Motherhood,  Uncategorized

Mengenal Fitrah Based Education (FBE) untuk anak usia 0-6 tahun

Hello mom, sebagai orang tua aktivitas mengasuh anak memang susah-susah gampang ya. Saat ini banyak sekali metode pengasuhan yang bisa menjadi referensi kita dalam mendidik anak-anak. Setiap metode memiliki pendekatan yang berbeda, nah kita juga bisa lho mengkombinasikan beberapa metode pengasuhan agar sesuai dengan kebutuhan pendidikan di rumah.

Salah satu konsep pengasuhan yang menarik buat saya adalah Fitrah Based Ecucation (FBE). Saya pertama kali mendengar FBE ketika mengikuti komunitas Ibu Profesional. Akhirnya saya membeli buku tentang FBE namun saat itu belum sanggup membacanya karena cukup berat. Setelah baru-baru ini mengikuti webinar tentang FBE, saya mulai mencerna lagi isi bukunya (ya meskipun masih belum selesai karena bukunya sangat tebal, hehe).

Fitrah Based Education adalah metode pengasuhan yang dikembangkan oleh Ustadz Harry Santosa yang berfokus pada 8 fitrah manusia. Pada dasarnya setiap orang dilahirkan bersama dengan fitrah yang telah diinstall oleh Sang Maha Pencipta agar kita dapat memiliki peran spesifik dalam kehidupan di muka bumi. Nah, tujuan FBE adalah untuk menumbuhkan anak-anak tangguh yang kelak dapat tumbuh dengan mencintai agamanya, dekat dengan Tuhannya, memiliki karakter yang kuat, mengerti tujuan hidupnya, dan memiliki peran spesifik yang bermanfaat dalam kehidupan bermasyarakat melalui passion atau profesi di bidangnya.

Kedelapan fitrah tersebut adalah: Fitrah keimanan, fitrah belajar dan bernalar, fitrah bakat, fitrah seksualitas, fitrah individualitas dan sosial, fitrah bahasa dan etika, fitrah jasmani, dan adab/akhlak. Setiap fitrah memiliki periode golden age yang berbeda yang dapat membuat pertumbuhan mereka lebih optimal pada usia tersebut.

Dalam tulisan ini, saya ingin membahas tentang fitrah perkembangan anak pada usia 0-6 tahun. Ada beberapa kurikulum pendidikan yang perlu ditekankan pada rentang usia ini, yaitu:

  1. Memperkaya pengalaman sensori dan motorik, open-ended imaginative play seperti bermain peran, dst. Konsep ini juga berkaitan dengan prinsip pyramid of learning (gambar), dimana kita sebaiknya membangun pondasi dasar pada anak melalui permainan yang memperkaya sensori dan motorik mereka, karena ini merupakan dasar bagi perkembangan kognitifnya.
  2. Menyempurnakan Mother tongue (bahasa ibu) yang utuh. Pada usia ini, anak-anak sebaiknya dapat menggunakan bahasa ibu dengan baik, termasuk bisa mengutarakan emosinya, berekspresi, menyampaikan ide, pendapat, keinginan dsb
  3. Executive functioningkenalkan anak pada aktivitas real seperti memelihara hewan dan merawat tumbuhan agar dapat mengembangkan self awareness mereka.
  4. Belajar di alam dengan memanfaatkan seluruh indera seperti menyentuh, meraba, merasa, mencium, dll. Kenalkan anak-anak untuk belajar makna kehidupan dengan memanfaatkan momen yang ada seperti saat melihat hujan, ceritakan tentang air hujan, darimana air hujan turun, kenalkan sifat Allah Sang Maha Pencipta, dsb.

Hal yang paling penting untuk ditanamkan pada anak usia 0-6 tahun adalah cinta, identitas diri, self acceptance, dan self awareness. Di usia ini pun anak belum bisa memiliki tanggung jawab moral ya mom. Jadi wajar kalau mereka tidak merasa bersalah saat melakukan hal yang membuat kita kesal. Pada usia tersebut, kita perlu membangun ke-8 fitrahnya dengan imaji yang positif. Nah, ini beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan fitrah anak-anak usia 0-6 tahun.

1. Fitrah keimanan

Usia 0-6 tahun adalah golden age bagi fitrah keimanan. Di usia ini, anak sebaiknya dikenalkan untuk mencintai agamanya daripada mempelajari agamanya, salah satunya dengan membangun atmosfir kebaikan, kecintaan, kebiasaan baik, dan keridhaan di rumah. Anak akan melihat orang tua sebagai role model, jadi ini adalah kesempatan bagi kita untuk belajar menjadi lebih baik, karena saat menumbuhkan fitrah anak-anak, sejatinya fitrah orang tua pun ikut tumbuh.

Kenalkan anak-anak pada identitas dirinya, siapa penciptanya, apa agamanya, bagaimana ia dilahirkan ke dunia. Kemudian, tumbuhkan kecintaan mereka pada agamanya, tuhannya, rasulnya, dan kitabnya dengan membangun imajinasi yang positif.

Kegiatan yang bisa dilakukan untuk membangun fitrah keimanan mereka seperti:

  1. Membacakan buku tentang keindahan, kebaikan, sifat teladan Nabi dan para sahabat
  2. Mengajak anak ke masjid dan membangun imajinasi yang indah tentang rumah Allah, dimana kita akan merasa tenang di dalamnya, tempat kita meminta apapun yang kita inginkan
  3. Saat mendengar adzan, tampakkan wajah bahagia dan narasikan bahwa Allah mengajak bertemu lewat sholat
  4. Kenalkan Allah pada setiap momen, kaitkan setiap peristiwa kepada sifat-sifatNya (asmaul husna) seperti Sang Pencipta, Sang Pengasih dan Penyayang, Pemberi Rizki.
  5. Tidak memaksakan kepada anak untuk tertib gerakan sholat, tertib bacaannya, tertib waktu sholat, melainkan menumbuhkan gairah dan cintanya pada Allah dan keindahan sholat.

Masih banyak kegiatan yang bisa kita lakukan agar anak-anak memiliki gambaran yang indah tentang agamanya.

Kesalahan yang seringkali kita lakukan dalam menumbuhkan fitrah keimanan pada anak usia 0-6 tahun adalah kita terlalu tergesa memaksa syariah sebelum menguatkan iman/keyakinan. Tanpa kita sadari, orang tua sering memiliki obsesi ingin membuat anaknya cepat shalih dengan mengimajinasikan agama sebagai sebuah aturan yang menakutkan. Kadang, kita hanya fokus mengajarkan agama, bukan membangun aqidahnya.

Ada salah satu pesan yang cukup mendalam saat saya mengikuti sesi webinar tentang FBE ini. Ternyata dalam menerapkan FBE, tidak berlaku prinsip lebih cepat lebih baik, termasuk soal menumbuhkan fitrah keimananya. Di dalam Al-Quran pun telah disebutkan untuk mengajarkan anak-anak sholat saat berumur 7 tahun. Sebelum usia tersebut, mereka masih berada di dunia anak-anak yang sesungguhnya, yaitu dunia bermain.

2. Fitrah Belajar dan Bernalar

Golden age bagi fitrah Belajar dan Bernalar adalah pada usia 7-10 tahun. Pada usia 0-6 tahun, kita perlu menumbuhkan kecintaan dan ketertarikan anak-anak pada belajar dengan menstimulus logika dasar mereka melalui bermain. Tujuannya adalah agar kelak anak-anak tumbuh menjadi pribadi pembelajar yang senantiasa memiliki rasa keingintahuan yang tinggi.

Kegiatan yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan fitrah belajar dan bernalar pada anak usia 0-6 tahun adalah:

  1. Mengajarkan bahasa ibu hingga sempurna, biasakan anak-anak untuk bebas mengekspresikan keinginannya, mengutarakan perasaannya, memberikan pendapat, dsb. Sebaiknya, saat bahasa ibu belum tumbuh dengan baik, kita tidak tergesa-gesa mengenalkan anak-anak pada calistung, karena pada usia ini anak-anak belum perlu diajarkan calistung.
  2. Belajar di alam. Pada usia ini, bukalah pintu petualangan untuk anak-anak di alam. Di usia ini, sebaiknya proses belajar yang dikenalkan adalah experimental learning di alam terbuka, yaitu dengan melihat, menyentuh, meraba, dsb. Belajar di alam dapat membangkitkan imaji mereka dan menstimulus indera yang sedang berkembang (multisensory) karena anak-anak mengingat dengan “muscle memory”
  3. Belajar bersama ayah dan ibu. Kita dapat membuat suasana belajar menjadi menyenangkan. Jangan sampai belajar menjadi hal yang menakutkan bagi anak-anak karena membuat orang tua mudah marah dan terbawa emosi, sehingga tanpa disadari kita sudah merusak fitrah belajar mereka. Ingat mom, di usia ini tugas kita adalah memberi semangat, not too much teaching. Tugas kita pada anak usia 0-6 tahun adalah menumbuhkan cintanya pada belajar, bukan menuntut mereka pada suatu pencapaian.

Kesalahan yang seringkali kita lakukan dalam merusak fitrah belajar dan bernalar anak adalah terlalu memaksakan. Saat ini banyak sekali tren atau standar kecerdasan anak yang sering kita lihat dari video di media sosial yang membuat kita menjadi panik. Jika kita ingin menumbuhkan fitrah belajar anak, tidak berlaku kaidah lebih cepat lebih baik yang membuat kita memaksakan anak untuk belajar sejak usia dini.

Akibatnya, kelak anak bisa tumbuh menjadi anak yang benci belajar, mudah depresi/stres/tertekan, tidak mudah fokus, dan kecerdasannya tidak bisa berkembang. Tanda bahwa fitrah belajar dan bernalar pada anak usia 0-6 tahun tumbuh adalah saat mereka tertarik untuk bereksplorasi, berimajinasi, dan mencintai sumber ilmu.

3. Fitrah Bakat dan kepemimpinan

Golden age bagi fitrah bakat anak-anak adalah pada usia 10-14 tahun. Pada usia 0-6 tahun, kita hanya perlu mengenali keunikan mereka, menghargai, dan menumbuhkannya. Jika anak-anak memiliki sifat unik, sebaiknya kita tidak membenturkannya dengan adab/akhlak.

Kegiatan yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan fitrah bakat dan kepemimpinan adalah:

  1. Memelihara hewan atau tumbuhan untuk menguatkan executive functioning nya. Saat anak-anak tumbuh dewasa, setiap anak pasti akan menjadi pemimpin di bidangnya.
  2. Menghargai, mengapresiasi, dan memberikan peran pada keunikan mereka. Misal, anak yang keras kepala sebetulnya memiliki potensi sebagai pemimpin, maka kita bisa memberikan label “sang pemimpin” lalu berikan mereka peran di rumah seperti mengatur mainan, merencanakan kegiatan di rumah, dsb. Anak-anak yang suka mencoret dinding, berikan mereka kertas dan ruang untuk menghias rumah dengan hasil coretannya. Kita bisa memberikan label “decorator”, dsb.

Kesalahan yang sering dilakukan dalam menghambat pertumbuhan fitrah bakat anak-anak adalah membandingkannya dengan orang lain, memaksakan obsesi orang tua, tidak mengenali keunikan mereka yang membuat kita terlalu dini memberikan label tertentu.

Akibatnya, bakat anak tidak berkembang, saat dewasa ia tidak mengenali potensi/value dirinya yang berakibat karirnya tidak berkembang, merasa tidak bahagia karena tidak mengerjakan apa yang dicintai, merasa salah jurusan, mudah depresi dan galau, dsb.

4. Fitrah Seksualitas

Pada usia 0-6 tahun, kita perlu menguatkan identitas jenis kelamin kepada anak-anak, perbedaan laki-laki dan perempuan.

Kegiatan yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan fitrah seksualitas anak-anak usia 0-6 tahun adalah:

  1. Biarkan anak-anak melekat pada ibunya saat usia 0-2 tahun karena masih menyusui
  2. Saat usia 3 tahun, identitas harus jelas bagaimana bersikap dan berbicara sesuai dengan identitas seksualitasnya. Kita bisa mulai dari cara yang sederhana seperti gaya berbicara (jika laki-laki jangan biasakan berbicara ngondek), memberikan pakaian sesuai jenis kelamin, toileting, dsb.
  3. Usia 3-6 tahun, anak-anak harus dekat dengan ayah dan ibunya, tidak boleh hanya dekat dengan salah satu figur. Ajak anak-anak bermain peran dengan keduanya.
  4. Kelak saat usia 6-10 tahun, dekatkan anak sesuai gendernya. Anak perempuan lebih dekat dengan ibunya, anak laki-laki lebih dekat dengan ayahnya.

Beberapa hal yang dapat menghambat pertumbuhan seksualitas anak-anak adalah kurangnya kehadiran ayah dan ibu (motherless/ fatherless), adanya KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga), boarding school terlalu dini, terjadinya pelecehan/kekerasan seksual saat kecil.

Jika fitrah seksualitas ini tidak tumbuh, ada beberapa hal yang mungkin dapat terjadi saat mereka tumbuh dewasa seperti penyimpangan seksual, melanjutkan KDRT pada anaknya, membenci lawan jenis, pedofilia, dsb. Saat anak perempuan tidak dekat dan merasakan hadirnya figur ayah, saat dewasa mereka bisa mencari kenyamanan figur laki-laki dari orang lain yang dapat menjerumuskan mereka pada seks bebas, mudah berganti pasangan, dsb.

5. Fitrah Estetika dan bahasa

Setiap anak sejatinya memiliki “sense of aesthetics” atau menyukai keindahan. Kita dapat menumbuhkan fitrah estetika dan bahasa pada anak usia 0-6 tahun melalui:

  1. Membacakan buku/dongeng dengan bahasa dan ilustrasi yang indah
  2. Memberikan ruang kepada anak-anak untuk mengekspresikan imajinasi mereka lewat coretan, lukisan, bunyi, dsb.
  3. Kenalkan keindahan melalui indera penglihatan, pendengaran, sentuhan, dsb.
  4. Mulai mengenalkan keindahan bahasa Al-Quran dengan memperdengarkan murrotal, membacakan arti bacaan Al-Quran dengan tema yang relevan dengan dunia anak-anak seperti tema hewan, tumbuhan, hujan, dsb.

Saat ini, banyak muncul kondisi dimana orang tua belum menumbuhkan kepekaan anak-anak untuk melihat keindahan melalui seluruh indera di dalam tubuhnya, tetapi sudah mengintervensi dengan memberikan gadget, sehingga banyak anak-anak yang mengalami speech delay atau mental block. Jika ingin memberikan gadget, sebaiknya kita menggunakannya untuk membangun interaksi, bukan menggantikan interaksi kita dengannya.

6. Fitrah Individualitas dan sosialitas

Pada usia 0-6 tahun, anak belum memiliki tanggung jawab sosial sampai umur 6 tahun. Pada usia ini, kita perlu memberi ruang bagi sisi egosentris mereka agar bisa terpuaskan.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan fitrah individualitas dan sosialitas anak-anak usia 0-6 tahun adalah:

  1. Memberikan ruang kepada anak-anak untuk memiliki dan memilih, misal saat anak tidak ingin berbagi mainan, biarkan.
  2. Tidak memaksa anak-anak untuk mengalah, sehingga anak-anak tidak memiliki persepsi bahwa berbagi itu merugikan dirinya.
  3. Bangun imaji positif tentang berbagi melalui kegiatan yang nyata. Misal, ajak anak-anak ke panti asuhan, libatkan mereka untuk berbagi makanan, dsb.

Kesalahan yang seringkali terjadi adalah kita selalu mengendalikan anak-anak dan tidak memberikan ruang bagi diri mereka sendiri. Jika sisi egosentris tersebut tidak terpuaskan, kelak mereka dapat tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri dan memiliki mental sebagai korban.

7. Fitrah Jasmani

Setiap anak dilahirkan untuk terus bergerak. Pada anak usia 0-6 tahun, kita dapat membiasakan anak-anak untuk memiliki pola makan yang baik, pola tidur yang baik, memberikan ruang bagi anak-anak untuk bergerak, membiasakan hidup bersih.

8. Adab/Akhlak

Ternyata, pada usia 0-6 tahun sebaiknya kita mengimajinasikan adab dengan positif, bukan dengan menegakkan kedisiplinan secara saklek. Sehingga, anak-anak akan menerapkan/melakukannya karena suka, bukan karena takut.  

Itulah 8 fitrah yang dapat kita tumbuhkan pada anak-anak. Sebenarnya, beberapa prinsip yang diterapkan pada FBE serupa dengan pola pengasuhan orang-orang Denmark seperti membiarkan anak-anak untuk bermain, tidak memaksakan anak-anak untuk bersekolah sejak usia dini, memberikan anak ruang untuk berekspresi, dan mengenalkan beragam emosi kepada anak. Sehingga, mereka dapat tumbuh dengan natural sesuai fitrahnya.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat ya mom.

Salam,

At Tachriirotul M.

Referensi:

Webinar Fitrah Based Education untuk usia 0-6 tahun

Buku Fitrah Based Education

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *