Article,  Real Talk

Nak, Ibu sedang belajar

Siapa yang merasa kalau perkembangan anak itu terasa cepat sekali?

Bulan lalu, anak saya berumur 18 bulan. Sebagai ibu yang bisa dibilang available hampir 7/24, saya gak menyangka kalau angka itu bertambah secepat ini. Beberapa bulan lagi anak saya sudah mau 2 tahun aja. Saya agak menyesal kenapa banyak cerita yang tidak saya tuangkan disini, padahal nanti bisa dipakai untuk bahan nostalgia. Mungkin saat itu saya masih struggle berdamai dengan emosi internal yang nano-nano ini.

Bisa dibilang, 18 bulan adalah milestone yang penting untuk perkembangan anak. Di umur ini kita harus mengevaluasi tumbuh kembang anak, apakah sudah sesuai dengan grafik pertumbuhannya dan apakah ada tahap yang perlu stimulasi lebih intensif.

Buat anak saya, perkembangan bahasanya perlu mendapat porsi lebih banyak lagi. Sejauh ini, perkembangan bahasa responsifnya lebih dominan. Dia sudah mengerti perintah-perintah sederhana yang diberikan. Dia pun beberapa kali melakukan aksi spontan tanpa diminta, seperti membuang sampah yang dilihatnya di taman, mengambil sendok saat saya menyiapkan makan, menutup hidung saat truk sampah lewat di depan rumah, dsb.

Perkembangan bahasa ekspresifnya masih terus distimulasi, namun beberapa kali tampak belum antusias dan konsisten. Di suatu waktu dia bilang mobil, kereta, roda, cicak, kerja, dsb. Tapi, di suatu waktu dia gak tertarik menjawab waktu ditanya. Hahahaha. Oke nak, kita harus terus berusaha. Ganbate!

Nah, salah satu tantangan yang cukup berat dalam membersamai anak adalah “mengelola ekspektasi”. Kenapa?

Di era sosial media, pernah gak sih merasa parenting terkadang melelahkan.

Eh, melelahkan buat siapa ya, jangan-jangan cuma saya aja nih, hahaha.

Melelahkan buat kita yang tidak bisa mengontrol diri dan emosi. Apalagi ketika melihat anak-anak lucu, menggemaskan, pintar, gemuk, sehat, dan viral di sosial media. Hmm, bisa jadi memunculkan “standar” kelucuan dan kepintaran anak, menjadi obsesi kita, dan membuat kita membandingkan dengan sang buah hati. Biasanya, hati menjadi cemas, memandang sang buah hati dengan cara yang berbeda, kemudian menyalahkan diri sendiri.

Belum lagi, banyaknya teori dan metode parenting yang terus berseliweran di Instagram. Lalu menjadi kelimpungan memilih sekolah yang bagus dan merasa galau kalau tidak bisa mengikuti trend.

That was me!

Saya merasa perlu membentengi mental saya yang mudah ter-influence (cie, influencer-nya berhasil nih). Saya terus berupaya mengelola ekspektasi dan tidak mudah membandingkan anak saya dengan yang lain. Jangan sampai, tanpa disadari saya menjadikan ini sebagai sebuah kompetisi. Padahal, anak kan dilahirkan bersama dengan fitrahnya masing-masing.

Saya jadi teringat kata Agstried Piethers, salah satu co-founder Rumah Dandelion. Katanya, tugas kita sebagai orang tua adalah terus melakukan stimulasi. Jika sudah dilakukan, kita hanya bisa menunggu. Parenting itu adalah memilih untuk berdamai dengan hal-hal yang bisa kita kontrol atau tidak.

Well said.

Saya pun akhirnya menyadari bahwa visi dan misi keluarga itu perlu dikuatkan dan terus divalidasi. Jangan sampai, anak menjadi korban ke-labil-an orang tuanya. Nah, visi misi ini dapat mendorong kita memilih metode parenting yang paling sesuai dengan kebutuhan.

Begitupun saat kita memilih sekolah. Kita perlu menyesuaikan visi misi keluarga dan potensi anak agar tidak tergiur dengan berbagai program unggulan yang ditawarkan setiap sekolah. Aapalagi, sekolah sekarang mahal buibu (apa kabar tahun anak saya nanti ya T.T), jangan sampai sudah bayar mahal ternyata kurikulumnya tidak sesuai dengan yang kita butuhkan.

Salam,

amuyassa

2 Comments

  • Pramestia wika

    Ya sha, kt ga boleh lelah utk terus belajar, krn pola pengasuhan yg kt terapkan dampaknya puluhan tahun utk pembentukan karakter anak. Kt jug jgn tll bnyk kawatir apalagi ngebandingin anak kt sm yg lain.
    Every child has their own colour, begitukan?
    Tugas kita membantu mewarnai warnanya agar lebih jelas dan tegas. Menerima keunikannya. Mereka akan bersinar pd waktunya.
    Pokoe, Love them without any reason.
    Bismillah sambil terus belajar 😘

    • attachriirotulm

      Makasih udah mampir mamwik. Benar sekali, karakter anak berbeda ya. Aku masih banyak PR terutama untuk bernegosiasi sm diri sendiri. Dan menjadi orang tua memang benar harus bisa menerima anak dalam keadaan apapun. Thanks for sharing your thought. Mmuah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *