Article

3 hal yang saya sukai dari situasi Pandemi Covid 19

Banyak cerita yang kita alami selama Pandemi ini. Selama berada di muka bumi ini, baru kali ini kita berhadapan dengan situasi yang sama, dimanapun manusia berada. Setiap rentang usia harus beradaptasi dengan situasi yang ada, mulai dari bayi yang baru lahir, balita, remaja, dewasa, dan lanjut usia.

Dalam beberapa saat, kita harus bisa melakukan apapun dari dalam rumah. Arti rumah menjadi kian meluas dan bermakna. Bukan hanya menjadi tempat bernaung, melainkan menjadi tempat kita menikmati setiap detik bersama orang-orang tercinta. Setiap orang berupaya membuat rumah menjadi tempat yang nyaman, ada yang membuatnya menjadi rindang dengan tanaman hijau, menghidangkan makanan homemade ala restoran, menciptakan sudut-sudut ruangan yang enak dipandang, dan menciptakan home office untuk tetap produktif menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan.

Masing-masing anggota keluarga memiliki cara masing-masing dalam mengisi waktu. Bapak dan ibu yang bekerja dari rumah membuat sudut ruang kerja yang nyaman agar tetap berkonsetrasi mengerjakan serentetan pekerjaan kantor, ibu menjadi rajin mengulik resep makanan dan kue untuk mengasah kembali skill memasaknya, anak-anak sibuk bersekolah, bermain, dan belajar bersama orang tua dari rumah. Mungkin saat semuanya sudah kembali normal seperti sedia kala, akan ada masa kita akan merindukan semuanya.

Memang, ada hal-hal yang perlu kita sesuaikan selama menjalani aktivitas di tengah Pandemi, termasuk beraktivitas di era new normal. Tapi, ada hal-hal yang saya sukai dari situasi Pandemi Covid-19 ini.

Waktu bersama keluarga

https://www.pexels.com/

Selama masa karantina, saya bisa mengerjakan aktivitas pagi dengan lebih longgar. Ada banyak waktu untuk bercengkrama, minum teh sambil ngemil makanan ringan, menyirami tanaman di halaman rumah, mengajak anak berkeliling komplek sambil naik sepeda, menikmati sarapan dengan lebih santai bersama keluarga dan lari pagi bersama pasangan.

Saat suami bekerja dari rumah, saya bisa mengintip kebiasaannya bekerja. Akhirnya, saya  kembali bersemangat membuat kue dan menyajikannya saat suami beristirahat. Rasanya ada kepuasan tersendiri menyediakan kenyamanan di rumah melalui makanan yang kita buat.

Cerita tentang School from Home (SFH) yang dibagikan teman-teman di media sosial membuat saya ingin merasakan euforia. Saya mendaftarkan short class untuk anak usia dini hanya karena ingin merasakan mendampingi anak SFH. Lewat program ini, orang tua berperan aktif dalam mempersiapkan materi belajar dan melakukan pengamatan kepada anak-anak selama proses bermain dan belajar.  

Ternyata, mendampingi anak SFH cukup repot ya mom, pantes aja banyak yang kewalahan. Tapi, ada hikmahnya lho. Kita bisa memiliki gambaran apa saja kegiatan anak-anak saat bersekolah dan menyadarkan kita betapa pentingnya peran orang tua dalam proses pendidikan anak-anak. Semoga kita bisa belajar memahami perasaan mereka ya.

Revalue our life

https://www.pexels.com/

Minggu pertama karantina membuat saya mengalami gejala psikosomatis setiap membaca berita yang beredar. Semua orang membahas kabar yang sama, saling berkirim tautan kabar terbaru yang kian menyeramkan. Akhirnya, saya memutuskan sign off dari media sosial dan tidak mengikuti berita tentang Covid-19 selama beberapa waktu.

Di tengah kondisi tersebut, kita pasti berusaha mengenali kebutuhan diri sendiri agar tidak berlarut dalam kekawatiran dan ketakutan yang berlebihan. Saat itulah kita mulai mendengarkan pikiran dan tubuh. Kita terkoneksi lagi dengan jiwa dan raga.

Berdiam diri di rumah membuat kita memiliki waktu untuk merefleksikan diri, mengenal lagi kekuatan dan kelemahan, flashback pada apa yang sudah kita lakukan sebelumnya dan belajar melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.

Di rumah, Saya menemukan buku harian lama yang ditulis saat masih sekolah. Saya bernostalgia dengan mimpi masa remaja, ingin menjadi penulis dan pembicara, haha. Impian masa kecil yang kembali menyapa lewat diary itu memotivasi untuk lebih giat menulis dan memperluas jaringan di dunia ini.

Siapa yang menemukan hobi baru selama Pandemi?

Saya, hehe.

Setelah sekian lama, akhirnya saya memulai olahraga. Saat pertama lari pagi, saya benar- benar sadar bahwa selama ini saya menutup mata dari rejeki yang sudah ada di depan mata, yang bisa kita dapatkan ketika membuka pintu rumah dan melangkah keluar. Ternyata, udara pagi itu menyegarkan. Selama ini saya mengabaikan nikmatnya menghirup bau rumput dan dedaunan yang bermandikan embun pagi, hembusan angin pagi yang menyegarkan, oksigen yang bertebaran, dan kilauan sinar matahari pagi yang kaya vitamin.

Pandemi membuat Saya belajar untuk bisa mensyukuri setiap aspek kehidupan yang diberikan Sang Maha Pencipta.

Menumbuhkan Empati

https://www.pexels.com/

“Seorang selebgram mengumpulkan Donasi 2M dalam waktu 2 hari”

“Yuk, kita pesan makanan untuk driver ojek online”

Kabar-kabar itu seperti memacu nurani kita untuk ikut berkontribusi. Pandemi menyadarkan kita bahwa manusia sejatinya adalah makhluk sosial.

Selama Pandemi, Ibu saya mengadakan kegiatan lumbung pangan dengan membagikan paket sembako bagi warga terdampak Covid-19 yang tinggal di sekitar rumah. Selain itu, Ibu juga menggalang dana sosial dan mengadakan pasar gratis dengan menyediakan bahan masakan yang dapat dinikmati oleh warga.

Seorang sahabat memanfaatkan networking yang ia miliki untuk membantu penyediaan Alat Pelindung Diri (APD) di kota kelahirannya. Setelah permintaan APD semakin banyak, ia mengadakan penggalangan dana dan memanfaatkan usaha konveksi yang ia miliki untuk memproduksi APD sendiri dengan menggerakkan para penjahit lepasan yang mulai kehilangan pekerjaan karena Pandemi.

Di media sosial, banyak sekali ajakan untuk berbuat kebaikan melalui berbagai macam gerakan sosial. Ada ajakan untuk berkontribusi menyediakan makanan bagi para tenaga medis, memberikan bantuan bagi keluarga terdampak Covid-19, memberi tip kepada driver taksi dan ojek online, serta ajakan mendukung UMKM dengan membeli produk-produk lokal, dan seruan untuk membeli produk usaha teman.

Pandemi mampu menyentuh empati manusia untuk peduli dengan lingkungan sekitarnya. Kita sama-sama melakukan apa yang kita bisa untuk saling meringankan beban. Meski saat ini sudah memasuki fase new normal, namun kepedulian itu seperti menjadi kebiasaan baru. Melalui kejadian ini, saya belajar untuk mengapresiasi peran berbagai pihak yang telah berusaha keras mengatasi situasi ini dengan mematuhi himbauan yang diberikan.

Semoga Pandemi ini segera berlalu ya, selagi masih ada yang bisa kita syukuri, yuk kita nikmati aja momen yang ada dengan mengoptimalkan apapun yang kita bisa. Amin YRA.

Salam,

At Tachriirotul M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *