Real Talk

Makan yang Menantang (Part 1)

Berawal dari obrolan di sela makan siang saat ngantor dulu, ada yang bilang kalau anak adalah satu-satunya orang yang akan menerima apapun hasil masakan kita. Dari situ saya percaya kalau urusan makan anak adalah sesuatu yang gampang. Akhirnya, saya terlalu nyantai saat anak mulai memasuki fase makan. Saya minim persiapan, hanya berbekal buku MPASI (Menu Pendamping ASI) dari IDAI, buku MPASI best seller dari salah satu dokter anak yang cukup terkenal, dan perlengkapan MPASI yang saya dapat dari kado.

Ternyata,

I am totally wrong.

MPASI berhasil membuat level stres dan depresi saya meningkat di beberapa minggu pertama. Bagi saya, MPASI itu too complicated. Di saat banyak ibu membuat jadwal menu MPASI dan food journal, saya tidak pernah membuatnya.  Saya ibu yang malas T.T.

Akhirnya, proses MPASI anak saya sangat berantakan. Sedih loh kalau inget masa-masa itu T.T. Perjalanan makan anak saya seperti roller coaster.

Minggu pertama yang, ya….gitu deh

Sebetulnya, saya sudah membaca beberapa panduan MPASI seperti jumlah kalori yang dibutuhkan, asupan gizi seimbang dan takarannya, dsb. Nah, entah kenapa saya merasa nge-blank. Informasi itu hilang tak berbekas, LoL

Saya memulai MPASI dengan memberikan bubur beras+ASIP selama seminggu. Di awal MPASI, semua berjalan lancar. Ketika mulai memasuki menu berbintang, drama pun dimulai. Saya akui, saya terlalu kaku dan gak kreatif. Bayangkan, menu MPASI yang saya berikan diolah dengan cara yang benar-benar sederhana. Semua menu berbintang itu saya kukus dan blender dengan perlengkapan steamer and blender kekinian. Hasilnya? Anak saya langsung mau muntah, hiks.

Segala teori makanan berbintang, no gulgar, not too much process gagal di minggu kedua. Sejak saat itu anak saya selalu menolak untuk disuapi, T.T. Saya langsung spaneng, bingung dan gak bisa berpikir.

Saat itu saya sama sekali tidak terpikir untuk membuat nasi tim, padahal punya slow cooker dan sudah membaca beberapa resep. Bubur instan? That was out of my list. Satu-satunya solusi yang ada di jangkauan saya hanya mengganti menu. Tapi, penolakan terus dilakukan. Drama merasa menjadi ibu yang gagal pun dimulai.

Beralih ke self feeding (a.k.a BLW)

Salah satu buku MPASI yang juga saya baca adalah Baby Led Weaning karya Gill Rapley, sebagai antisipasi jika anak saya tidak mau disuapi. Setelah mengalami drama makan selama sebulan, akhirnya saya memutuskan untuk menerapkan BLW sejak anak saya berumur 7 bulan.

Saya menyemangati diri sendiri untuk rajin memasak dan mengumpulkan resep menu BLW. Jujur, membuat menu BLW itu ribet dan harus kreatif agar asupan menu berbintang tetap terpenuhi. Alhamdulillah, anak saya memberikan respon yang baik. Setidaknya dia tidak menolak dan tidak muntah.

Beberapa minggu berjalan dengan baik meski saya ragu dengan asupan gizinya. Sedihnya, anak saya sering bosan dan menolak menu yang sama dalam sehari. Saya jadi kelimpungan menyiapkan menu harian yang berbeda.

Suatu ketika, anak saya mengalami batpil dan gak mau makan sama sekali. Drama pun kembali dimulai. Angka di timbangan tidak berpihak, grafik berat badan mulai menurun. Dokter menyarankan untuk memberi makan double protein di setiap waktu makan. Saya kembali spaneng membayangkan rumitnya menu BLW double protein yang harus dimasak. Dengan niatan tidak ingin membuat hidup semakin rumit, saya mencoba membuat bubur tim berbintang. Tapi, ditolak. Bahkan, menu baby food yang saya pesan lewat go food pun ditolak.

Beralih ke bubur instan

Di tengah kegalauan berat badan dan penolakan MPASI, ibu menyarankan untuk mencoba makanan instan. Akhirnya, di umur 8,5 bulan saya beralih ke makanan instan.

Surprisingly,

Anak saya doyan dong!

Saya pun berspekulasi bahwa selama ini yang bermasalah adalah “rasa” makanannya. Buktinya, anak saya lahap makan bubur instan. Sejak mengenal makanan instan, saya mengalami fase capek dan tidak berminat masak. Anak saya makan bubur instan setiap hari selama 2 bulan. Untungnya, berat badan kembali naik signifikan. I am happier than ever.

Masakan rumahan

Setelah merasa bosan dengan bubur instan, saya kembali aktif memasak MPASI. Ternyata anak saya ingin naik tekstur dan mulai makan nasi di umur 11 bulan. Saya memutuskan untuk menambahakn gula dan garam dan mencoba menu masakan rumahan. Dari mulai diblender, dicincang, dan disaring. Alhamdulillah, urusan makan semakin membaik, meski kadang diselingi mogok makan dan bosan dengan menu makanannya.

Semua berjalan lancar hingga,

Anak saya berumur 1 tahun.

*to be continue

Bagikan tulisan ini yuk

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *