Article,  Real Talk

Joker, Media Sosial, dan Kesehatan Mental

Beberapa waktu lalu saya ikut menikmati film Joker yang sedang booming. Buat saya, film Joker mengingatkan kita bahwa gangguan kesehatan mental bisa terjadi kepada siapapun di era sekarang. Kenapa? Joker mengalami perundungan fisik dan verbal secara real. Di era sosial media, hal itu bisa dilakukan secara virtual oleh siapapun dan dimanapun. Bahkan, hanya dari kontribusi jari tangan kita. Meski caranya berbeda, keduanya dapat memberi dampak yang sama yaitu mengganggu kesehatan mental.

Kisah Suli misalnya, yang mengaku depresi karena mengalami cyberbullying bertubi-tubi yang akhirnya membuatnya bunuh diri. Di Indonesia, selebgram Salmafina mengaku pernah mencoba bunuh diri karena terus terbayangi komentar “julid” netizen. Bahkan, awkarin memutuskan sign off dari Instagram karena merasa kesehatan mentalnya mulai terganggu, seperti mudah cemas dan depresi.

Saya juga pernah memutuskan sign off dari sosial media seperti Facebook dan Instagram selama beberapa bulan karena mulai tidak nyaman. Ketidaknyamanan itu mungkin dipicu dari insecurity saat menjadi ibu baru. Saya menjadi lebih sensitif ketika melihat selebgram atau teman yang post foto atau video buah hati mereka. Beberapa kali saya merasa tidak kompeten menjadi ibu, terlebih saat anak saya mulai makan. Setiap kali melihat bayi yang makannya lahap, saya iri dan baper luar biasa. Akhirnya saya sering menyalahkan diri sendiri dan mudah cemas. Saat itu, saya memutuskan uninstall sosial media.

Ternyata, perasaan seperti itu menjadi hal yang common terjadi saat ini di belahan bumi manapun. Mengutip dari Forbes.com, beberapa studi mengatakan bahwa frekuensi dan durasi penggunaan sosial media berkaitan dengan gangguan kesehatan mental seperti tingkat percaya diri yang rendah, merasa kesepian, depresi, bahkan memicu keinginan untuk bunuh diri.

We struggle with insecurity because we compare our behind the scene with everyone else’s highlight reels.

Banyak sekali pembahasan tentang quote tadi. Bahwa, sosial media memang tempat orang berbagi sisi “gemerlap” mereka. Jadi, it is not fair kalau kita membandingkan sisi kehidupan real kita dengan sisi kehidupan gemerlap orang lain. Percayalah bahwa kita memiliki sisi kehidupan yang sama. Pernah kan merasa amazed dengan pasangan yang mesranya luar biasa di sosial media dan secara mengejutkan berpisah? (not to mention). Bahkan, dia mengakui bahwa potret kemesraan di sosial media itu bagian dari kontrak pekerjaan mereka. Nah, itulah salah satu potret sosial media yang perlu kita sadari. Apalagi di tengah perkembangan bisnis yang luar biasa, Every post count! Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak post yang kita lihat ujungnya all about the business ^x^.

Bukan salah sosial medianya, karena setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menggunakannya.  Nah, kita perlu aware dengan beberapa stressors penggunaan sosial media berikut:

1. Highlight reels

“Kenapa sih kok aku belum pernah kemana-mana, sedangkan si A udah jalan-jalan keliling Eropa?”

“Duh, kenapa ya aku gak bisa kayak si B yang selalu membuat DIY mainan untuk anaknya?”

“Kenapa?”

“Kenapa?”

Situasi seperti itu pasti pernah dialami siapapun pengguna sosial media. Tanpa sadar, kita sering membandingkan “behind the scene” hidup kita dengan brightness moment orang lain di sosial media. Saat kita duduk santai sambil melihat posting teman yang sedang liburan, terlibat kegiatan produktif, membuat DIY mainan untuk anak-anak, membuat MPASI yang menarik, dsb terkadang membuat kita over reacted dan menjadi tidak bersyukur. Padahal, setiap orang memiliki prioritas dan cara masing-masing dalam menjalani hidupnya.

2. Social currency

Di dunia digital, sosial currency bisa berupa jumlah likes, comments, views, shares, dsb. Saat kita memposting sesuatu, kita seakan disibukkan dengan penilaian orang melalui ketiga mata uang sosial tersebut. Alhasil, saat jumlah likes, comments, views tidak sesuai dengan yang diharapkan, kita merasa kecewa dan beranggapan bahwa orang lain tidak suka dengan apa yang kita lakukan. Hal itu bisa mengganngu produktivitas kita di dunia nyata. Kita bisa saja sibuk memantau jumlah likes, comments, views, shares, atau bahkan sibuk dengan rasa cemas itu sendiri. Inilah yang dirasakan Awkarin. Dia sering merasa cemas dan depresi ketika jumlah likes fotonya tidak banyak. Akhirnya dia menyadari bahwa jika dilanjutkan, kesehatan mentalnya akan terganggu.

3. FOMO (Fear of Missing Out)

Salah satu bentuk sosial anxiety yang banyak dialami orang saat ini adalah FOMO.

Ada beberapa pengertian tentang FOMO, seperti:

  • Merasa cemas ketika tidak terlibat dalam kegiatan yang seru seperti liburan rame-rame, kegiatan komunitas, pelatihan yang relate, nonton bareng, dsb.
  • Tidak ingin ketinggalan berita yang happening, jadi selalu membuka sosial media setiap saat

4. Online Harassment

Sebagai masyarakat biasa, mungkin kita jauh dari stressor berikut. Poin ini rasanya dekat sekali dengan teman-teman public figur seperti artis, selebgram, aktivis, politikus, dsb. Ini adalah stressor paling berat yang sangat berpengaruh pada kesehatan mental seseorang. Nah, makanya kita perlu mengontrol jari dan emosi kita agar tidak menjadi netizen yang julid.

Sebetulnya kunci dalam menggunakan sosial media ada di pribadi masing-masing. Karena, sosial media bisa memberi efek seperti dopamine yang membuat kita ketagihan. Berikut ada beberapa tips menjaga kewarasan dalam bersosial media:

1. Recognize the problem

Tips pertama adalah mengenali sumber masalah yang membuat kita merasa insecure atau cemas. Misal, kita merasa cemas ketika melihat posting teman A, artis B, olshop C, atau perkembangan baby D, dsb. Nah, kita bisa menghapusnya dari list pertemanan kita atau skip melihat posting mereka. Saat sudah mengenali sumber yang membuat kita insecure, kita akan lebih mudah mengatasinya.

2. Audit your sosial media diet

Coba tanyakan ke diri kita sendiri, apakah kita merasa bahagia ketika scroll facebook, instagram, twitter setiap (let say) 1 atau 2 jam? apakah kita merasa perlu untuk menanggapi posting si A? dan coba tanyakan beberapa hal lainnya yang berkaitan dengan sosial media behavior kita.

Lakukan dan sesuaikan dengan kebutuhan masing-masing seperti perlukah mengatur jam online,  letakkan HP saat ngobrol dengan teman instead of menyibukkan diri dengan post foto dan membalas komen, dsb.

3. Create a better online experiences

Kita bisa unfollow akun yang memberi bad experiences, misal akun teman yang sukanya mengeluh, profokatif, hate speech, dsb. Atau akun artis yang membuat kita terus berandai-andai dan tidak bersyukur. Kita bisa follow akun yang memberi kita positive value atau membuat kita bisa tertawa.

Sebagai personal, kita juga bisa memberi positive experience ke orang lain melaui postingan kita.

4. Model good behaviour

Follow beberapa role model yang bisa memberi nilai positif, menambah wawasan, memotivasi, dan menstimulus kita untuk melakukan hal yang bermanfaat.

Karena sosial media itu abu-abu, antara baik dan buruk. Semua bergantung pada manusianya. Kita harus mengendalikan, bukan dikendalikan.

Salam,

At tachriirotul Muyassaroh

Referensi:

1. TEDx Talk by Bailey Parnell: Is Social Media Hurting Your Mental Health?

2. Forbes.com: New Studies Show Just How Bad Social Media Is For Mental Health

3. Forbes.com: Study Offers New Insights On How Social Media Affects Girls’ Mental Health

4. Forbes.com: 6 Ways Social Media Affects Our Mental Health

5. Medscape.com: More Evidence Ties Social Media to Mental Health Problems

5 Comments

  • ichaasa

    emang bener banget apa yang ditulis. cuman kalau nggak main media sosial, jadi nggak tahu kabar temen-temen. jadi bingun mau gimana 🙁 mungkin main media sosialnya jarang2 aja kali ya, nggak perlu setiap hari dan nggak perlu update tentang kehidupan disana ehehe

    • At Tachriirotul

      Halo mb, salam kenal. Terimakasih sudah berkenan main kesini.
      Hehe, iya mb, apalagi informasi sekarang banyak bersumber di media sosial ya. Kayaknya yang paling penting memang mengenali kebutuhan bermedia sosial ya mb, dan mengenali “gejala-gejala” apa yang kadang membuat kita merasa gak nyaman dan menghindarinya ^x^. Saya sempat berhenti dari bermedia sosial untuk beberapa waktu, tapi setelah mulai mengenali kebutuhan dan sumber yang bikin tidak nyaman, jadi skrg lebih punya strategi bermedia sosial, hehe. Semangat mb ^x^.

  • Just Awl

    Can relate sekali, mba! Saya sudah dua bulan ini vakum dari media sosial, utamanya instagram, karena pertama saya sudah sangat kecanduan dalam pemakaian sampai-sampai selama satu hari rata-rata pemakaian itu bisa 3 jam. Entahlah padahal apa yg saya lihat selama itu disana. Ditambah insecurity kayaknya gak ada habis-habisnya menyiksa saya, lihat orang yg begini dan begitu, lalu membandingkan diri sendiri yg masih leyeh-leyeh di sofa atau di kamar. Setelah deactivate sementara ini, saya sadar bahwa sosial media sepenuhnya ada pada kontrol saya. Saya harus tau seberapa besar saya mencintai diri sendiri dan berusaha untuk melindungi diri dari hal-hal yg secara gak langsung represif. Sekarang pelan-pelan saya sudah tau kalau buka instagram itu mau apa, biasanya untuj menghubungi teman yg memang gak ada kontaknya. Dan saya selalu menghindari melihat IG stories yg bikin perasaan iri selalu muncul. Jadi, postingan mba ini lengkap sekali sebetulnya. Saya bener- bener merasa relate, dan betul, bahwa cyberbullying itu tindakan yg nyata yg diakibatkan media sosial.

    Anyway, salam kenal ya mba🙏🏻😊

    • At Tachriirotul

      Hi mb Alwi, Salam kenal 😊. Terimakasih banyak sudah bersedia membaca tulisan ini dan sharing pengalamannya. Cerita ini juga berangkat dari cerita personal Saya. Kita memang hanya bisa mengontrol diri sendiri ya mb, dengan Kita mengenali apa yang membuat tidak nyaman bermedia sosial, Kita akan menemukan solusi dan strateginya 😊.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *