Book Talk

BookTalk: Genduk

Nostalgia.

Itu yang saya rasakan saat membaca buku “Genduk”, karya Sundari Mardjuki. Buku ini mengangkat isu sosial tentang kehidupan petani tembakau di Desa Ringinsari yang terletak di lereng gunung Sindoro, Parakan.

Sebagai penikmat isu sosial, saya menikmati bagaimana penulis membangun konflik tokoh utamanya. Saya tidak bisa menebak alur cerita hanya dengan membaca beberapa bab di awal, sehingga buku ini membuat saya penasaran.

Genduk dikisahkan sebagai seorang anak perempuan berusia Sekolah Dasar (SD) yang tinggal berdua bersama Yung/Biyung (Ibu). Salah satu impian terbesarnya adalah bertemu dengan Pak’e, ayah kandung yang tak pernah ia kenali. Yung pun selalu menghindar ketika Genduk bertanya tentang ayahnya, seakan ada amarah yang membuncah tapi tak mampu diluapkannya. Akhirnya, hubungan Ibu-anak itu pun sangat kaku.

Bagi Genduk, mbakon (musim tembakau) menyimpan banyak cerita. Hubungannya dengan Yung memanas dan membaik di musim ini. Segala emosi dirasakannya. Seluruh petani di desa Ringinsari menggantungkan hidupnya di musim ini. Seluruh usaha diupayakan untuk menghasilkan tembakau yang berkualitas, dan tembakau srintil menjadi primadona yang dinantikan. Namun, seringkali nasib mereka tak mujur karena ulah Gaok/Gali/Makelar tembakau. Tak jarang ada yang memilih bunuh diri karena tak sanggup menanggung rugi.

Konflik tokoh utama yang dibangun oleh penulis berhasil mengaduk perasaan saya, membayangkan anak SD berkelana di kota yang asing demi mencari Pak’e. Saya juga membayangkan amarah yang genduk rasakan ketika dia dan Yung dipermainkan oleh Gaok yang membuat mbakon Yung merugi, padahal genduk sudah kehilangan harga dirinya. Dan, bagaimana genduk merasa puas karena bisa membalas kejahatan Gaok dan menyelamatkan hasil panen mereka dan petani lainnya.

Secara personal buku ini memiliki ikatan emosional, karena saya pernah tinggal di Parakan hingga tamat SD. Banyak plot cerita, diksi, latar, dan celotehan khas Parakan-Temanggung yang membawa imajinasi saya berkelana menyapa masa lalu. Beberapa tempat seperti klenteng, pasar kayu, kali galeh, pasar legi, dan kauman tergambar jelas di ingatan saya dan mengusik diri untuk tersenyum mengenangnya. Saya rindu.

Di kota kecil itu, roda ekonomi berjalan begitu dinamis saat musim tembakau tiba. Seluruh masyarakat menyambut musim ini dengan penuh gairah, mulai dari petani tembakau, buruh rajang, kuli angkut, dan segala pedagang di sekitar Pasar Legi. Hampir seluruh trotoar dipenuhi oleh dagangan keranjang tembakau yang terbuat dari pelepah pisang yang dikeringkan. Kegembiraan itu juga dirasakan oleh anak-anak. Kami pun sering memanfaatkan keranjang tembakau untuk bermain petak umpet.

Melalui genduk saya belajar bagaimana melupakan dan memaafkan masa lalu, dan tetap membuka lembaran waktu yang sudah menanti esok hari.

Salam,

amuyassa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *