Article,  Motherhood

Menyelamatkan Anak dari Stunting

Apa yang muncul di benak ibu saat mendengar istilah stunting (kerdil)?

Buat saya, stunting was my nightmare T.T

Anak saya pernah didiagnosa stunted di umur 15 bulan karena tinggi badannya stagnan selama 3 bulan berturut-turut dan kurva pertumbuhan tinggi badannya mulai menurun, bahkan nyaris di bawah garis merah (-2 SD). Rasanya rontok hati ini. Saya pernah menceritakannya di tulisan ini.

Stunting cukup sering dibahas oleh beberapa akun parenting dan dokter anak di media sosial. Bayangkan, 1 dari 3 anak Indonesia mengalami stunting. Prevalensi stunting di Indonesia tahun 2018 masih 30,8% (batas WHO 20%). Itulah mengapa saat ini pemerintah memberikan concern yang cukup besar pada isu ini. Pak Jokowi ingin meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia sejak dalam kandungan.

Sebetulya saya masih suka rancu membedakan antara stunting dan pendek. Saat membaca informasi dari beberapa akun dokter di media sosial, terkadang penjelasannya belum seragam. Semoga melalui tulisan ini, kebingungan saya bisa sedikit tercerahkan dan dapat memberi gambaran kepada teman-teman.

Pengertian Stunting (kerdil) menurut WHO

Stunting merupakan gangguan pertumbuhan, dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan usianya. Di dalam grafik pertumbuhan WHO, kondisi ini diukur dengan panjang atau tinggi badan di bawah minus dua standar deviasi (< -2SD atau di bawah garis merah).

Ternyata, selain tinggi badan yang kurang tersebut, seorang anak dikatakan stunting jika mengalami kondisi berikut:

1. Infeksi berulang dan atau penyakit kronis

Terjadinya infeksi berulang dapat menyebabkan:

  • Nafsu makan berkurang atau hilang dalam jangka waktu lama
  • Energi tubuh hilang karena digunakan untuk meningkatkan sistem imunitas tubuh dan melawan bakteri
  • Penyerapan nutrisi terganggu

2. Asupan nutrisi yang kurang (malnutrisi)

3. Tidak mendapat stimulasi yang memadai

Jadi, balita pendek (kurva tinggi di bawah garis merah) belum tentu stunting. Menurut dr Aman Bhakti Pulungan SpA(K) FAAP (@amanpulungan), anak yang memiliki perawakan pendek tetapi pintar dan sehat tidak dapat dikategorikan sebagai stunting. Bisa jadi kondisi tersebut karena faktor keturunan.

Persentase stunting berdasarkan umur (WHO, 2014)

Jika melihat tabel di atas, 90% stunting terjadi pada 1000 hari kehidupan anak (sejak dalam kandungan), dimana paling banyak terjadi pada umur 6–24 bulan atau saat anak mulai MPASI. Ternyata, kondisi ini berdampak pada kehidupan anak di masa yang akan datang seperti:

  • Kemampuan kognitif dan ketahanan fisik yang lebih rendah
  • Produktivitas yang menurun
  • Resiko terkena penyakit meningkat

Apakah stunting dapat diobati?

Tidak

Apakah stunting dapat dicegah?

Sangat bisa

Sebagai ibu, kita memegang peranan paling utama dalam mencegah stunting. Apa sih yang bisa kita lakukan?

  1. Memenuhi nutrisi yang dibutuhkan anak selama mengandung dan menyusui
  2. Memastikan asupan nutrisi anak cukup
  3. Memperhatikan grafik pertumbuhan anak. Jika grafik pertumbuhan anak mengalami penurunan atau stagnan selama 3 bulan berturut-turut, konsultasikan kepada dokter dan diskusikan apakah perlu dilakukan observasi atau pemeriksaan tertentu
  4. Memberi stimulasi yang cukup kepada buah hati

Bagaimana anak saya didiagnosa stunted?

Sebetulnya anak saya tidak mengalami gejala apapun. Aktivitas fisiknya luar biasa aktif, tidak demam, dan tidak lemas. Saat itu anak saya berumur 15 bulan dan makannya sedang naik turun. Saat vaksinasi dan ditimbang, ternyata BB nya turun dibandingkan terakhir kali ditimbang (umur 12 bulan). Selain itu, tinggi badannya tidak naik dalam rentang 3 bulan. Setelah dilakukan observasi darah dan urin, ternyata anak saya mengalami:

  1. Infeksi Saluran Kencing (ISK)
  2. Anemia Defisiensi Besi (ADB) Tahap 1
  3. Hipersensitivitas Saluran CernaKondisi ini merupakan sebuah reaksi alergi dengan bentuk reaksi yang berbeda pada setiap individu. Pada anak saya, kondisi ini ditandai dengan frekuensi BAB > 3 kali sehari. Saya sempat berkonsultasi dengan dokter spesialis picky eater di daerah menteng (dr. Widodo). Beliau menyarankan agar anak saya melakukan diet eliminasi terbuka untuk mengetahui makanan apa yang memicu reaksi hipersensitivitas saluran cernanya. Setelah menjalani diet tersebut, ternyata salah satu penyebabnya adalah pisang. Anak saya memang suka sekali makan pisang, sehingga hampir setiap hari selalu tersedia di rumah.

Beberapa kondisi tersebut membuat nutrisi dan energinya banyak terkuras untuk meningkatkan imunitas tubuhnya. Selain itu, frekuensi BAB yang terlalu sering membuat nutrisinya sulit diserap oleh tubuh. Sehingga, berat badannya menjadi sulit naik. 

Apa yang dilakukan setelahnya?

Saya merasa beruntung dan bersyukur karena Tuhan mengirimkan sinyal yang kuat melalui feeling keibuan. Saya masih diberi kesempatan untuk mengejar ketertinggalan sebelum anak saya berumur 2 tahun. Meski grafik pertumbuhannya tidak ideal dan minimalis, melalui kejadian ini saya belajar untuk mensyukuri sekecil apapun perkembangannya. Ada beberapa ikhtiar yang saya lakukan, yaitu:

1. Mengobati ISK dengan antibiotik

Setelah dinyatakan mengalami ISK, dokter memberikan Antibiotik selama 5 hari. Setelah itu, kami kembali melakukan observasi urin dan Alhamdulillah hasilnya negatif.

2. Suplementasi zat besi

Zat besi merupakan nutrisi mikro yang sangat diperlukan untuk proses metabolisme, pengangkutan oksigen dan elektron ke seluruh tubuh, dan pembentukan DNA. ADB tahap 1 menunjukkan bahwa cadangan zat besi dalam tubuh mulai berkurang. Dokter meresepkan zat besi selama 3 bulan. Setelah itu, kami kembali melakukan pemeriksaan kadar ferritin dan ternyata hasilnya masih berada di batas minimal. Sehingga, anak saya masih mengkonsumsinya sampai sekarang.

3. Suplementasi Zinc (Zn) dan Vitamin C

Zn merupakan nutrisi mikro yang berperan penting dalam pertumbuhan sel dan proses metabolisme tubuh. Berdasarkan penelitian, anak yang mengkonsumsi 10 mg Zn selama 6 bulan mengalami peningkatan tinggi badan yang lebih baik (±0,25 cm). Suplementasi Zn pada anak stunted dapat memberikan hasil yang lebih baik.

Berdasarkan studi, Zn akan bekerja lebih optimal jika diberikan secara terpisah dengan kandungan lainnya seperti zat besi. Untuk itu, sebaiknya memilih suplemen Zn tunggal. Anak saya diresepkan suplemen Zn dan vitamin C.

4. Suplementasi Kalsium

Kalsium dapat diperoleh dari beberapa sumber, termasuk susu sapi. Berhubung anak saya belum suka minum susu formula maupun UHT, jadi saya memilih suplemen kalsium dari alga laut. Anak saya masih mengkonsumsinya sampai hari ini.

5. Memberi makanan tinggi protein

Berupaya menyediakan makanan tinggi protein (terutama protein hewani).

6. Tidak memberikan pisang

Salah satu ikhtiar yang cukup signifikan adalah tidak memberikan pisang. Perubahan frekuensi BAB nya sangat berkurang, dari 4 atau 5 kali sehari menjadi 1-2 kali sehari.

Setelah melakukan beberapa ikhtiar tesebut, Alhamdulillah berat badan dan tinggi badan anak saya mulai membaik (meski masih jauh dari nilai ideal/rata-rata). Ada beberapa hal lain yang masih ingin saya ikhtiarkan, semoga sharing ini bisa bermanfaat ya bu dan bisa membantu memberikan informasi seputar stunting.

Saya belajar banyak hal melalui kejadian ini; Saya menjadi lebih aware jika feeling keibuan saya mulai memberikan sinyal tertentu, saya menjadi lebih bersyukur terhadap sekecil apapun perkembangan yang dialami anak, belajar ikhlas dalam menerima apapun keadaan anak saya. Pada akhirnya saya meyakini bahwa seluruh proses ini semata hanya sarana Alloh SWT untuk memberikan lahan pahala bagi kita. Amin YRA

Referensi:

WHO: Stunting in in a Nutshell

WHO: Global Nutrition Targets 2025: Stunting Policy Brief

WebMD: Zinc Help Kids Grow

WHO: Zinc Supplementation and growth in children

Haibunda: Bu, anak bertubuh pendek jangan langsung dicap stunting

Salam,

attachriirotul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *