Book Talk

BookTalk: Going Offline

Menemukan Jati Diri di Dunia Penuh Distraksi

Buku Going Offline ditulis oleh Desi Anwar, seorang penulis, jurnalis, dan tokoh pertelivisian di Indonesia. Buku ini diterbitkan tahun 2019 dengan jumlah halaman 251.

Ada dua bagian cerita di dalam buku ini. Pertama, tentang mengapresiasi hidup dan kehidupan. Kedua, tentang seni kehidupan. Buku ini menghadirkan banyak cerita yang sangat dekat dengan realitas kehidupan saat ini, dimana melalui media sosial dan realitas virtual, kehidupan online membuat kita terus terhubung dan selalu aktif.

Di tengah realitas virtual yang sudah menjadi bagian dari keseharian kita, penulis mengajak kita untuk menghadirkan seluruh panca indera di setiap momen yang kita miliki. Kita perlu mengapresiasi kembali kehidupan kita yang lebih nyata. Perkembangan teknologi memberikan banyak perubahan sikap manusia dalam menikmat momen-momen di hidupnya.

Di dunia yang penuh distraksi ini, kita seperti terpaku pada ponsel cerdas yang selalu menarik perhatian setiap saat.

Saat bangun tidur, mata kita mulai menyisir letak ponsel cerdas yang kita simpan sebelumnya. Lalu, tangan kita bergegas meraihnya. Pandangan kita terpaku pada layar bercahaya, entah hanya melihat jam, membalas chat, atau membuka media sosial. Tiba-tiba, waktu bergerak. Awalnya kita hanya ingin menatapnya dalam hitungan detik, menit, lalu berubah menjadi sekian jam. Sampai-sampai, kita lupa membuka jendela, menghirup semerbak embun pagi yang segar. Padahal, jiwa dan pikiran kita membutuhkannya.

Saat menyantap makanan di meja makan, kita bisa menjadi manusia yang multitasking, makan sambil menatap ponsel cerdas yang sedang memutarkan serial film yang kita sukai. Sampai-sampai, lidah kita tidak bisa merasakan betapa nikmatnya cumi asin balado dan sayur asam yang tersedia di atas piring. Badan kita seperti mesin. Kita hanya perlu membuka mulut dan membiarkan seluruh organ tubuh kita mengolahnya secara otomatis. Bahkan, saat mengeluarkan kotoran pun, kita tetap terhubung aktif dengan layar.

Saat taveling, kepuasan kita hanya bergantung pada “tempat foto yang instagramable”. Mungkin, kita melewatkan indahnya pemandangan alam sekitar, ngobrol dengan pemandu wisata yang menceritakan tentang sejarah tempat yang sedang kita kunjungi, atau menyapa ibu-ibu pedagang yang menjajakan oleh-oleh khas daerah tersebut. Kita mengalami perubahan cara mengapresiasi sesuatu.

Di bagian kedua, penulis mengajak kita untuk melihat kembali ke dalam diri kita secara utuh.

Realitas virtual yang disuguhkan di media sosial seakan membentuk sebuah standar sosial kehidupan masyarakat. Kita bisa terjebak pada penilaian orang di media sosial yang semu. Melalui buku ini, penulis mengingatkan agar kita terus mencari tahu lebih banyak tentang siapa diri kita agar tidak mudah terombang-ambing dengan arus informasi, penilaian sosial yang semu, dan menghadapi persoalan insecurity.

Di tengah kehidupan yang penuh distraksi ini, kita perlu memiliki cara untuk bisa bertahan dengan tetap menjadi diri sendiri. Kita bisa memulai dengan membangun kembali kebiasaan baik, mengelola waktu dengan lebih pintar agar tidak selalu merasa bahwa waktu berjalan begitu cepat tanpa meninggalkan makna kehidupan yang berarti.

Saat ponsel seringkali mengalihkan tubuh untuk beristirahat, mungkin saatnya kita perlu mendengarkan kembali suara tubuh yang selalu mengingatkan jika ada sesuatu yang perlu kita ubah. Ada banyak hal yang bisa kita upayakan untuk kembali hadir hingga jantung kehidupan yang lebih nyata.

Mengutip dari bagian akhir buku ini, buku ini mengundang kita untuk meletakkan gadget sesekali dan menemukan kembali kesenangan sederhana menghabiskan waktu secara offline. Waktu di mana kita dapat terhubung dengan hal-hal indah di sekitar kita – bukan dengan teks, video, tetapi dengan mata, telinga, sentuhan, perasaan, imajinasi, dan semua indra kita.

Bagi saya, buku ini memberi ruang bagi diri saya untuk kembali melihat dunia dengan lebih nyata. Saya merasa waktu cepat sekali berjalan, seringkali waktu pergi tanpa meninggalkan jejak cerita yang berarti.

Salam,

At Tachriirotul M

11 Comments

  • Rosa

    Bener banget ta.. kita perlu hadir utuh di dunia nyata dan bener banget kalau menikmati dunia riil terasa waktu berjalan lama tapi kalau sibuk virtual waktu berjalan cepat sekali >.< makasih review bukunya ya ta

    • At Tachriirotul

      Makasih mb Ocha udah berkenan membaca. Betul sekali, huhuhu. Pantesan, aku suka ngerasa ini kenapa waktu cepat banget berjalan. Ternyata salah satunya mungkin karena kita sering terpaku pada benda persegi panjang itu. Semangat ibu panutanku, saling mengingatkan.

  • Chriesty

    Aku pernah detox medsos seperti mba Atta, di Ramadan kemarin. Ternyata hidupku baik-baik saja, tanpa banyak distraksi membuka medsos. Menggunakan ponsel jadi secukupnya saja. Eh tapi tak kuat godaannya, jadi balik lagi dengan dalih hiburan diri wkwkw. Thanks sharingnya mak❤️

    • At Tachriirotul

      Hi mb Chriesty, gak ada yang salah kok mb dengan memegang gadget ^x^ (peluk). Semakin kesini Insha Allah kita akan semakin menemukan strategi masing-masing, kapan kita harus mengatur penggunaan gadget yang membuat kita nyaman. Yang penting, kita perlu sama-sama belajar untuk hadir di setiap momen yang kita miliki ^x^.

  • Ratih Ariawati

    Ini menarik bangeettt, bener-bener real bgt dengan kondisi sekarang ya mbak. Semoga di zaman teknologi ini bukan hanya yg jauh saja yang menjadi terasa dekat, tapi keluarga yang nyata-nyata dekat, juga jadi semakin lebih dekat.

    • At Tachriirotul

      Iya mb, Amin YRA. Semoga kita juga bisa lebih aware ya mb dengan diri sendiri dan lingkungan sekitar. Amin YRA

    • At Tachriirotul

      Memang sudah bagian dari kehidupan kita ya mb. Yang penting, kita bisa terus berupaya untuk bisa seimbang antara kehidupan offline dan online ^x^. Semangat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *