua garis biru pertamaku. Banyak yang bilang tahun ini jumlah kehamilan meningkat karena adanya Pandemi dan kami salah satunya, haha.

Sejak melahirkan anak pertama, aku memang selalu berdoa kepada Allah SWT agar diberi kesempatan untuk memberikan hak ASI selama dua tahun. Setelah selesai menyapih, aku berusaha menepati janji dan kembali menyampaikan kepada-Nya kalau Insha Allah aku siap menerima amanah anak kedua.

Delapan bulan kemudian, setelah berupaya lebih sering menemui-Nya di sepertiga malam terakhir, Allah mengabulkan doa kami. Aku bersyukur karena Allah kembali memberiku amanah untuk mengandung ciptaan-Nya. Ternyata, kehamilan keduaku ini lumayan berbeda dengan sebelumnya.

Di kehamilan pertama, aku hanya merasakan mual yang ringan dan masih bisa memasukkan makanan, bahkan aku hanya pernah muntah sekali. Di kehamilan kedua, aku merasakan mual yang lebih kuat dengan frekuensi muntah yang cukup sering selama trimester pertama. Alhasil, aku cuma berhasarat tiduran di kasur, males mikir yang berat, dan gak mood untuk melakukan aktivitas apapun. Akhirnya aku mulai berkenalan dengan drakor padahal sebelumnya gak pernah tertarik, haha.

Selama menjadi ibu hamil yang mager, aku sempat mengalami mental breakdown. Aku sering merasa bersalah karena tidak lagi bisa mendampingi anak bermain terstruktur, aku mengabaikan banyak tanggung jawab, sering menangis karena tidak produktif, banyak melewatkan target pribadi, dsb. Kadang aku sering denial dan memaksakan diri melakukan banyak aktivitas (biar produktif), tapi selalu berujung lemas, mual, dan muntah-muntah seharian.

Suatu pagi selepas sholat subuh, seperti biasa saya dan suami mengobrol tentang banyak hal. Lalu, ia bertanya “Apa rencana kamu hari ini?”. Tiba-tiba aku menjawab “Aku gak punya tujuan hidup apa-apa” sambil menangis tiada henti. Lalu suami saya mencoba menenangkan, saat itu entah kenapa ia berhasil membuat emosiku lebih tenang dan stabil.

Waktu berlalu sampai akhirnya aku merasa kondisi tubuhku mulai membaik. Aku tidak lagi muntah seperti sebelumnya. Setidaknya aku tidak hanya rebahan seharian di atas kasur dan mulai beraktivitas ringan.

Saat memasuki trimester kedua, ternyata tubuhku semakin memberi sinyal baik-baik saja. Jiwa, raga, dan otakku seperti terkoneksi lagi. Aku kembali mengerjakan tanggung jawab di komunitas, mendampingi anak bermain, memulai hobi berkebun, memasak, membaca buku, mengikuti webinar, berkarya, dan tentunya tetap menonton drakor yang temanya menarik, ahay.

Akupun mulai menyadari bahwa ternyata tubuhku memang sedang meminta perhatian lebih saat di trimester pertama. Tubuhku sedang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dan memintaku bekerjasama dengannya. Saat aku memaksakan diri, tubuhku memberikan sinyal agar aku bisa menahan diri.

Aku belajar untuk membebaskan rasa bersalah agar tubuhku tidak menanggung beban yang lebih berat. Aku teringat pesan teman-temanku saat mengucapkan selamat “Selama hamil, lakukan dan pikirkan yang hanya membuatmu bahagia”. Wah, ternyata hanya perasaan “bahagia” itu yang benar-benar aku butuhkan saat ini, apalagi di tengah situasi Pandemi yang membatasi kita untuk mencari sumber kebahagiaan di luar rumah. Jadi, yang perlu aku lakukan adalah embrace myself.

Salam,

At Tachriirotul M.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *