Article,  Mama's Turning Point

Membangun Produktivitas dengan Metode Heatmap

Mama’s Turning Point Episode 4 bersama Rosa Adelina

Hi mom,

Di episode 4 Mama’s turning point, slice of stories ingin menceritakan lukisan perjalanan seorang ibu yang memiliki multiperan. Kak Rosa Adelina (Ocha) adalah seorang ibu dengan 3 anak yang memiliki kesibukan sebagai peneliti, pengajar, dan salah satu koordinator sebuah komunitas.

Saya benar-benar penasaran, bagaimana sih cara mb Ocha menjalankan semua peran itu? Sepertinya lancar semuanya. Ternyata, ada banyak sekali proses yang ia alami sampai akhirnya bisa menemukan metode yang pas untuk mengatur produktivitasnya.

Penasaran gak sih, seperti apa metodenya? Yuk kita simak sama-sama. Semoga lukisan perjalanannya dapat memberikan hal yang positif ya teman-teman.

Selamat membaca ^x^

***

Hi mb Ocha, apa kabar? Apa kesibukannya sekarang?

Alhamdulillah ‘alaa kullii haal, segala sesuatu yang mampir di kehidupan entah itu baik atau buruk adalah yang terbaik menurut Allah. Selama Pandemi, aku masih membersamai anak pertama (abang) dan kedua (kakak) School From Home (SFH), mengajak anak ketigaku (Rara) bermain sambil belajar karena sedang seru-serunya mulai bisa berjalan. Selain itu, aku lagi sering mencoba resep makanan praktis dan enak untuk variasi camilan keluarga. Aku juga masih bekerja di ranah publik sebagai peneliti dan pengajar tidak tetap di suatu Universitas.

Wah, banyak sekali aktivitasnya. Apa sebetulnya passion mb Ocha?

Sebetulnya Passionku sering berganti setiap periodenya, haha. Saat ini passionku adalah mendidik anak-anak menuju aqil balighnya dan membersamai Rara selama Work From Home (WFH). Selain itu, aku ingin menikmati masa tua bersama suami dan bermanfaat bagi sesama.

Di tengah kesibukan yang banyak, mulai dari urusan domestik, pekerjaan, dan komunitas, apa sih rahasianya dalam mengelola waktu?

Sebenarnya gak ada rahasianya, hehe. Semua dijalankan dengan porsi dan prioritasnya. Saat ini, prioritasku masih keluarga. Selama suami memberikan lampu hijau, maka aku masih bisa melakukan kegiatan lainnya. Aku menganggap pekerjaanku sebagai hobi yang dibayar.

Penelitian adalah hobiku sejak mahasiswa dan terbawa sampai di dunia kerja, jadi aku sangat menikmatinya. Saat bekerja di kantor, aku memiliki “kebebasan” untuk mengelola waktu karena yang dinilai adalah output. Jadi, aku selalu berusaha mengerjakan seefektif mungkin. 

Untuk kegiatan berkomunitas, awalnya aku ingin melakukan kegiatan sosial tapi memiliki keterbatasan untuk terjun ke lapangan. Jadi, aku mencari cara untuk bersosialisasi secara daring dengan bergabung di komunitas. Sehingga, aku bisa berkontribusi sesuai kapasitasku.

Waktu-waktu yang lain aku gunakan untuk quality time bersama keluarga. Aku juga suka belajar agar bisa upgrade skill, karena ini sangat penting dalam pekerjaan agar dapat menjadikan karya kita lebih berkualitas.

Pernah gak merasa overwhelming dengan semua aktivitas yang dikerjakan? Ada gak turning point yang mb Ocha alami sampai akhirnya menemukan ritme hidup yang pas?

Pernah dong. Rasanya tidak enak sekali saat dikejar banyak beban yang harus diselesaikan. Saat menghadapi begitu banyak to do list, akhirnya aku menyadari bahwa tidak ada yang namanya Supermom, haha, adanya adalah Super Team.

Aku mengalami turning point saat belajar di salah satu komunitas bernama Ibu Profesional. Di komunitas ini ada beberapa tahapan belajar yang bertujuan untuk mendorong para ibu agar kelak bisa menjadi ibu yang produktif. Nah, salah satu tahapan belajarnya adalah Bunda Cekatan.

Pada saat belajar di kelas Bunda Cekatan, kami diajak untuk memetakan kembali tentang kehidupan, misi hidup, apa skill yang ingin di-upgrade, dsb. Aku juga belajar tentang membuat kurikulum belajar untuk anak-anak dan ini pas sekali dengan konsep keluarga kami yang ingin menerapkan home education, terlepas anak-anak belajar secara formal atau informal.

Aku merasa momentumnya begitu pas. Saat aku sedang overwhelming dengan to do list yang begitu banyak, di kelas ini aku bertemu dengan kurikulum tentang manajemen energi tubuh dan metode Heatmap. Melalui metode ini, kita belajar untuk mengatur energi tubuh seefektif mungkin agar bisa menyelesaikan sesuatu dengan hasil yang lebih baik.

Wah, menarik sekali. Bisa diceritakan gak tentang metode Heatmap ini?

Aku coba memberikan gambaran tentang heatmap melalui contoh gambar berikut ya. Ini adalah gambar yang menunjukkan waktu 24 jam dalam sehari.

Pada waktu merah, aku biasanya mengerjakan project kantor dan keluarga, menyusun kurikulum belajar anak, dan pekerjaan lain yang membutuhkan pikiran dan konsentrasi yang ekstra. Pada waktu orange, aku biasanya mengerjakan artikel ilmiah, modul, breakdown kegiatan Montessori batita, dan berdiskusi. Pada waktu kuning, aku biasanya menggunakan untuk hal-hal yang bersifat rutinitas seperti membersihkan rumah dan entry data. Pada waktu hijau, aku biasanya melakukan me time misal menonton korea, tea time, dan bermain bersama anak-anak. Pada waktu abu-abu, aku memakai untuk beristirahat dan tidur.

Metode heatmap ini sangat individual. Setiap orang bisa memetakan level energinya masing-masing. Kita juga mengenal istilah morning person dan night person, bisa jadi waktu merah (level energi supernova) tipe night person berada pada rentang waktu malam hari. Jadi teman-teman bisa menyesuaikan dengan karakter masing-masing.

Bagiku, heatmap bisa menjadi batasan untuk diri sendiri saat mulai kewalahan. Misal, aku bisa merasa kewalahan jika hal-hal yang bersifat intens mulai masuk ke dalam zona kuning atau hijau. Jadi, aku tidak bisa memaksakan diri untuk tetap mengerjakannya karena hasilnya pasti tidak akan optimal. Heatmap membuat kita lebih mengenali dan menyayangi diri sendiri.

Gimana cara mb Ocha menentukan prioritas harian, mengatur porsi waktu untuk urusan domestik dan publik?

Sebelum mengenal metode Eisenhower (gambar 1), aku berusaha melakukan semuanya sendiri, bekerja sama dengan suami untuk beberapa hal, dan bekerja semaksimal mungkin saat berada di kantor agar tidak membawa pekerjaan ke rumah.

Aku sempat merasa overload saat memiliki bayi lagi (anak ketiga). Di saat aku mulai keteteran, aku berkenalan dengan metode Eisenhower di kelas Bunda Cekatan. Ternyata, ada hal-hal yang perlu didelegasikan dan dieliminasi sehingga energi tubuhku dapat optimal dan tidak merasa kelelahan.

Dalam metode Eisenhower ini, kita perlu membagi list pekerjaan atau beban ke dalam empat kuadran, yaitu:

  • Penting – mendesak
  • Penting – tidak mendesak
  • Tidak penting – mendesak
  • Tidak penting – tidak mendesak

Setelahnya, kita bisa mengatur strategi dalam menghadapi aktivitas tersebut.

Dalam mengaplikasikan metode tersebut, aku memetakan hal-hal yang bersifat rutinitas ke dalam kategori harus segera dilaksanakan atau bisa ditunda, serta menetapkan waktu yang dibutuhkan.

Untuk urusan domestik, aku lebih banyak mendelegasikan kepada ART agar aku bisa mempunyai waktu lebih banyak untuk berinteraksi degan anak-anak sesuai permintaan suami. Tugasku biasanya membuat perencanaan seperti menyusun menu keluarga, manajemen dapur, dsb.

Untuk urusan publik, saat ini aku sedang membuat buku sains popular yang masih dalam proses editing di penerbit. Aku juga sedang menulis artikel ilmiah serta mendalami ilmu baru di bidangku, jadi berasa kembali seperti mahasiswa yang harus mengatur waktu untuk diri sendiri. Jika harus mengajar, maka aku menyesuaikan lagi timeline nya dengan jam mengajar. Jika ada webinar pun juga demikian.

Nah, biasanya aku membuat target yang harus diselesaikan baik itu triwulan atau semester. Di kantor, saat ini aku tergabung dalam tim yang bertanggung jawab mengurus data sampel pasien Covid-19, jadi selama di kantor aku hanya fokus pada tanggung jawab tersebut.

Tantangan lainnya adalah manajemen waktu untuk mendampingi anak-anak School From Home (SFH). Jadi, kami biasanya memanfaatkan teknologi untuk mengontrol anak-anak SFH karena kebetulan kami memiliki akun email keluarga. Bagi kami, teknologi sangat membantu komunikasi dengan anak-anak selama Pandemi, baik untuk keperluan sekolah maupun pengaturan di rumah.  

Dalam menjalankan semua aktivitas itu, ada gak hal-hal yang harus disesuaikan?

Pastinya ada. Buatku, menurunkan standar dan ekspektasi itu wajib, haha. Aku masih berproses dan belajar untuk menurukan ekspetasi, misal “seharusnya dia sudah bisa ini” atau “seharusnya ini bisa lebih rapi”, dsb. Apalagi, sebelum berkeluarga aku termasuk orang yang perfeksionis dan sering menetapkan standar yang tinggi untuk diri sendiri. Namun setelah menjadi ibu, standar dan ekspektasi itu perlu disesuaikan lagi dengan pasangan dan anak-anak.

Di rumah, aku dan suami sepakat bahwa prioritas kami adalah mendidik anak. Jadi, kalau rumah berantakan atau kurang cantik ya kami mencoba biasa aja, haha. Bagi kami, yang paling penting adalah proses pendidikan anak-anak berjalan lancar. Kami yakin sih, setelah anak-anak mulai bisa mandiri, standar itu pasti akan semakin membaik.

Nah, bagaimana mb Ocha berbagi peran dengan pasangan di rumah?

Sejak menikah, kami menerapkan prinsip kesetaraan. Jadi, suami pun ikut mengurus rumah, mengajak bermain, berdiskusi soal urusan rumah, dan beberapa peran lainnya. Untuk urusan domestik, kami berbagi peran sesuai kebiasaan masing-masing. Misal, untuk urusan tukang menukang dipegang suami, urusan makanan dipegang istri, urusan keuangan dipegang berdua.

Nah, untuk urusan anak-anak, karena anak pertama dan kedua sudah mulai memasuki fase aqil baligh, maka kami mulai membagi peran sesuai dengan jenis kelamin. Anak pertama (laki-laki) lebih sering bersama ayahnya, anak kedua (perempuan) lebih sering bersama ibunya. Kami selalu menyampaikan apa yang menjadi target pendidikan kami kepada anak-anak dan tentu saja ada waktu untuk berdiskusi bersama-sama.

Kami tidak mengenal pillow talk, hehe. Karena, bagi kami diskusi bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja pada saat dibutuhkan. Pandemi ini semakin membuat komunikasi kami lebih intens dan ternyata kegiatan rumah tangga membuat bonding kami semakin kuat.

Apa tips and tricks ala mb Ocha dalam mengurus 3 anak di tengah kesibukan yang cukup padat?

Saat ini aku hanya mengurus Batita (Bawah tiga tahun) karena belum bisa mengurus dirinya sendiri. Untuk anak pertama dan kedua, kami sedang mendidik mereka untuk lebih mandiri seperti belajar baking, belajar merawat hewan peliharaan, belajar manajemen waktu dan diri.

Tips dari aku adalah yuk kita berupaya menjadikan anak-anak sebagai manusia seutuhnya yang harus bertanggung jawab untuk dirinya sendiri. Aku tau ini tidak mudah, apalagi anakku sempat mengalami berbagai tipe pengasuhan. Dalam mendidik anak, kami membiasakan untuk banyak ngobrol dan terlibat dalam segala kegiatan anak-anak entah itu bermain atau terlibat dalam project-project kecil yang mereka lakukan.

Apa me time ala mb Ocha dan apa yang biasa dilakukan untuk meningkatkan kualitas diri?

Aku suka ngobrol dengan suami, mencoba resep baru, menulis, dan tidur (ini salah satu me time yang ditunggu-tunggu, haha).

Untuk self development, aku biasanya mengikuti beberapa webinar atau kulwap, membaca artikel-artikel dan berdiskusi dengan suami. Selain itu, aku suka bergabung dengan komunitas dan itu salah satu cara yang paling efektif untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas diri.

Apa makna “produktif” bagi mb Ocha?

Bagiku, produktif adalah bisa menghasilkan suatu karya baik untuk diri sendiri, suami, anak-anak, keluarga, atau masyarakat. Karya tersebut bisa berupa sebuah metode, produk, sistem, konsep, dan peadaban. Aku ingin apa yang aku lakukan merupakan sebuah proses menuju produktif. Pernah gak sih merasa terlalu sibuk dengan rutinitas tapi tidak menghasilkan apa-apa?

Last but not least, ada gak perbedaan mb Ocha alami antara sebelum dan sesudah mengenal heat map?

Ada. Aku menjadi lebih mengenal diriku sendiri, tidak ngoyo atau memaksakan diri untuk melakukan segala hal dengan sempurna. Aku belajar bahwa tubuh, jiwa, dan raga yang sehat merupakan kunci utama agar proses pengasuhan dapat berjalan dengan optimal. Selain itu, akupun bisa berkarya tanpa merasa lelah dan bisa menjaga mood agar senantiasa bersemangat.

***

Salam,

At Tachriirotul M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *