Mama's Turning Point,  Motherhood,  Real Talk

Mengasah Value Diri lewat Diamond Dust

Mama’s Turning Point Episode 1 bersama Jehan Rochmatika

Hi mom,

Menjadi Ibu rasanya seperti memiliki canvas kosong untuk menceritakan perjalanan kita sebagai ibu. Kita memiliki banyak pilihan warna, ada merah, kuning, hijau, biru, jingga, hitam, atau warna-warna lainnya. Kita juga bisa menggambar mulai dengan titik, garis lurus, garis lengkung, lingkaran, segitiga, atau bentuk-bentuk lainnya. Kita bisa memilih cerita mana yang ingin diutarakan melalui canvas kosong itu.

Canvas-canvas itu bisa menjadi sebuah lukisan. Jika lukisan-lukisan itu ada di dalam sebuah pameran yang sama, kita akan melihat lukisan yang beragam. Pasti, di dalam setiap lukisan ada makna tersirat yang ingin diceritakan sang pelukis. Kita tidak bisa menilai sebuah lukisan dengan kacamata benar atau salah, bukan?

Melalui tulisan ini, saya ingin membagikan salah satu lukisan perjalanan seorang Ibu yang juga sahabat saya, Jehan. Ceritanya begitu menyentuh dan membuat saya meneteskan air mata. Semoga teman-teman dapat mengambil hal baik dari tulisan ini ya.

Happy reading ^x^

***

Hi jeje, apa kabar?

Halo sasa, Alhamdulillah baik. Terimakasih ya untuk kesempatannya. Masya Allah, ini suatu kehormatan dapat kesempatan untuk berkolaborasi di episode partama.

Ohya, gimana aktivitas kamu selama Pandemi ini je? Sepertinya kamu sempat menginisiasi small funding untuk pengadaan APD ya? Gimana ceritanya?

Iya betul, aku sempat membuka donasi melalui media sosial untuk pengadaan APD di beberapa Rumah Sakit (RS) rujukan pasien Covid-19 di Cirebon.

Suatu hari, seorang teman (Dokter) bercerita bahwa di salah satu RS rujukan pasien Covid-19 tempat ia bertugas sangat kekurangan APD. Aku berinisiatif menghubungi kantor lamaku (PT. Paragon atau yang lebih dikenal dengan Wardah kosmetik) untuk meminta donasi APD. Alhamdulillah, mereka memberikan respon yang baik dengan mengirimkan bantuan APD untuk RS tersebut.

Sejak itu aku mendapat banyak permintaan APD dari teman-teman Dokter yang bertugas di RS lain, khususnya di Cirebon. Akhirnya aku berpikir untuk membuat APD sendiri, mengingat usaha yang sedang aku rintis bergerak di bidang konveksi. Aku memiliki beberapa partner penjahit rumahan/lepasan yang terkena dampak pandemi, sehingga aku bisa menggerakkan mereka agar tetap memiliki penghasilan.

Selama mengelola donasi ini, aku berkolaborasi dengan teman-teman Dokter. Mereka memberikan insight jenis APD seperti apa yang diperlukan oleh tenaga kesehatan. Selain itu, mereka melakukan pendataan RS dan puskesmas di Cirebon yang memerlukan bantuan APD sehingga dapat tepat sasaran.

Jeje, kita sharing tentang motherhood life ya. Sudah berapa lama ya kamu beraktivitas di ranah domestik? Masih inget gak, apa yang membuat Jeje memutuskan untuk beraktivitas di rumah?

Aku memutuskan beraktivitas di rumah sejak Maret 2018, berarti sudah sekitar 2 tahun.

Jujur, keinginan untuk berhenti bekerja selalu muncul di pikiranku selama 3 tahun. Banyak pergulatan batin yang aku rasakan sejak anak pertamaku-Farah lahir. Farah lahir dengan kondisi facial cleft. Saat itu, kami memutuskan untuk melakukan operasi dan harus mempersiapkan kondisi Farah yang masih bayi. Kadar Hemoglobin (Hb) Farah selalu rendah, sehingga tidak memenuhi syarat kadar Hb untuk operasi. Setelah berkonsultasi dengan dokter, kami baru mengetahui kalau ia memiliki carrier Thalasemia. Sebagai ibu baru, pasti rasanya sedih sekali. Aku bisa menangis hampir setiap hari.

Saat itu aku sempat mengajukan resign agar bisa fokus pada proses operasi Farah. Tetapi atasanku membujuk agar aku tetap bekerja di perusahaan, sebagai gantinya Aku diberikan cuti tambahan selama satu bulan (di luar cuti melahirkan) agar bisa menemani Farah operasi.

Sebelum kembali bekerja, aku juga mengalami proses pencarian panjang mencari pengasuh yang tepat. Bahkan, kami pernah berganti pengasuh sampai 5 kali. Aku dan suami kemudian mencari solusi lain, yaitu menitipkan Farah di Daycare. Enam bulan di Daycare, Farah terkena ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) bersamaan dengan 5 anak lain. Saat itu demamnya sampai 40 derajat dan harus dirawat di RS. Rasanya sedih sekali melihat anakku harus kembali opname.

Setelah kejadian itu, kami tidak lagi menitipkan Farah ke Daycare. Kami memutuskan untuk menitipkan Farah di tempat orang tuaku di Cirebon. Menurut kami, keputusan itu yang terbaik.

Setiap Jumat aku pulang ke Cirebon untuk bertemu Farah. Saat Minggu tiba, rasanya begitu berat untuk melangkahkan kaki kembali ke Ibukota. Sepanjang perjalanan aku tidak berhenti menangis membayangkan harus berjauhan lagi dengan putriku. Kami menjalani hidup berjauhan selama hampir 2 tahun, Farah di Cirebon, sedangkan aku dan suami di Jakarta.  

Dalam kondisi seperti ini, aku sangat bersyukur memiliki suami yang selalu mendukung apapun keputusanku. Kami selalu membicarakannya berdua, termasuk menimbang konsekuensi yang akan kami hadapi.

Menjelang 2 tahun hidup berjauhan dengan Farah, Aku seperti mengalami pergulatan batin antara merasa dibutuhkan oleh perusahaan dan dibutuhkan oleh putriku. Aku mencoba menimbang situasiku saat itu. Saat itu Anakku berusia 3 tahun dan sedang mengalami emosi tantrum yang meledak-ledak. Selain itu, ia susah sekali makan, berat badannya selalu di ambang batas bawah dan belum berhasil toilet training. Akhirnya, aku memantapkan diri untuk mengajukan surat pengunduran diri pada 9 Maret 2018.

Hal apa yang paling Jeje sukai setelah memutuskan beraktivitas di rumah?

Hal yang paling menyenangkan sudah pasti bisa memiliki waktu lebih banyak bersama anak. Selain itu, aku seperti memiliki ruang lebih banyak untuk mengasah lagi hobiku membuat desain, fotografi, dan dekorasi.

Kalau hal paling menantang yang Jeje rasakan setelah memutuskan beraktivitas di rumah?

Apa ya, mungkin melawan ego diri sendiri dan memastikan untuk bisa konsisten menjalankan peran utamaku di rumah bersama Farah.  

Saat ini Jeje sedang merintis usaha bernama Diamond Dust ya? Usahanya di bidang apa?

Diamond Dust ini awalnya bergerak di bidang jasa desain. Seiring berjalan waktu, aku mendapat beberapa insight dari customer yang membuat aku mencoba memperluas usahaku. Saat ini Diamond Dust menyediakan produk souvenir/merchandise, hampers/gifting, jasa pembuatan desain dan dekorasi acara atau event planner.

Apa yang membuat Jeje akhirnya memutuskan untuk memulai usaha itu?

Ide untuk memulai usaha Diamond Dust sebetulnya sudah muncul sejak aku masih bekerja. Setelah resign, aku langsung memulai usaha tersebut. Di awal, usahaku berjalan biasa saja karena masih sangat awam dan minim ilmu. Aku berusaha mengikuti banyak pelatihan bisnis untuk pelaku UMKM yang diselenggarakan secara gratis.

Saat menjalankan usaha tersebut, aku sempat mengalami perasaan menjadi Ibu yang tidak berdaya karena usahaku stagnan. Di tengah kegamangan itu aku teringat Almarhum ayahku yang selalu berpesan “mintalah pertolongan hanya kepada Allah SWT. Percayakan keputusan kepada-Nya”. Suamiku juga selalu mengingatkan, apa tujuan utamaku berhenti bekerja.

Aku berusaha berdamai dengan diri sendiri, mencoba ikhlas dan kembali fokus pada tujuan utamaku saat memutuskan berhenti bekerja, yaitu membersamai tumbuh kembang Farah. Akhirnya aku memposisikan Diamond Dust sebagai wadah untuk mengasah value diri dan mengisi waktu. Aku membangun mindset dalam diriku, omset yang bagus adalah bonus dari Allah. Jangan sampai Diamond Dust malah menambah beban pikiran dan membuat tidak bahagia, hehe.

Apa value dan target market dari Diamond dust?

Value kami adalah “little helper for every occasion” yang dibagi menjadi :

  1. “eco-friendly bag”, with reusable bag (produk merchandise totebag, pouch, backpack)
  2. “send love from afar, gifting on the way” ini khusus untuk menjawab kebutuhan customer yang saat ini harus social distancing selama Pandemi namun ingin tetap menjalin silaturahmi dengan mengirimkan customized gift dan hampers.

Target Market Diamond Dust adalah semua umur, gender, dan usia. Tapi tentu ada spesifik target market di setiap produk yang kami tawarkan. Yuk, mampir ke IG kami di @diamond.dusts. Kami juga sudah membuka toko di shopee.

Apa tips and trick Jeje dalam mengelola waktu saat menjalani multi aktivitas di rumah? Bagaimana memberikan pengertian kepada Farah kalau ada pekerjaan yang harus jeje lakukan?

Aku menetapkan prioritas sehari-hari untuk keluarga dulu. Setiap pagi aku fokus untuk mempersiapkan suami dan anak. Aku menargetkan untuk selesai pukul 08.00, kadang baru selesai jam 10.00 sih, haha. Jam kerja Diamond Dust aku sesuaikan dengan situasi di rumah.

Saat sedang ada deadline pekerjaan, kadang waktu bersama anak menjadi berkurang. Namun, aku akan berusaha memenuhi kebutuhannya terlebih dulu seperti menemani membaca buku, bermain beberapa saat, dsb. Setelah itu, aku akan meminta ijin kepada Farah dan memberi pengertian kepadanya. Alhamdulillah, karena anakku sudah berusia 5 tahun jadi lebih mudah bernegosiasi.

Untuk menjaga produktivitasku, Aku masih melakukan kebiasaan saat masih bekerja di kantor, yaitu membuat TTD (Things to Do Today) setiap menjelang tidur. Cara ini cukup ampuh untuk tidak melewatkan list orderan dari customer, maklum ibu-ibu banyak yang harus dipikirkan, hehe.

-end-

Salam,

At Tachriirotul M.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *