Real Talk

Pesan dari Tanah Haram

Aku kembali menyeduh kopi yang akhir-akhir ini membuatku ketagihan. Kopi saban hari namanya. Masih di tempat yang sama, bersama orang yang sama. Meski bukan pecinta kopi, ia selalu rela menemaniku menikmati jeda di akhir pekan sembari menikmati greentea late hangat, minuman yang lebih bersahabat untuk lambungnya yang sensitif.

Setiap manusia dipertemukan oleh takdir, begitupun dengan kami.

Aku percaya bahwa Tuhan telah mempersiapkannya sejak kami berada di rahim ibu kami masing-masing. Aku tak bisa membayangkan bagaimana Tuhan melibatkan seluruh ciptaan-Nya di dalam sebuah skenario besar yang tak mampu dinalar. Entah mulai darimana, dimana, dan kapan skenario itu bereaksi. Yang pasti, aku percaya bahwa takdir-Nya pasti yang terbaik.

***

Oktober, 2013

Hari itu adalah hari pertamaku bergabung dengan sebuah komunitas di Jakarta. Setibanya di tempat pertemuan, aku memilih duduk di belakang untuk beradaptasi.

Skenario-Nya mulai bereaksi malam itu. Aku melihat seorang laki-laki dengan kemeja biru dan celana bahan berukuran slim fit. Ekspresi wajahnya terkesan sangat serius dan irit berbicara. Kacamatanya seolah mewakili kepribadiannya yang introvert.

Saat ia berbicara sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana, imajinasiku mulai berkelana. Serentak, seluruh organ tubuhku seolah kompak menyerukan satu nama, Beno.

Jika bukan karena obsesiku terhadap salah satu karakter di novel yang sedang kubaca, mungkin reaksinya berbeda. Dalam sekejap tokoh imajiku menjadi nyata. Malam itu aku kelimpungan menahan rasa senang dan heran. Oh no, my Beno is real.

Sejak malam itu, bayangan laki-laki itu terus hidup dalam imajinasiku sebagai Beno.

***

Madinah, 17 Januari 2014

Hari terakhirku berada di kota Madinah, kota yang sangat bersejarah bagi umat islam pada masa Nabi Muhammad SAW. Kenyamanan kota ini tak tertandingi. Rasanya baru kemarin aku merasakan hembusan angin di pelataran masjid Nabawi untuk pertama kali. Hari ini aku harus berpamitan.

Aku kembali teringat sebuah pesan singkat yang menyapaku saat tiba di Madinah beberapa hari yang lalu.

“Selamat ya, bisa menikmati kota Nabi di hari kelahiran-Nya”

Meski pesan itu muncul sebagai sebuah aksi-reaksi di grup komunitas yang mengucapkan selamat atas ibadah umroh yang sedang kujalani, buatku pesan itu bermakna lain. Tanpa disadari, hatiku bereaksi senang.

Hari itu aku harus melanjutkan perjalanan ke Mekkah. Selama perjalanan, mata dan ragaku berkompromi untuk tidak terlena dengan rasa kantuk. Mataku tak lepas dari pemandangan di luar jendela yang sebagian besar hanyalah padang pasir.

Semakin malam, degup jantungku semakin tak tentu. Hatiku berbisik bahwa kota impianku sudah semakin dekat. Tiba-tiba mataku melihat sebuah cahaya keemasan yang begitu mempesona. Kuusap mataku, cahaya itu semakin terang dan kian menampakkan bentuknya yang seperti bulan sabit. Akhirnya aku melihat zam-zam tower secara langsung. Alhamdulillah.

Aku tiba di Makkah sekitar pukul 01.00 dini hari. Tak seperti kota lainnya, kota itu tak pernah tidur. Meski mata sudah sangat berat, namun kami harus melanjutkan kewajiban kami menjalankan rukun ibadah umroh begitu sampai disana. Aku tak sabar untuk bisa melihat ka’bah. Rasanya banyak sekali cerita yang ingin kusampaikan kepada Sang Maha Pencipta. Banyak orang bilang, ka’bah memiliki energi terdahsyat yang membuat kita seakan begitu dekat denganNya.

Ternyata benar, begitu tiba di masjidil haram, energi yang kurasakan berbeda. Malam itu, untuk pertama kalinya aku merasa begitu dekat dengan-Nya. Aku merasa Dia hadir di depanku dan menyimak segala ceritaku tanpa sekat dan menghakimi. Aku pun merasakan pelukannya yang begitu hangat hingga air mataku mengalir tanpa henti.

Malam itu, aku tidak akan lupa bagaimana Alloh SWT menyisipkan pesan tersirat untukku. Hatiku terus bertanya, kemanakah pesan ini akan bermuara.

Biarlah, biarlah pesan itu menjadi rahasia kami, Sang Maha Mengetahui dan hamba-Nya.

What happens in Makkah, stays in Makkah

***

Setibanya di Jakarta, aku kembali beraktivitas. Aku masih terngiang dengan apa yang terjadi di Makkah. Aku berusaha menyimpannya di lobus otak yang tidak bisa kuusik.

Sebagai gadis jawa berusia 25 tahun, kenyang rasanya dengan berbagai pertanyaan “kapan menikah” saat bertemu tetangga atau keluarga. Sampai akhirnya, pertanyaan itu diucapkan ibuku. Beliau khawatir putrinya tidak laku, haha. Sampai-sampai beliau mengatakan jangan menetapkan standar yang tinggi, nanti susah dapat jodoh.

Padahal, saat itu saya sedang gencarnya berusaha melibatkan diri dalam upaya menjemput jodoh, haha. Saya sampai diledekin teman-teman terdekat bahwa saya berusaha terlalu keras untuk mendapatkan jodoh. Memang sih, waktu itu saya memiliki teori bahwa berusaha (versi perempuan) itu berbeda dengan laki-laki. Sebagai perempuan, kita berhak berusaha menjemput jodoh dengan terus upgrade diri, melibatkan diri di berbagai kegiatan positif, dan memperluas jaringan pertemanan yang berkualitas. Nantinya, jika Tuhan menilai kita sudah siap, jodoh itu pasti akan didatangkan oleh-Nya. And I did it.  

Selamat proses menanti, banyak sekali dinamika perasaan yang dialami. Aku sering merasa insecure dengan keadaan. Satu hal yang paling dikhawatirkan adalah karena aku tumbuh di tengah keluarga broken home yang memiliki banyak keterbatasan. Aku sempat kawatir, akankah ada yang bisa menerima keluargaku?

Hingga suatu waktu, aku tersadar bahwa hidup ini bukan milikku. Aku berhak meminta tolong kepada Sang Pemilik hidup. Aku teringat nasehat ibuku, “letakkan segala kegundahan di atas sajadah, setelah itu jalani hidup seperti biasa. Kita tidak akan sanggup membayangkan hal yang tidak bisa kita kendalikan”.

Akhirnya, aku menceritakan segala insecurity itu. Bahkan, aku menyebutkan segala kriteria pasangan ideal yang ingin aku miliki. Let say: laki-laki seiman dan sholeh, yang menjalankan hidupnya dengan berpegang pada agama dan ajaran-Nya, yang menyayangi dan menghormati ibunya, bertanggung jawab atas keluarganya, bersedia menerima keluargaku dengan segala kekurangannya, yang hidup tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan peduli dengan orang lain.

Aku ingat sekali bagaimana dadaku sesak penuh harap saat itu. Setelah itu aku merasa lega karena aku menitipkan doa dan harapan pada Sang Pemilik Skenario terbaik. Tugasku hanya bersabar, berikhtiar, berdoa, dan menunggu reaksinya.

***

Tahun berlalu,

Suatu hari di tahun 2015, ada pesan masuk di ponselku.

“Jakarta apa kabar?”

Pesan singkat itu membuatku panas dingin.

“Alhamdulillah baik, Jepang apa kabar?” balasku.

“Baik”

Berbagai analisa membuat otakku sibuk hari itu. Aku melontarkan berbagai pertanyaan dalam hati. Bagaimana bisa laki-laki iitu mengirimkan pesan pribadi untukku. Berinteraksi langsung aja cuma 2 kali, itupun rame-rame. Apalagi ngobrol berdua, pasti dong gak pernah.

Ah, sudahlah. Mungkin salah kirim.

***

Sejak pesan itu muncul, sesekali dia mengirim pesan yang sama. Aku takut mengusik kembali imajinasi tentang Beno yang sudah terkubur lama. Entah kenapa, interaksi singkat kami membuatku kembali insecure.

Bulan berlalu,

Dengan segala kegamangan yang aku rasakan, aku kembali menengadahkan tanganku kepada-Nya. Aku memohon agar aku tidak terlena dengan apa yang datang akhir-akhir ini. Tiba-tiba aku teringat dengan pesan tersirat yang Alloh SWT berikan setahun yang lalu saat aku berada di Makkah.

Saat aku berdoa meminta pasangan, Alloh memberikan bayangan Beno mengenakan kain ihram bersama keluargaku. Bayangan itu hanya sekelebat dan coba kuhiraukan karena aku takut jika itu hanya manifestasi dari apa yang sedang kurasakan saat itu.  Ketika aku kembali berdoa, bayangan yang sama kembali muncul.

Aku kembali menangis, apakah doa itu sudah menemukan pasangannya. Jika teringat dengan kriteriaku, rasanya Beno bukan orang yang tepat.

***

Aku tak pernah menyangka bahwa segala doa yang kupanjatkan dijodohkan dengannya. Orang yang sebelumnya tidak pernah kubayangkan memiliki kriteria yang kusampaikan kepada-Nya. Siapa sangka, orang yang dikenal “annoying, serius, sombong” di mata manusia ternyata tidak di mata Sang Pencipta. Dari situ aku belajar bahwa penilaian manusia itu tidak pernah presisi.

Kita sama-sama memiliki kekurangan dan hanya Tuhan yang tau seberapa besar porsinya. Nyatanya, kekurangan dan keterbatasan itu yang membuat kami bisa melengkapi dan mendukung satu sama lain. Ah, betapa indahnya segala yang terjadi jika kita melibatkan-Nya dalam setiap prosesnya.

Proses itu begitu cepat. Kami berkomitmen melalui jarak ribuan kilometer, antara Jakarta dan Jepang.

***

Menjelang menikah, aku baru tau bahwa ternyata laki-laki serius yang tumbuh sebagai Beno adalah orang yang begitu menghormati ibunya. Banyak cerita yang sampai kepadaku. Ia adalah orang yang setia merawat ibunya yang sedang sakit.

Darinya aku belajar bahwa diam dalam kebaikan lebih indah dari permata. Doaku ingin dipertemukan dengan orang yang tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri ternyata berjodoh dengannya. Sosok yang out of my expectation, karena penilaianku terhadapnya berbeda dengan penilaian Tuhan terhadapnya.

***

Kenapa sih waktu itu tiba-tiba kamu wassap aku? Kan, gak pernah ngobrol bareng?

Aku habis lihat film recto verso, aku sadar bahwa ketika kita terus mencari yang lebih, kita tidak akan pernah puas mendapatkannya. Karena, di atas langit masih ada langit,

Disini ada orang yang baik, yang paling sering nanyain ibuku yang lagi sakit, trus kalau baik belum cukup, aku mesti cari yang seperti apa?

***

Hmm,

Terkadang, reaksi doa kita itu bisa terjadi melalui hal-hal kecil. Bahkan, film recto verso dan buku Twivortiare pun menjadi bagian dari skenario-Nya untuk menjodohkan hamba-Nya.

Salam,

attachriirotul

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *