Motherhood,  Real Talk

Hak Waktu Ibu

“Pada beberapa kasus permasalahan pada anak, ternyata mereka tinggal bersama ibu yang tidak bekerja”

Saya masih ingat sekali kalimat yang disampaikan oleh Ustadz Bendri Jaisyurrahman saat mengikuti kajian parenting tahun 2019 lalu. Saya sempat tidak menyangka, bukankah ibu yang tidak bekerja memiliki lebih banyak kesempatan untuk membersamai anak-anak mereka, kenapa?

Ternyata, Ibu yang tidak bekerja cenderung memiliki emosi yang tidak stabil. Berdasarkan artikel berikut [link], Melinda Paige, Ph. D, seorang profesor konselor kesehatan mental klinik menyatakan bahwa ada beberapa kondisi psikologi yang dialami ibu rumah tangga seperti perasaan terisolasi, kehilangan tujuan dan identitas, serta kurangnya interaksi sosial. Kondisi tersebut dapat memicu gangguan kesehatan mental pada ibu seperti stres dan depresi.

Sayangnya, anak-anak (terutama usia 1-3 tahun) seringkali menjadi tempat pelampiasan emosi negatif orang tua yang berdampak pada perkembangan psikologis anak-anak. Mereka rentan mengembangkan sikap agresif atau malah tertutup, menjadi pendiam, dan memendam perasaan. Alih-alih tujuan kita ingin membersamai anak 7/24 agar mereka tumbuh bahagia, bisa jadi malah sebaliknya.

Dua tahun lalu, saya memutuskan berhenti bekerja dan memilih beraktivitas di rumah, this was my own decision. Menurut saya, memilih tidak bekerja harus merupakan keinginan pribadi. Jika kita melakukannya karena sebuah paksaan atau tuntutan, kita dapat menghadapi tekanan emosi yang lebih besar. Selain itu, kita akan lebih sulit menerima keadaan, cenderung sulit berdamai dengan diri sendiri dan mudah menyalahkan lingkungan sekitar.  

Bunda, ternyata emosi negatif yang sering kita alami dikarenakan tidak terpenuhinya hak-hak waktu kita. Mungkin selama ini kita teralihkan oleh kewajiban kita kepada anak dan keluarga, sehingga kita tidak ingat dengan hak diri sendiri sebagai seorang individu. Bunda perlu membicarakan perasaan bunda kepada pasangan dan mengkomunikasikan apa yang bunda perlukan.

Bunda, ini hak waktu bunda yang perlu dinikmati.

1. Me Time

Take your time to keep your sanity

-Anonim-

Bunda yang paling mengerti apa yang bunda butuhkan. Bunda tidak perlu merasa bersalah jika memang merasa terhibur dengan menonton drama korea, film, berkebun, membuat kue, menata rumah, olah raga, menulis, atau bahkan surfing di Youtube (termasuk lihat vlog-vlog artis, haha).

Sebelum ada pandemi covid-19, saya sering pergi ke coffee shop sambil menulis, datang ke kajian ilmu, menonton film sendiri, atau bahkan sekedar mengunci diri di kamar selama 2 jam dan membaca buku. Ada kalanya saya hanya menonton serial film di netflix dan kepo-kepo di youtube. Atau ada kalanya saya suka membuat kue.

Ternyata, salah satu kunci menikmati me time adalah bahagia dan tanpa beban. Saya pernah kesal pada diri sendiri, kenapa tidak bisa menikmati me time yang produktif. Ujungnya, perasaan itu membuat saya tidak happy. Ternyata saat otak kita menangkap sinyal bahagia, tubuh akan menstimulus produksi hormon Endorfin yang dapat membuat raga kita sehat dan bersemangat. Yang penting, kita punya takaran waktu agar tidak kebablasan.

Seiring waktu, kita pasti menemukan cara menikmati me time yang produktif, bahkan memberikan sumber penghasilan atau memberikan manfaat untuk sekitar.

2. Couple Time

Bunda, kapan terakhir menikmati kebersamaan bersama suami?

Meski sudah memiliki buah hati, bunda perlu percikan benih-benih romansa bersama pasangan agar kehidupan rumah tangga menjadi tidak hambar. Karena, kehambaran romansa dapat menjadi pemicu masalah-masalah lain dalam rumah tangga.

Bunda, kebutuhan setiap pasangan dalam menikmati waktu berduaan pasti berbeda. Untuk itu, bunda perlu membicarakannya sama-sama. Jika rasanya sulit untuk pergi berdua, mungkin bunda bisa menikmati pillow talk, menonton film di rumah, atau sekedar duduk di meja makan sambil menikmati teh hangat dan camilan ringan. Coba diusahakan tanpa distraksi ya bunda, termasuk membaginya di media sosial.

Sebelum ada pandemic covid-19, setidaknya dalam 1 bulan saya dan suami suka menonton film atau belanja ke pasar modern hanya berdua. Kami sering menitipkan anak di rumah asisten rumah tangga yang kebetulan tinggal tidak begitu jauh dari rumah.

Selama covid-19 dan ramadhan ini, banyak momen seperti saat sahur dan ba’da subuh yang dapat bunda manfaatkan.

3. Social Time

Semenjak memutuskan menjadi ibu rumah tangga, salah satu perubahan yang begitu saya rasakan adalah keterbatasan interaksi sosial. Jika dulu saya bisa bertemu banyak teman tanpa peduli jarak dan waktu, sekarang semuanya perlu banyak pertimbangan.

Jangkauan interaksi semakin sempit, teman dekat pun bisa dihitung dengan jari. Meski kita tetap bisa melakukan interaksi onlie, tapi rasanya sangat berbeda. Untung, saat ini banyak komunitas parenting yang terjaring secara online dan tersebar di banyak regional. Sehingga, kita memiliki kesempatan untuk memperluas pertemanan dan berinteraksi secara offline.

Bunda, menurut saya bergabung dengan komunitas dapat menjadi pilihan untuk menyalurkan hak waktu sosial kita. Bunda bisa memilih komunitas apa yang paling cocok dengan karakter bunda.

4. Time with your Creator

Bunda, ternyata batin kita memiliki hak waktu bersama Sang Maha Pengasih dan Penyayang. Seandainya setiap hari kita mampu bangun di sepertiga malam terakhir, berada dalam kesunyian, menceritakan isi hati, meluapkan tangisan, dan menghamba kepada Sang Pencipta, pasti rasanya nikmat luar biasa karena dapat menetralkan emosi negatif yang kita rasakan.    

Bunda, meski menjadi Ibu rumah tangga rentan mengalami gangguan kesehatan mental, namun bunda bisa memilih untuk bereksplorasi. Saat saya merasa lost the track, saya coba melihat lebih dalam pada diri sendiri. Saya membuat mind maping berikut untuk mengingat lagi apa alasan saya memutuskan tidak bekerja saat itu, menggali value, dan apa yang ingin saya eksplorasi, termasuk obstacle dan outcome nya.

Semakin menggali, mungkin bunda menjadi lebih mengenal diri sendiri dan mengenal apa yang benar-benar ingin bunda lakukan. Setelah itu, bunda bisa step up kembali. Jika memang bunda ingin kembali berkarya, just do it. Jika bunda ingin berwirausaha, just do it. Jika bunda ingin kembali bersekolah, just do it. Jika bunda ingin menjadi ibu rumah tangga yang memiliki value, just do it.

Saya pun demikian, masih terus menggali potensi diri dan menimbang-nimbang apa yang ingin saya lakukan berikutnya.

Mom, do not compare. Let’s spark the beauty inside you.

-Anonim-

Salam,

At Tachriirotul Muyassaroh

Reference:

Halodoc: Ini Penjelasan Mengapa Ibu Rumah Tangga Lebih Rentan Mengalami Depresi

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *