Article,  Motherhood

Bercerita dimana saja dengan Let’s Read

“Ibu happy dong, aqla mau menghibur Ibu”

Kemudian berdiri, memeluk, dan mencium kening, pipi kanan dan kiri.

“Kenapa menghibur ibu?”

“Biar kayak Goob”

Siang itu saya sedang kecewa karena anak saya tidak mau BAB di kamar mandi. Kemudian, saya terdiam. Saat ia mengajak saya bicara, saya masih terdiam. Tidak disangka, ia melontarkan kata-kata tersebut.

Goob adalah seorang tokoh utama dalam salah satu buku 7 Habits of Happy Kids karya Sean Covey yang berjudul “Goob dan Kakeknya”. Dalam cerita tersebut, Goob sedang bersedih karena kakeknya meninggal. Kemudian, teman-teman Goob selalu datang ke rumah untuk menghiburnya. Hari pertama, teman-teman Goob datang bersama-sama, kemudian mereka menyusun rencana untuk datang bergantian setiap hari. Ada yang mengajak Goob berpetualang ke gunung, mencari serangga di tepi sungai, mencari madu di atas pohon, dan bergulat di rumahnya. Semua itu adalah aktivitas yang sering Goob lakukan bersama dengan kakeknya. Akhirnya Goob tidak sedih lagi.

Anak saya sedang menyukai buku tersebut sampai-sampai kami membacanya hampir setiap malam. Rupanya anak saya masih terngiang dengan cerita tentang Goob yang terhibur oleh teman-temannya dan membuatnya kembali ceria.

Sejak anak saya mulai bisa berinteraksi verbal dua arah, saya semakin jatuh cinta dengan buku. Buku banyak membantu perkembangan anak saya dalam banyak hal. Saat mulai toilet training, saya membacakan buku berjudul “Omar sudah tidak pipis di celana lagi”. Omar menjadi tokoh yang tumbuh dalam imajinasi anak saya seperti teman. Jadi, kami pun lebih mudah memotivasinya untuk tidak pipis di celana lagi seperti omar.

Mulai mengenalkan buku digital

Membaca menyenangkan lewat aplikasi let’s read

Selama ini saya dan suami baru mengenalkan buku cetak kepada anak kami. Di masa Pandemi, pikiran kami semakin terbuka bahwa anak-anak generasi alfa akan hidup berdampingan dengan gagdet dan teknologi. Akhirnya, kami memutuskan untuk mulai mengenalkan sisi positif dari gagdet salah satunya dengan mengenalkan buku digital kepada anak kami yang berusia 2,5 tahun.

Saya merasa senang bisa menemukan aplikasi perpustakan digital bernama let’s read yang menyediakan beragam buku cerita bergambar dengan ilustrasi yang sangat menarik. Saat pertama kali melihat aplikasi tersebut, anak kami tampak antusias. Ia sempat kebingungan memilih buku yang akan dibaca karena pilihannya sangat banyak. Untungnya, kita bisa menyaring jenis buku sesuai tingkat kesulitan bacaan. Sehingga, kita bisa menyesuaikan dengan usia anak-anak agar mereka tidak mudah bosan.

Feature penting yang perlu dicermati saat menggunakan aplikasi let’s read

Ada tiga buku yang menjadi kesukaan anak kami, yaitu (1) Duma juga bisa! (2) Tata dan Titi (3) Mencari Pluto. Saya sempat kebingungan saat anak saya memilih cerita tentang “Mencari Pluto” karena buku tersebut bukan berbahasa Indonesia. Ternyata, Let’s read menyediakan beragam bahasa sesuai kebutuhan kita. Jadi, buku berjudul “Mencari Pluto” dapat diubah ke dalam bahasa Indonesia. Lewat Let’s read, kita bisa memilih beragam tema cerita karangan penulis dari berbagai negara di Asia dengan bahasa yang sesuai kebutuhan. Inilah yang membuat kegiatan membaca menjadi menyenangkan.

Cara mengubah bahasa sesuai kebutuhan

Inilah 4 Manfaat yang Kami Rasakan saat Membacakan Buku pada Anak

Membacakan buku menjadi kegiatan rutin kami bersama anak menjelang tidur. Kami merasakan banyak sekali manfaat membacakan buku kepadanya. Inilah beberapa manfaat yang kami rasakan:

1. Memperkaya bahasa

Anak saya sempat mengalami speech delay. Ia baru mulai berbicara saat umur 2 tahun. Sejak saat itu saya menjadi lebih rajin membacakan buku cerita kepadanya. Kosakatanya terus bertambah seiring bertambahnya variasi buku yang kami bacakan. Ada banyak hal berharga yang kami rasakan seperti saat ia menanggapi cerita yang kami sampaikan, atau saat melihatnya membaca buku dengan bahasanya sendiri. Bagi kami, buku bisa menjadi nutrisi bagi perkembangan bahasa anak-anak, dimana bahasa merupakan hal yang sangat esensial sepanjang kehidupan kita.

2. Membantu menstimulasi fungsi working memory pada otak

Membacakan buku dapat menstimulasi daya fokus anak-anak dalam menyimak apa yang kita ceritakan atau katakan. Kita dapat merangsang pertumbuhan imajinasi anak-anak melalui buku. Kita pasti sering mendengar anak-anak menghubungkan hal-hal yang mereka lihat atau temui dengan cerita di dalam buku. Inilah yang perlu kita lakukan untuk membantu menumbuhkan kreativitas dan imajinasi mereka agar kelak mereka dapat berpikir fleksibel dan outside the box.

3. Parameter sensitif period anak

Saya selalu menggunakan buku sebagai parameter pemahaman anak terhadap sesuatu. Saat saya sedang membacakan buku tentang alat konstruksi, anak saya begitu tertarik dengan alat konstruksi. Ia sering bermain pretend play tentang alat konstruksi, membuat miniatur alat konstruksi dari lego, dsb. Biasanya saya memanfaatkan momen tersebut untuk menstimulasi aspek perkembangan lainnya.

4. Memperkuat karakter

Imajinasi anak-anak usia dini (0-6 tahun) sedang berkembang pesat. Kita dapat membentuk karakter anak dengan membangun imajinasi yang indah tentang sebuah karakter, salah satunya melalui buku. Ada banyak tema cerita yang bisa kita gunakan untuk membangun imajinasi tentang karakter yang baik, seperti dari cerita “Duma juga Bisa” yang mengajarkan kita untuk tidak menyerah, cerita “Tata dan Titi” yang mengajarkan kita tentang tolong menolong dan berbagi, atau cerita tentang Goob yang ternyata memberikan imajinasi kepada anak saya bahwa saat seseorang sedih, ia perlu menghiburnya agar kembali ceria. Alih-alih hanya dengan menegakkan kedisiplinan atau memberikan banyak larangan, sepertinya cara ini lebih efektif.

Setiap orang tua pasti merasakan banyak manfaat dari membacakan buku kepada buah hati. Saatnya kita menjadikan kegiatan membaca lebih menyenangkan.

Saatnya Download Aplikasi Let’s Read

Setelah Pandemi usai, pasti dong kita akan bepergian ke tempat yang diidamkan. Saat bepergian, kita tetap bisa membacakan buku pada anak-anak tanpa harus repot membawa buku cetak yang dapat memenuhi koper dan membuat extra bagage.

Kita bisa mulai mengenalkan anak-anak pada alternatif jenis buku bacaan seperti buku digital. Ada 3 hal yang membuat saya jatuh cinta dengan perpustakaan digital let’s read. Sekarang, giliran mom menemukan apa yang membuat jatuh cinta dengan aplikasi ini.

Jatuh cinta pada aplikasi let’s read

Yuk download sekarang dan selamat berpetualang dimanapun bersama Let’s Read ^x^

Salam,

At Tachriirotul M.

Sumber:

Buku Fitrah Based Education karya Ustadz Harry Santosa

Read aloud website

Let’s Read Asia Website

7 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *