Article

Live your Life with Bullet Journal

Welcome 2020!

Akhirnya kita sudah memasuki tahun 2020. Banyak sekali teman-teman yang sudah share momen refleksi 1 dekade-nya di media sosial. Sayangnya, saya ketinggalan euforia T.T. Melalui tulisan ini, saya ingin bercerita tentang sebuah moment di 2019 yang membuat saya menemukan hobi baru, yaitu journalling.

Sejak memutuskan menjadi Stay at Home Mom (SAHM), saya sempat kehilangan beberapa kebiasaan yang dulu sering saya lakukan, salah satunya membuat jurnal. Kegiatan saya sebagai SAHM seolah hanya dipenuhi oleh urusan anak. Saya sempat merasa krisis identitas karena sebelumnya cukup aktif melibatkan diri di beberapa kegiatan.

Setelah melalui kegalauan yang panjang, saya mencoba menggali lagi peran sebagai SAHM. Menurut saya, salah satu tantangan menjadi SAHM adalah mengelola waktu agar lebih produktif dan tidak terlena dengan waktu yang tampak (cukup) senggang. Salah satu goal saya tahun ini adalah ingin menjadi manusia yang lebih produktif (I am still struggling on that). Akhirnya, saya memutuskan untuk kembali membuat jurnal. Sejak Mei 2019 lalu, saya iseng mulai membuat jurnal dengan metode yang cukup happening di media sosial, yaitu bullet journal atau biasa disingkat BuJo.

BuJo dikenalkan oleh Ryder Carroll, seorang desainer produk digital. Saat di usia sekolah, ia mengaku mudah terdistraksi, sulit mengikuti instruksi dan penjelasan guru, serta tidak bisa fokus pada banyak hal yang datang bersamaan. Nah, saat itulah ia dinyatakan mengalami Attention Deficit Disorder (ADD). Saat beranjak dewasa, Carroll mencoba mencari cara untuk membantu dirinya agar memiliki atensi yang lebih baik yaitu dengan membuat jurnal. Ia pun merasakan perubahan positif dengan jurnal tersebut. Bahkan, beberapa temannya yang mencoba membuat jurnal dengan metode yang sama juga merasakan perubahan positif. Akhirnya, Carroll mengenalkan BuJo kepada masyarakat luas.

Lewat tulisan ini, saya ingin sharing tentang metode bullet journal yang menurut saya sangat bermanfaat. Let’s check this out!

Apa sih Bullet Journal itu?

Sederhananya, Bujo merupakan sebuah metode atau template yang dapat diaplikasikan dalam membuat jurnal. Mengutip dari majalah Vogue, Bujo itu seperti KonMari untuk otak kita yang sangat penuh oleh segala hal, entah itu urusan pekerjaan, pribadi, atau informasi lainnya. Tak jarang, kita sering merasa bingung menetapkan prioritas atau membedakan mana yang harus, perlu, dan ingin dilakukan.

Nah, ada sebuah quotes menarik yang saya kutip dari Medium.com yaitu:

The brain is a factory, not a warehouse

Jika otak diminta untuk menampung segala bentuk informasi, baik itu jadwal kegiatan, appointment, list pekerjaan, ide, summary buku, tugas kantor, dsb, rasanya otak kita tidak akan sanggup. Adakah teman-teman yang suka lupa mengingat sesuatu dan akhirnya merasa kesal? (saya sih sering banget D:)

Bisa dikatakan itu sangat wajar, karena otak kita sejatinya memerlukan bantuan. Kita bisa membantu otak kita untuk mengingat hal penting dengan sebuah jurnal. Meski saat ini banyak sekali fitur planner di smartphone, namun bagi saya sensasi dan kekuatan menulis di kertas atau buku masih tak tergantikan.

Biarlah otak kita berfungsi layaknya sebuah pabrik, yaitu untuk menerima informasi, mencerna, mengolah, dan memproduksi gagasan. Terlebih di era media sosial, kita perlu mengaktifkan otak untuk memfiltrasi informasi yang beragam agar tidak mudah percaya dengan informasi yang tidak tepat.

Kenapa tertarik dengan Bullet Journal?

Sesuai tagline BuJo yaitu: Track the Past, Order the Present, Plan your Future, salah satu kelebihan metode BuJo adalah simple, to the point dan well documented, sehingga kita lebih mudah melakukan tracking. Selain itu, ada beberapa aspek penting yang dikenalkan oleh metode bullet journal antara lain:

1. Index

Salah satu ciri khas BuJo adalah memberi nomor halaman di setiap lembar jurnal. Index terletak di halaman pertama BuJo yang berfungsi seperti daftar isi, sehingga memudahkan tracking di kemudian hari.

2. Future Log

Future log adalah salah satu aspek BuJo yang sangat penting. Future log sangat membantu kita untuk memetakan agenda dalam jangka waktu 6 bulan atau 1 tahun, sehingga kita akan lebih aware dalam menyiapkan agenda tersebut.

3. Monthly Log

Monthly Log dibuat setiap menjelang pergantian bulan. Nah, monthly log ini biasanya berbentuk kalender dan to do list dalam bulan tersebut. Dengan membuat monthly log, kita akan lebih mudah mengingat agenda kita setiap bulan.

4. Daily Log

Daily log dapat digunakan untuk menyusun agenda harian kita. Kita bisa menyusun agenda harian setiap malam menjelang tidur atau di pagi hari sebelum memulai beraktivitas.

5. Rapid Logging/Symbol

Rapid logging merupakan salah satu poin penting dalam BuJo, dimana kita menggunakan simbol untuk menulis informasi di jurnal. Dengan menggunakan simbol, kita tidak perlu menulis jenis kegiatan dengan kalimat yang panjang. Temen-temen bisa membuat simbol sesuai preferensi masing-masing. Berikut beberapa contoh simbol yang biasa digunakan:

sumber: bulletjournal.com
sumber: pinterest

Tips memulai bullet journaling:

1. Membaca informasi tentang BuJo

Sebelum memulai, teman-teman sebaiknya mencari informasi tentang BuJo, baik di buku, artikel, youtube, media sosial, dsb. Creator BuJo, Ryder Carroll juga menerbitkan buku yang berjudul “Bullet Journal Method: Track Your Past, Order the Present, Plan Your Future”.  Dengan mencari informasi tersebut, teman-teman akan memiliki gambaran dan akan menemukan tamplate BuJo yang sesuai dengan kebutuhan aktivitas masing-masing.

2. Menggali kebutuhan

Ada banyak sekali template BuJo di internet. Saat pertama kali browsing, saya sempat merasa bingung dengan berbagai template yang ada. Ternyata, membuat template BuJo perlu disesuaikan dengan kesibukan dan kebutuhan masing-masing. Jurnal seorang pelajar pasti berbeda dengan jurnal seorang pegawai kantor. Jurnal seorang CEO juga pasti berbeda dengan jurnal seorang manager.

Saat memulai membuat jurnal, saya belajar menggali peran saya sebagai ibu rumah tangga dan juga sebagai individu. Akhirnya, saya menemukan template jurnal yang sesuai dengan kegiatan saya sebagai ibu rumah tangga.

Beberapa template jurnal yang umum digunakan adalah:

  • Index
sumber: pinterest
  • Future Log
sumber: pinterest
  • Monthly Log
sumber: pinterest
  • Daily Log
sumber: pinterest
  • Habit Tracker
sumber: pinterest

3. Menuliskan apapun yang masih terngiang dalam pikiran

Menurut saya, tahap ini seperti terapi. Kita bisa menuliskan apapun yang terlintas di pikiran kita, entah itu kewajiban yang harus dipenuhi, kegiatan yang ingin dilakukan, tempat yang ingin dikunjungi, buku yang ingin dibaca, dsb. Dari sinilah kita dapat mengenali semua keinginan kita yang muncul di pikiran, sehingga kita dapat menentukan prioritas dan menyusun timeline.

4. Menyiapkan perlengkapan

  • Memilih buku jurnal

Ada beberapa jenis buku jurnal, teman-teman bisa menggunakan buku merk Moleskine, Leuchtturm, atau notebook custom yang mengadopsi kedua merk tersebut (Di online shop ada, hehe). Nah, untuk pattern bukunya juga ada beberapa pilihan, yaitu: blank, dotted, stripped, atau square.

Notes:

Saya menggunakan notebook custom ala Moleskine dengan pattern dotted.

Contoh Notebook:

sumber: google
  • Menyiapkan brush pen (optional)

Beberapa peminat BuJo sering menghiasi jurnalnya dengan lattering atau doodling. Untuk membuat lattering yang bagus, biasanya mereka menggunakan brush pen. Ada beberapa merk brush pen di pasaran, salah satu yang banyak digunakan adalah Tombowâ. Temen-temen yang masih coba-coba bisa menggunakan brush pen merk Snowmanâ (harga lebih murah).

Untuk temen-temen yang merasa tidak bisa membuat gambar unyu atau membuat lettering yang eye catching, don’t be sad! Ada banyak sticker unyu dan template huruf yang dijual secara online.

Contoh Brush Pen:

sumber: google

5. Let’s get started and Just do it!

Saat memulai membuat jurnal, saya sempat merasa ribet banget, apalagi melihat template BuJo di pinterest yang bagus dan eye catching. Berhubung saya tidak pandai doodling dan lattering, akhirnya saya membuat jurnal seadanya sesuai yang saya bisa. Meski sebenernya isi jurnal saya banyak yang kosong (secara cuma di rumah DJ) , tapi stay cool aja, haha.

Dengan membuat jurnal, setidaknya saya lebih merasa “hidup” dalam menjalankan aktivitas di rumah. Saya masih terus berupaya untuk belajar konsisten agar goal saya tahun ini bisa terwujud, Amin YRA.

Ini beberapa gambaran jurnal “seadanya” yang saya buat. Semoga dapat bermanfaat ya untuk teman-teman yang ingin memulai membuat jurnal ^x^.

Jurnal 2019

Jurnal 2020

Referensi:

Bullet Journal Web

Bullet Journal Youtube

Medium.com: Getting Your Life Back on Track: the Benefits of Bullet Journaling

PlannerCon Europe Youtube Channel

TEDx Talk: How to declutter your mind — keep a journal 

Salam,

attachriirotulm

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *