Mama's Turning Point,  Motherhood,  Real Talk

Mengajar dan Berwirausaha, kenapa tidak?

Mama’s Turning Point Episode 2 bersama Novia Maulina

Dalam Episode 2 Mama’s Turning Point, slice of stories ingin menceritakan tentang salah satu lukisan perjalanan seorang Ibu yang akhirnya menemukan ruang aktualisasi diri setelah jeda sejenak selama 4 tahun beraktivitas di ranah domestik.

Saat ini ia kembali berkiprah di ranah publik dan memulai fase baru perjalanannya sebagai ibu. Ceritanya seru, bahkan membuat saya terbawa energi semangat untuk lebih bergairah dalam mewujudkan mimpi-mimpi. Saya juga terkesima dengan kerjasama yang dilakukan kak Novia bersama pasangannya, yang membuat saya semakin mengerti makna partner hidup bagi suami dan istri.

Happy reading ^x^

***

Hai kak Via, apa kabar? Sedang sibuk apa nih sekarang?

Halo Atta, Alhamdulillah kabar baik, semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Gimana kabar Atta? Kangen sekali rasanya sudah lama tak bersua. Alhamdulillah, aku sekarang sedang menikmati masa-masa menjadi seorang istri, ibu dari 2 anak, dosen di salah satu perguruan tinggi negeri dan merintis bisnis mainan edukasi anak.

Selama masa Pandemi, aku sedang menyelesaikan projek menulis buku tentang Covid-19. Buku ini merupakan kolaborasi dari beberapa dosen multidisiplin ilmu dari beberapa Universitas. Mohon doanya ya, semoga dapat selesai tepat waktu.

Wah banyak sekali aktivitasnya. Bagaimana cara Kak Via mengatur waktunya?

Nah kalau ini, jujur aku masih belum bisa menerapkan manajemen waktu yang tepat. Aku seperti melakukan akrobat karena selalu multitasking, haha. Setiap hari aku harus membagi waktu antara mengurus anak, mengelola usaha, mengikuti webinar hampir setiap hari untuk upgrade ilmu sebagai pengajar.

Tipsnya adalah menjalani aktivitas dengan semangat dan diniatkan untuk mencari ridho-Nya. Insya Allah kita akan merasa lebih nyaman. Aku selalu membuat prioritas harian. Bagiku, menjelang tidur adalah waktu yang sangat pas untuk merefleksikan kegiatan yang sudah dijalani sepanjang hari. Setelah itu aku akan menetapkan goals untuk hari berikutnya. Jika perlu, bisa membuat catatan to do list harian dan menetapkan prioritas.

Kita flashback sebentar yuk kak via, dulu sempat memutuskan resign ya?  

Wah, iya betul sekali. Aku memutuskan resign sekitar 4 tahun yang lalu, tepatnya setelah anak pertamaku lahir. Saat itu aku menghadapi 2 pilihan antara tetap bekerja demi jenjang karir atau “rehat sejenak” untuk mengasuh anak. Saat itu aku sedang sangat bersemangat meniti karir, apalagi aku merasa sangat cocok dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya.

Aku dan suami memiliki beberapa pertimbangan. Pertama, kami berdua hidup merantau di Jakarta dan jauh dari orang tua maupun saudara. Sebagai orang tua baru, kami berdua merasa belum tega menitipkan bayi di daycare ataupun Asisten Rumah Tangga (ART) tanpa ada pengawasan dari keluarga. Ini adalah alasan terkuat kami.

Kedua, suamiku melihat bahwa aku memiliki potensi yang perlu di-upgrade. Akhirnya, ia memberi tawaran untuk membiayai sekolah S2 sebagai pengganti jika aku berhenti bekerja. Menurut suamiku, sekolah adalah tabungan dan investasi masa depan. Jadi, ia menganggap aku mampu melanjutkan sekolah sambil mengasuh anak.

Setelah mendengar tawarannya, aku semakin yakin dan memilih rehat sejenak dari pekerjaan. Kami mencari informasi sekolah Pascasarjana yang sesuai dengan kebutuhan, yaitu memiliki program Magister Farmasi dan bisa kuliah di hari Sabtu-Minggu. Saat itu aku harus berbagi peran dengan suami karena kami tidak memiliki nanny.

Gimana rasanya sekolah sambil mengasuh anak?

Masha Alloh, pasti dong luar biasa. Aku cerita sedikit ya.

Tahun pertama sekolah, aku sedang menyusui anak pertama. Karena mengambil kuliah hari Sabtu-Minggu, jadwalku sangat padat bahkan sampai petang. Aku berangkat subuh karena jaraknya cukup jauh (sekitar 35 km). Sebelum berangkat, aku harus menyiapkan MPASI untuk anakku yang sudah mulai makan. Sebelum meninggalkan rumah, aku berusaha meyakinkan diri sendiri untuk ikhlas meninggalkan anak bersama ayahnya seharian.

Di awal, aku sempat kawatir. Aku terus membayangkan bagaimana suamiku mengurus semua kebutuhan anak di rumah, mulai dari memandikan, memberi ASIP, menyuapi MPASI dan camilan, sampai menidurkannya. Alhamdulillah, suamiku ridho dan ternyata semakin ahli, hehe.

Di sela-sela kuliah, aku harus memenuhi tanggung jawab sebagai ibu menyusui yaitu pumping. Aku sering pumping di Musholla, bahkan aku pernah nekad pumping saat jam kuliah (menggunakan apron) karena saat itu tidak ada waktu jeda kuliah, haha. Setelah pumping, aku selalu menitipkan ASIP di Ibu kantin agar kualitasnya tetap terjaga sampai aku pulang. (terimakasih Ibu kantin ^x^)

Saat memasuki tahun kedua kuliah, aku dikaruniai kehamilan anak kedua. Perasaanku sempat campur aduk, antara bersyukur mendapat amanah anak kedua dan rasa cemas memikirkan nasib kelanjutan studiku. Saat itu aku tinggal menyelesaikan proposal tesis dan sidang hasil penelitian. Kehamilan keduaku tidak semulus kehamilan pertama. Di Trimester awal, aku mengalami pendarahan dan harus bedrest selama 3 bulan.

Hikmahnya, saat bedrest selama 3 bulan itu aku justru bisa menyelesaikan proposal tesis, hehe. Memasuki trimester akhir, aku harus menyelesaikan penelitian. Aku masih ingat sekali perjuanganku saat itu, mengolah data dan menyusun tesis tengah malam sampai subuh saat anakku tidur. Pagi nya aku kembali berperan sebagai ibu domestik yang harus mengerjakan urusan rumah dan menemani anak bermain. Alhamdulillah, aku bisa menyelesaikan sekolah dan bisa mengabadikan momen kelulusan bersama suami dan kedua putriku.

Apa yang membuat kak via tetap termotivasi untuk menyelesaikan sekolah tepat waktu?

Tentunya karena support suami dan anak-anak. Aku percaya bahwa ridho suami adalah ridho Allah. Jadi, apapun yang dititahkan oleh suami, asalkan itu sebuah kebaikan, aku tidak akan ragu untuk menjalaninya. Bagi kami, menyelesaikan sekolah S2 adalah bentuk perjuangan kami sekeluarga karena ada peran suami dan anak-anak selama proses ini. Jadi, aku seperti memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikannya.

Selama menjalankan peran sebagai ibu yang beraktivitas di ranah domestik, pernah mengalami krisis identitas gak sih kak via?

Pernah, hehe.

Jujur, dulu aku tidak memiliki keinginan menjadi stay at home mom (SAHM) karena aku tipe orang yang suka bekerja keras. Awalnya aku berpikir bahwa menjadi SAHM akan membuat ilmuku tidak berkembang. Ternyata aku salah. Selama menjadi SAHM 4 tahun, aku banyak belajar hal lain tentang kehidupan. Aku belajar dari anakku bagaimana bernegosiasi dengan diri sendiri dan mengesampingkan ego.

Aku juga mengikuti beberapa komunitas support mom yang membuatku tidak mengalami krisis identitas yang berat. Untuk temen-temen yang saat ini memilih beraktivitas di ranah domestik, aku sangat menyarankan untuk menyibukkan dengan kegiatan positif di rumah. Temen-temen bisa mengikuti kulwap atau online parenting class, bergabung dengan komunitas ibu-ibu muda, atau menulis blog. Banyak aktivitas yang bisa temen-temen pilih untuk mengaktualisasikan diri selama menjadi SAHM.

Apa turning point yang kak via alami yang mendorong kak via memutuskan kembali berkarya di ranah publik sebagai dosen?

Aku merasa, turning point nya adalah ridho dan dukungan suami. Selama ini aku menjalankan apa yang disarankan oleh suamiku dan menurutku hal itu memudahkan langkah berikutnya.

Setelah pengumuman kelulusan S2, aku melihat ada lowongan dosen di salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di kota kelahiran kami berdua dan Aku mendaftar. Prosesnya begitu cepat, bahkan tidak sampai sebulan. Alhamdulillah, aku diterima bersama kandidat lain yang merupakan lulusan master terbaik dari beberapa PTN ternama di Indonesia.

Aku sempat ragu menerima tawaran itu. Namun, suamiku terus mendorong dan meyakinkan agar aku mengambil kesempatan yang sudah di depan mata. Suami juga mengingatkan, jika niatnya baik Insha Alloh akan dimudahkan dan dilancarkan oleh Allah SWT. Ia juga berpesan, mungkin ini adalah salah satu cara yang dibukakan Allah SWT agar ilmu yang aku dapat bisa lebih bermanfaat karena ilmu yang mengalir dapat membentuk pondasi generasi berikutnya.

Mendengar kata-katanya, aku menjadi yakin karena suamiku ridho. Akhirnya, aku memutuskan mengambil tawaran sebagai dosen di PTN tempat kelahiran kami berdua.

Selain menjadi dosen, baru-baru ini sedang merintis usaha online ya? Di bidang apa usahanya?

Sebenarnya, aku baru merintis Funlearning_id selama sebulan. Aku memulai usaha di tengah masa Work from Home (WFH) karena Pandemi Covid-19. Usaha ini bergerak di bidang mainan edukasi anak-anak untuk usia 1-7 tahun. Aku mengambil konsep “When Fun Meets Learning” yang artinya bermain itu bisa sambil belajar. Selain itu, kami juga mengusung nilai bonding-playing-learning antara anak dan orang tua. Menurut kami, himbauan Stay at Home selama masa Pandemi Covid-19 ini menjadi momen yang sangat tepat untuk bisa menghadirkan mainan edukasi bagi anak-anak bersama orang tuanya di rumah. Hal ini yang membuat kami semakin bersemangat menjalankan usaha ini.

Ternyata, bermain merupakan proses belajar bagi anak-anak. Melalui usaha ini, kami menciptakan konsep bermain yang mengedukasi (learning through playing). Ada beberapa macam permainan yang kami sediakan, boleh cek IG kami ya Funlearning_id (sekalian promosi, hehe). Kami menyediakan permainan sensori, fine motoric skills (motorik halus), gross motoric skills (motorik kasar), simple science for toddler, flashcard and puzzle, dan pretend play. Desain produk yang kami sediakan Insha Allah akan memudahkan orang tua menemani anak-anak bermain di rumah.

Kenapa memilih usaha mainan edukasi anak-anak?

Usaha ini merupakan hasil dari proses pembelajaranku selama 4 tahun menjadi SAHM. Saat itu, aku sering membuat mainan sendiri (DIY) untuk anak-anakku. Aku sering membagikan lewat media sosial dan ternyata banyak yang tertarik. Karena hobi membuat DIY, aku memberanikan diri merintis usaha Funlearning_id.

Funlearning_id memiliki keunikan tersendiri, yaitu memadukan konsep mainan flanel dengan berbagai taskcard. Kami bekerjasama dengan 5 crafter/penjahit flanel untuk beberapa project mainan edukasi. Kami memilih flanel sebagai media bermain dan belajar karena kain ini memiliki gradasi warna yang sangat lengkap, mudah dibentuk, dan dijahit sehingga menyerupai obyek asli. Kain flanel juga bisa dicuci dan awet. Mainan kain flanel handmade ini menjadi added value untuk Funlearning_id.

Saat kembali beraktivitas di ranah publik dan menjadi wirausaha, bagaimana proses adaptasi yang dilakukan?

Pertama, aku harus memberi pengertian kepada kedua putriku. Sebagai dosen, aku memiliki rejeki lain berupa fleksibilitas waktu sehingga aku masih bisa memegang anak-anak. Dalam mengelola Funlearning_id, semua aku kerjakan secara online mulai dari mencari bahan, bekerjasama dengan berbagai pihak, sampai proses produksi. Aku tidak perlu keluar rumah dan meninggalkan anak-anak untuk menyelesaikan urusan bisnis.

Tantangan terbesar dalam menjalankan semuanya adalah managemen waktu. Alhamdulillah, aku mendapat bantuan dari keluarga dan saudara.

Last but not least, bagaimana peran suami dalam mendukung seluruh aktivitas kak via?

Aku selalu memegang prinsip bahwa dukungan dan ridho suami adalah kunci. Suami selalu mengingatkan bahwa prioritas kami berdua adalah anak-anak dan keluarga. Jadi, sesibuk apapun kami berupaya tetap memprioritaskan keluarga.

Hal itu juga yang membuat suami mengizinkan aku kembali ke ranah publik dan mengajar. Alasannya, selain bisa mendharmakan ilmu agar lebih bermanfaat untuk banyak orang, kami ingin memberi contoh kepada anak-anak bahwa kita bisa tetap mengejar cita-cita tanpa mengesampingkan keluarga. Dalam menjalankan ini semua, kami belum sempurna namun kami berusaha untuk tidak berhenti berproses.

Untuk usaha, ini adalah bonus. Aku memang memiliki impian ingin memiliki bisnis sesuai hobi. Bisnis yang aku jalani sekarang benar-benar hasil karya selama Pandemi Covid-19. Kebetulan, masa Pandemi ini bertepatan dengan libur panjang semester yang membuat aku memiliki lebih banyak waktu luang karena tidak ada jadwal mengajar. Aku mencoba mengisi waktu dengan merintis usaha, sekaligus belajar bagaimana menuangkan ide dan hobi yang aku miliki agar lebih bermanfaat untuk banyak orang.

-end-

Salam,

At Tachriirotul M.

26 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *