Mama's Turning Point,  Motherhood

Meninggalkan bidang akademis dan berkarir lewat bisnis

Mama’s Turning Point Episode 3 bersama Edlin Dahniar

Hi mom,

Di Episode 3 Mama’s Turning Point, slice of stories ingin menceritakan tentang salah satu lukisan perjalanan seorang ibu yang memilih untuk mengubah jalur karirnya dari dosen menjadi womenpreneur.

Cerita kak Edlin ini menyegarkan banget deh dan berhasil memotivasi untuk bisa menikmati hidup yang kita pilih, hehe. Setiap ibu selalu memiliki cara masing-masing untuk membuat hidupnya bahagia.

Yuk mom, kita temukan perjalanan kita dan menikmati setiap waktunya. Apapun itu, yang penting bisa membuat kita tumbuh dan bahagia. Semoga cerita ini bermanfaat ya.

Happy reading!

***

Hi mb Edlin, apa kabar? Sedang sibuk apa sekarang?

Hai Atta, kabar baik. Alhamdulillah sehat. Sibuk seperti biasanya, mengurus anak, rumah, usaha, dan sedikit nonton Drama Korea, hehe

Ohya, gimana nih tantangan mengurus usaha selama pandemi?

Awal pandemi bisnisku terasa banget terkena dampaknya dan bikin panik. Aku sempat on off karena penjualan menurun drastis, sampai-sampai harus meliburkan admin. Sejak Mei lalu, aku mencoba mulai lagi tanpa admin dengan niat mau menghabiskan sisa stok. Tiba-tiba orang konveksi kirim WA, katanya mereka menganggur tapi tidak boleh mudik. Aku merasa kasihan, akhirnya aku memberanikan diri untuk kembali produksi dan belanja bahan lewat online. Padahal, biasanya aku terjun ke pasar sendiri biar bisa meraba-raba bahannya.

Alhamdulillah, sejak Juni penjualan sudah kembali normal. Aku sempat berpikir, mungkin karena produkku adalah baju santai untuk ibu hamil dan menyusui (bahasa kerennya homewear, hehe) jadi cocok dipakai untuk di rumah aja selama masa pandemi. Sejak Juli, admin mulai kerja dari rumahnya dan hanya datang ke rumahku untuk mengambil stok barang. Semoga sekarang dan seterusnya kondisi kembali stabil.

Apa aktivitas mb Edlin sebelum berbisnis online?

Aku dulu dosen di jurusan Antropologi Universitas Brawijaya, Malang. Aku kuliah S1-S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM), di jurusan yang sama. Waktu S2, aku sempat mendapat fellowship riset di National University of Singapore, sempat juga melakukan penelitian lapangan di pedalaman Kalimantan. Sebagai dosen, aku aktif mengajar, penelitian, dan melakukan pengabdian masyarakat. Aku juga terlibat seminar internasional beberapa kali.

Tahun 2016 aku menikah dan suamiku bekerja di Jakarta. Sebagai alasan agar tidak menjalani Long Distance Marriage (LDM), aku melanjutkan kuliah S3 dong di Universitas Indonesia (UI) sampai hamil dan melahirkan. Setelah melahirkan, entah kenapa aku engga (ini pake bold banget, hehe) berminat lagi kembali ke kampus.

Kenapa nih mb gak berminat ngajar lagi?

Sebenarnya ada banyak pihak yang menyayangkan. Ketika ada yang menyampaikannya langsung, aku gak pernah merasa sakit hati. Tapi, aku sempat mengalami kejadian dimana ada orang terdekat yang kecewa dengan pilihanku dan membicarakannya di belakang. Aku sempat merasa sedih banget karena opininya sangat liar dan judgemental, pokoknyajahat deh apalagi tanpa mengklarifikasi langsung ke aku.

Sekarang aku sudah merasa senang dan nyaman sekali dengan hidupku. Aku sangat menikmati saat bisa mengatur waktu sesuai keinginanku. Kadang aku bisa merasa stress lho saat punya banyak keinginan sepele tapi tidak bisa tercapai karena terpaksa harus melakukan hal lain. Ya, se-simple mau tidur dan bangun jam berapa, mau masak atau membeli makanan apa, mau ketemu siapa kapan dan dimana, dan sebingung memilih mau menonton youtube apa netflix dulu, hahaha.

Selain itu, buat aku yang sudah terbiasa tinggal dan bekerja di Malang, aku merasa bekerja di Jakarta itu sangat berat. Aku gak bisa membayangkan harus bangun pagi banget, menempuh kemacetan, dan pulang malam. Kayaknya aku gak sanggup, apalagi saat itu aku baru punya bayi. Setelah ngobrol berdua dengan suami, akhirnya kami memutuskan biar suami saja yang bekerja.

Ohya, suamiku bekerja di bidang akademisi dan seorang peneliti politik di LIPI. Saat ini suamiku bekerja sebagai PhD researcher di KITLV-Leiden dan sebentar lagi kami sekeluarga akan pindah ke Belanda. Aku pun sedang menyiapkan strategi untuk bisa menjalankan usaha jarak jauh agar tetap berjalan. Wah, semoga akan seru memulai pengalaman baru.

Kita flash back sebentar ya mb, kenapa saat itu memilih berbisnis online?

Yang pasti, aku merasa jenuh karena gak punya penghasilan sendiri, haha. Waktu itu online shop baju menyusui masih sangat sedikit, yah di bawah 5. Jadi, pilihannya sangat sedikit padahal aku suka pakai baju menyusui. Aku iseng bikin sendiri, ternyata dari pertama launching sudah laku 12 biji. Ini pencapaian banget buatku dan langsung bersemangat untuk menekuni usaha yang bernama Happymomma.id [link].

Gimana proses adaptasi dari mengajar ke berbisnis?

Adaptasinya cukup smooth. Awalnya aku mengira bisnis online itu hanya untuk mengisi waktu luang. Ternyata engga, karena online atau offline hanya media penjualan dan promosi. Bisnis tetaplah bisnis. Aku mulai membaca buku tentang bisnis, mengikuti kelas dan seminar seputar dunia usaha, bergabung di grup-grup pelaku bisnis online, dsb.

Bagi mb Edlin, apa hal paling menantang selama mengembangkan usaha Happymomma.id?

Online shop baju menyusui semakin banyak dengan model dan media promosi yang bervariasi. Setiap hari hampir selalu ada akun IG baru yang menjual baju menyusui. Aku menjadi termemotivasi untuk terus belajar. Aku harus memantau market baju menyusui, mengikuti algoritma instagram, melihat tren model baju terbaru, pokoknya terus mencari celah agar produk Happymomma tetap bisa diterima.

Untungnya, sejak tahun lalu aku sudah dibantu 1 admin yang bertanggung jawab dalam urusan teknis dan penjualan sehingga aku bisa fokus ke pengembangan produk. Alhamdulillah, dengan adanya Admin Happymomma bisa semakin berkembang, hehe.

Dalam menjalankan bisnis ini, mb Edlin selalu menetapkan target penjualan atau membiarkan bisnis ini berjalan natural?

Awalnya aku kira bisa natural, ternyata engga. Kalau hanya sekedar berjualan sih bisa santai. Tapi, kalau memang niatnya ingin mengembangkan bisnis harus ada target terukur yang dikejar.

Apa hal yang paling disukai dari mengembangkan usaha ini?

Ketika produkku terjual habis, haha. Aku mengerjakan sendiri dari mulai memilih bahan dan mengarang model. Jadi, kalau 1 seri produk habis terjual rasanya lega dan bahagia. Artinya, seleraku diterima di masyarakat umum.

Ada tips gak mb untuk teman-teman yang sedang mulai berbisnis online, apa nih yang perlu dilakukan agar membuat bisnis bisa berkembang?

Tipsnya simple tapi sulit buat pemula: pisahkan keuangan pribadi dan keuangan bisnis. Pakailah sistem gaji untuk diri kita, jadi jangan semua profit kita ambil untuk keperluan pribadi. Di awal, teman-teman bisa mengambil 20% dari profit atau tidak mengambil profit sama sekali. Sisanya, kembalikan ke modal usaha agar usahanya semakin besar.

Ini aja ya tipsnya, kalau yang muluk-muluk pasti sudah banyak di akun motivator bisnis, hehe.

Bagaimana nih management waktu ala mb Edlin?

Aku masih kurang disiplin nih dalam manajemen waktu. Aku masih tidur jam 12 malam, bangun jam 7 pagi. Rentang waktu itu aku pakai untuk bersih-bersih rumah, mengurus anak, selebihnya memegang HP dan laptop untuk mencari hal baru. Tidak lupa juga untuk nonton drama 

Sebelum pandemi, kami ada ART PP (pulang-pergi) yang membantu bersih-bersih dan anakku di daycare. Jadi, aku bisa fokus mengelola bisnis dengan dibantu admin. Untuk makan, aku catering harian karena buatku memasak bisa menghabiskan banyak banget waktu, haha.

Biasanya, apa yang mb Edlin lakukan untuk proses self development?

Sebagai pebisnis yang bukan lulusan ekonomi/bisnis, aku selalu haus dengan buku-buku bisnis praktis, bukan yang teori-teori. Tapi sebagaimanapun kita membaca materi, kalau tidak praktek dan bereksperimen sendiri pasti tidak akan ketemu strategi yang pas.

Untuk pengembangan diri sendiri, aku suka banget membaca buku dan mendengarkan podcast tentang self improvement sepertitentang filsafat stoa, mindfullness, habit, dan lain-lain.

Last but not least, apa me time ala mb Edlin?

Pandemi ini membawaku ke hobi baru yang cocok banget untuk me time: nonton Drama Korea. Awalnya aku cuma nonton Crash Landing on You karena dibahas dimana-mana, apalagi tentang Korea Utara yang selalu menarik perhatianku. Wah, ternyata sebagus itu ya kalau Korea membuat drama, haha.

Jadi, aku berlanjut deh nonton film lainnya dan keterusan. Menurutku drama itu mempunyai tema khusus yang bisa memperluas wawasanku. Misal cerita tentang dokter, pengacara, arsitek, atlit, penjara, keluarga, pendidikan, dsb. Apalagi biasanya tokoh utamanya berumur 30-40 tahun, sama kayak usiaku yang kadang berasa relate. Wah, emang Korean wave ini berhasil banget mempromosikan negaranya.

-end-

Salam,

At Tachriirotul M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *