Motherhood

Terapi Wicara Anak 2 Tahun

Bunda, mendengar celoteh sang buah hati pasti menjadi momen yang paling ditunggu. Saat bayi mulai memasuki umur 1 tahun, perkembangan bahasa menjadi salah satu milestone yang akan mereka lewati.

“Pa pa pa pa pa”

“Ma ma ma ma ma”

Kata-kata itu mungkin menjadi celotehan pertama yang kita dengar darinya. Rasanya pasti tak bisa terbayar oleh apapun. Kita menjadi lebih antusias mengenalkan beragam suara dengan ekspresi yang tak ada habisnya, berharap mereka menyahut dengan gembira.

Saat umur 15 bulan, anak saya pernah mengikuti program kelas bermain di Rumah Dandelion. Di awal pertemuan, kami melakukan skrining tumbuh kembang anak dalam beberapa aspek, seperti: (1) Aspek personal sosial, (2) Aspek motorik kasar, (3) Aspek motorik halus, dan (4) Aspek bahasa.

Dari hasil skrining, aspek perkembangan bahasa anak saya “perlu perhatian”, terutama pada kemampuan bahasa ekspresif nya. Sedangkan, kemampuan bahasa reseptif (seperti mengikuti dan merespon perintah) sudah sangat baik. Ada beberapa rekomendasi stimulasi untuk meningkatkan kemampuan bahasa ekspresifnya, seperti meningkatkan frekuensi membaca buku, menarasikan setiap interaksi, dan merangsang mereka untuk melanjutkan akhir suku kata yang kita ucapkan, seperti “ini mata, ma (ta)”. Sejak saat itu, saya berusaha memperbaiki interaksi dengannya.

Saat umur 18 bulan, anak saya belum bisa menyebutkan kata yang berarti. Namun, ia memiliki kemampuan reseptif yang cukup baik. Ia bisa bermain puzzle knob, memasangkan gambar dan benda yang sama, menunjuk benda dan anggota tubuh, melakukan yang diminta, dan dapat berinteraksi dengan sangat baik. Hal tersebut membuat saya yakin bahwa ia tidak mengalami gangguan pertumbuhan. Saya percaya, kemampuan bicara nya akan berkembang seiring waktu.

Saya berusaha memberikan beberapa stimulasi yang cukup intensif, seperti meniup tisu/bubble/lilin untuk meningkatkan oromotornya, meningkatkan frekuensi read aloud dan bermain sensory play, berkata denga suara lebih keras, dsb selama kurang lebih 2 bulan. Akhirnya, ia mulai dapat menyebutkan 6 kata berarti saat berumur 22 bulan.

Saya sempat khawatir. Saya berupaya terus mencari informasi tentang perkembangan bahasa pada anak 1-2 tahun dan akhirnya menemukan seminar tentang Anak dengan keterlambatan bicara dan bahasa dari dr. Hardiono dan dr. Tiwi di Youtube (link).

Ternyata, ada beberapa kondisi terkait perkembangan bicara pada anak yang perlu kita pahami. Faktor penyebab dan jenis gangguannya berbeda. Menurut dr Hardiono, kemungkinan diagnosis terkait adalah:

1. Keterlambatan bicara (late talkers)

Kondisi dimana perkembangan anak normal, namun belum bicara. Kalau istilah orang tua kita, anak sedang merekam seluruh kata-kata yang sering ia dengar. Saat umur 2-3 tahun nanti, ia akan mengeluarkan banyak kata sekaligus. Nah ini biasa terjadi pada anak laki-laki.

2. Gangguan bahasa, yang meliputi:

  • Gangguan pendengaran
  • Intellectual Disability
  • Autism, social communication disorder
  • Developmental language disorder (reseptif, ekspresif)
  • Gangguan produksi suara

Kondisi tersebut akan mempengaruhi jenis terapi yang diperlukan.

Setelah mendengar penjelasan dokter tersebut, saya cukup yakin bahwa anak saya hanya mengalami keterlambatan fungsional bicaranya saja. Untuk memastikan, saya mencari klinik tumbuh kembang anak dan akhirnya berjodoh dengan klinik ASA di BSD. Sebetulnya di Bintaro ada klinik Pela 9, namun untuk skrining tumbuh kembang harus menunggu antrian selama 2 bulan dan hanya bisa dilakukan di cabang Kebayoran. Saat itu saya ingin melakukan skrining tumbuh kembang sebelum anak saya berumur 2 tahun.

Akhirnya kami membuat appointment dan berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (yang juga pemilik klinik ASA). Saat proses skrining, dokter mengacu pada tabel perkembangan Denver. Dokter memberikan beberapa stimulasi dan mengamati responnya. Alhamdulillah, hasil skrining anak saya cukup baik dan menunjukkan tidak ada gangguan internal seperti gangguan fungsi oromotor, pendengaran, sensori, motorik halus dan kasar, rentang fokus, dsb. Ia hanya memiliki kendala pada kemampuan bahasa verbal saja, apalagi ia sudah mampu menyebutkan beberapa kata dan memiliki kemampuan reseptif yang baik. Menurut dokter, kemampuan bicaranya pasti akan berkembang seiring stimulasi yang terus dilakukan.

Saat itu Dokter memberikan pertimbangan, apakah akan memberikan terapi atau tidak.  Akhirnya saya memutuskan untuk memberikan terapi wicara selama 3 bulan dengan frekuensi 2x/minggu. Saat proses terapi, anak hanya bersama dengan terapis di ruang terapi selama 50- 60 menit.

Beberapa stimulasi yang diberikan selama terapi sebetulnya sering kami lakukan di rumah, seperti bermain flash card, puzzle knob, dsb. Ada beberapa stimulasi khusus yang diberikan seperti:

  1. Massage pipi
  2. Merangsang bibir, lidah, dan dinding mulut bagian dalam dengan menggunakan sikat gigi 3 stage merk pigeon
  3. Melatih huruf vokal a,i,u,e,o
  4. Melatih kata “papa baba mama wawa”
  5. Meningkatkan oromotor dengan meniup tisu, bubble, dsb

Bagaimana situasi saat terapi?

Pertama kali datang, anak saya sempat menangis cukup keras di dalam ruangan dan terus berusaha membuka pintu. Saat itu saya sempat merasa bersalah dan ingin menyudahi ikhtiar ini. Namun sepertinya para terapis sudah terbiasa menghadapi situasi yang sama, jadi proses terapi berjalan lancar. Anak saya sempat menangis dan menolak masuk ruangan hanya 3x pertemuan di awal saja, selebihnya ia tampak bersemangat. Saya terus berdoa dan meyakinkan diri sendiri untuk menyelesaikan terapi selama 3 bulan.

Bagaimana perkembangan bicaranya?

Setelah mengikuti terapi selama 3 bulan, Alhamdulillah perkembangan bicaranya sangat baik. Saat proses evaluasi, dokter turut senang melihat perkembangan anak saya. Ia mulai bisa menyebutkan benda-benda yang ditunjuk, menyebutkan 2 suku kata, dan berkomunikasi dua arah. Dokter meluluskannya. I am beyond proud.

Kenapa memilih ASA klinik?

  1. Melihat ulasan positif di google
  2. Melihat profil klinik ASA di IG yang tampak homey
  3. Melihat profil dokter yang terlihat lembut dan baik (subyektif)
  4. Biaya konsultasi yang tidak terlalu mahal
  5. Jadwal praktek dokter tersedia setiap hari, sehingga tidak perlu menunggu lama

Refleksi

Selama menemani terapi, banyak cerita yang saya dengar. Perjuangan setiap ibu itu berbeda, dan semua ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak.

Di hari pertama, seorang Ibu membagikan cerita perjalanannya mencari sekolah inklusi untuk putranya yang memiliki intellectual disability. Di hari lain, seorang Ibu membagikan cerita perjalanannya mencari tahu kondisi anaknya yang berbeda, yang ternyata memiliki sindrom asperger.

Saya percaya, setiap ikhtiar yang kita lakukan Insha Alloh akan dicatat sebagai sebuah kebajikan. Karena begitulah semestinya kita mengupayakan yang terbaik dalam menjaga amanah yang diberikan langsung oleh Sang Maha Pencipta melalui rahim kita.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat ya bunda ^x^

Salam,

At Tachriirotul Muyassaroh

Informasi klinik tumbuh kembang Anak

Klinik ASA

Jalan Ciater Barat, Jalan Kompleks BSD No.64, Rawa Buntu

Kota Tangerang Selatan, Banten 15318

Indonesia

Referensi:

Youtube: Anak dengan Keterlambatan Bicara dan Bahasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *