Article,  Motherhood

Parenting dan Filosofi Teras

Sebagai seorang ibu, pernah gak sih mom bertanya-tanya, ingin menjadi ibu seperti apa sih kita?

Sampai saat ini, saya masih terus bertanya dan mencari tipe ibu seperti apa yang paling nyaman untuk diri saya. Dan jawaban itu mulai tercerahkan ketika tanpa sengaja saya membaca caption dari @Ingetumiwa_bachren tentang dinamika parenting yang dialaminya.

Long story short, Inge sangat kecewa ketika anaknya (12 tahun) mendapat nilai rendah pada aspek: integrity, compassion, respect, dan excellence (C dan D). Baginya, keempat aspek itu adalah nilai kehidupan yang selalu diterapkan di rumahnya. Gurunya pun memberi catatan baik, sehingga dia terus bertanya sebenarnya apa sih standar penilaian keempat aspek itu dan siapa yang melakukan penilaian?

Akhirnya, Inge memutuskan untuk mengeluarkan anaknya dari sekolah dan memilih homeschooling (HS). Ia mengambil peran sentral dalam menyusun program HS putrinya day by day. Baginya, HS tidak hanya memanggil guru untuk mengajarkan mata pelajaran di rumah, tapi untuk memberi putrinya kesempatan belajar dan mengasah minat, bakat, soft skills, life skills, dan karakter. Sehingga, Inge dan suaminya mengambil peran sebagai guru utama. Untuk memberi added value pada hal yang disukai putrinya, ia menyediakan sesi ekstra baik itu coach atau kursus.

Saya suka sekali menyimak perjalanan putrinya yang kini mulai fokus berkiprah di seni peran. Dari ceritanya, saya mulai memiliki gambaran ingin menjadi ibu yang…

Menjadi tempat bersandar

Saya ingin menjadi tempat yang tidak akan memberi “judgement” apapun ke anak, apalagi menyalahkannya saat mereka sedang jatuh, bermasalah, ataupun gagal. Saya ingin menjadi pendengar yang baik, sebagai sumber kekuatan baginya dan membimbingnya menemukan jalan keluar. Namun, saya akan memilih berjalan 2 langkah di belakangnya untuk memberi arahan dan dukungan agar mereka tetap belajar berhadapan dengan tantangan dan masalah. Saya ingin mereka belajar bahwa kita tidak boleh menghindari kegagalan karena ini adalah bagian dari proses perjalanan.

Tidak berorientasi pada hasil

Saya sedang membiasakan diri untuk berani berproses. Jujur, saya termasuk orang yang takut memulai karena takut gagal. Selama ini saya cenderung menghindari kegagalan sehingga kurang bertumbuh. Mungkin mindset ini sudah tertanam sejak kecil karena dulu orang tua saya sangat mementingkan peringkat atau prestasi. Ketika dulu saya mendapat nilai pelajaran 8, orang tua saya masih menuntut mendapat nilai 9. Sampai akhirnya saya pernah berbohong saat kelas 3 SD karena mendapat peringkat di bawah 5. Saya berbohong bahwa sebetulnya saya peringkat 3 tapi wali kelas tidak bisa merubahnya karena sudah tertandatangi kepala sekolah. Orang tua saya percaya dan kebohongan itu baru terungkap setelah saya punya anak, hahaha.

Hal-hal seperti itu sebetulnya dapat menumbuhkan fixed mindset (mental yang tetap) pada anak, sehingga anak akan terus berjuang mempertahankan label “anak pintar” dan menghindari kegagalan. Jika gagal, mereka akan cenderung menganggap dirinya bodoh dan bisa jadi kehilangan kepercayaan terhadap dirinya.

Sampai sekarang pun saya masih merasa terjebak dengan mindset itu. Saya akan memilih menghindar ketika harus melakukan sesuatu yang membuat saya tidak tampak pintar, jika itu terjadi saya bisa blaming myself berhari-hari.  

Kebalikan dari fixed mindset, kita perlu membuat anak kita memiliki growth mindset (mental yang bertumbuh). Kita perlu menanamkan bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang menjadi lebih baik.

Salah satu kebiasaan yang bisa ditanamkan adalah dengan tidak hanya memuji hasil yang dicapai sang buah hati, melainkan usaha yang telah dilakukannya. Misal, ketika anak menjadi juara kelas, sebaiknya kita memujinya dengan kata “Hore, akhirnya usaha dan perjuangan kamu belajar membuahkan hasil ya”, bukan hanya dengan “Wah, kamu pintar dan hebat sekali!”. Sehingga anak memahami bahwa sebuah usaha, kerja keras, dan pengorbanan dapat mengantarkan pada keberhasilan.

Mempersiapkan anak berhadapan dengan ketidaknyaman

Apa sih yang membuat kita tidak nyaman?

Perlakuan buruk? Kegagalan?

Ternyata mental ini perlu dipersiapkan. Menanamkan kepada anak bahwa di dunia ini hanya diisi oleh orang yang baik ternyata tidak tepat.

Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan mengenalkan buku cerita sad ending. Anak-anak perlu belajar bahwa ada banyak hal yang terjadi di luar kendali kita dan kita perlu berdamai dengannya.

Di Denmark (salah satu negara paling bahagia di dunia), film atau cerita TV dengan akhir cerita tidak bahagia dikenalkan kepada anak-anak agar mereka belajar bahwa hidup terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Bahwa ada dua sisi kehidupan dan berbagai ekspresi emosi manusia.

Tidak menuntut

Saya masih belajar.

Tanpa disadari, mungkin saya menuntut anak menjadi sempurna. Saya sering kawatir berlebihan ketika anak saya belum mencapai milestone tertentu, padahal sudah distimulasi. Ternyata parenting itu adalah bagaimana berdamai dengan hal yang tidak bisa dikendalikan. Jika anak belum mau melakukannya (selagi masih dalam range usia perkembangannya), berarti memang belum mencapai milestone tersebut. Jangan sampai kita memaksa sedemikian rupa dan membuat anak trauma.

Saya akan berupaya untuk tidak menuntutnya. Jangan sampai mereka menjalankan obsesi orang tua dengan terpaksa. Untuk apa sukses jika perjalanannya dilakukan dengan terpaksa? Saya ingin anak saya mengenali apa yang diminatinya dan memperjuangkan mimpinya dengan sukarela dan bahagia.

Menertawakan diri sendiri

Last but not least,

Saya ingin anak saya bisa menertawakan dirinya sendiri, terutama saat dia berbuat salah. Menurut saya, ini adalah hal sehat yang patut ditularkan.

We are human, right?

Daripada menertawakan orang lain lebih baik menertawakan diri sendiri karena ini adalah bentuk penerimaan diri yang paling sederhana, namun penuh makna.

*Cerita ini terinspirasi dari salah satu bab di Filosofi Teras karya Henry Manampiring “Menjadi Orang Tua”

Salam,

attachriirotul

20 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *